
Pagi itu semua umat manusia menjalankan pekerjaan masing-masing sesuai rutinitas harian mereka. Tak terkecuali Shela, dia pagi-pagi sekali sudah keliling jalanan untuk mengantar pesanan kue. Tinggal kiriman terakhir, dari alamatnya dia merasa enggak asing.
Apa si To itu ngerjai aku? Yang benar saja, ini kan alamat rumah dia.
Memutuskan masa bodoh dan bersikap seprofesional mungkin, dia langsung melajukan motornya ke arah rumah Parto.
Bisa keGRan ntar makhluk absurd satu itu, kalau dia lihat aku pagi-pagi ke rumahnya. Lagian, sesuka itu apa ya dia sama aku? sampai repot-repot pesan kue ke ibu segala macem.
Serah kamu lah Shel.. Seraaah sebahagiamu aja mau mikir kek apa juga. Yang sebenarnya terjadi adalah, Indah yang memesan kue itu. Dia merasa antara Mbak-mbak pengantar kue itu dengan kakaknya pastilah ada hubungan, dan dia yakin hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena Indah hanya ingin membantu sebisanya agar Mas To nya enggak gabut lagi. Waah Indah ini adik yang baik sekali ya gaess?!.
Shela belum sampai di rumah Parto tapi, dia sudah dipertemukan dengan lelaki itu di jalan. Shela memicingkan matanya, berusaha memastikan lagi kalau yang dia lihat itu memang Parto. Pasalnya di depan sana terlihat Parto atau orang yang mirip Parto itu sedang memijit kaki perempuan di pinggir jalan. Hah? apa apa? Iya, emang seperti itu kenyataannya.
Shela menghentikan motornya tepat di samping Parto yang berjongkok untuk memijit kaki perempuan di pinggir jalan.
"Pacaran jangan di pinggir jalan! Bikin sepet mata orang aja!" Shela yang masih di atas motor langsung berucap dengan berapi-api. Dia emosi. Emosi karena apa? Emosi karena melihat Parto juga care sama cewek lain. Yang artinya Parto lakuin itu kepada semua wanita, bukan dengan dia saja dia perhatian. Seenggaknya itulah yang ada di dalam pikiran Shela saat ini.
"Astaghfirullah.. La, kamu muncul darimana? Kamu ini ngomong apa? siapa yang pacaran?" Parto berdiri berusaha menghampiri Shela. Gadis yang beberapa hari lalu telah menyerempet bibirnya tanpa sengaja.
"Lanjutin aja lanjutin apa mau aku gelarin kasur lantai di sini biar makin nyaman acara pijit memijitnya?" Shela meski salah dia enggak mau ngalah, apalagi saat dia merasa benar seperti ini.
__ADS_1
"Mbak ini tadi mau berangkat kerja La tapi terjatuh dari motornya, tu motornya juga ada di samping motormu! Pas aku lewat sini, belum ada satu orangpun yang nolong dia.. aku aja enggak kenal dia siapa! Jangan marah-marah makin cantik ntar, kamu mau tanggung jawab kalau aku naksir kamu gara-gara liat kamu yang makin hmm?" Shela menatap sinis ke arah perempuan yang juga memandang dirinya. Shela ini bukan tipe orang yang gampang percaya omongan orang lain. Harus ada bukti yang kongkrit untuk menyakinkan dia bahwa semua yang dikatakan Parto itu benar!
Tanpa peduli dengan omongan Parto, Shela lebih fokus ke arah perempuan yang sampai sekarang masih duduk memegang kaki kanannya.
"Kamu.. kamu kenapa bisa jatuh dari motor?" Tanya Shela melipat kedua tangannya di depan dada. Saat ini dia masih duduk manis di atas motor.
"Jalannya licin, aku bukan warga desa sini. Semalem aku nginep di rumah temenku.. aku enggak tahu kalau jalan di sini banyak lubang dan licin." Perempuan yang di tanyai Shela merasa sedang di interogasi.
"Kamu jatuh tapi kenapa motormu enggak ada yang lecet? baju sama celanamu juga enggak kotor! Kamu jatuh apa pura-pura terjatuh hah? Aku juga bukan warga sini tapi, aku punya mata yang aku pakai untuk melihat kondisi jalan di sini kek apa! Bangun kamu! Akting kamu enggak guna di depanku!"
Parto agak tercengang mendengar penuturan Shela yang terdengar seperti meragukan kalau perempuan yang dia tolong barusan beneran terjatuh dari motor. Iya, kenapa Parto enggak mikir sampai sana? Saat Parto perhatikan lagi memang benar, enggak ada tanda-tanda seperti dia habis terjatuh dari motor.
"Punya mulut dijaga, kalau ngomong jangan asal mangap!" ucap perempuan itu meradang.
"Hahaha akhirnya mau ngaku juga kalau jatuhmu dari motor itu cuma pura-pura! Heh, siapapun kamu.. kamu bisa bodohin orang bodoh macam Parto atau siapapun di desa ini ya.. tapi bukan aku! Enggak tahu malu, pagi-pagi minta pijit cowok di pinggir jalan! Enggak punya duit buat ke tukang pijit hah?" Shela enggak peduli dengan siapapun itu manusia di depannya, kalau saja yang tadi nolong perempuan ini bukan Parto dia juga pasti enggak se marah seperti sekarang.
Jadi, intinya Shela cemburu? Bukan cemburu dia hanya enggak suka perhatian Parto yang notabene sedang mendekati dirinya malah terbagi untuk wanita gaje di pinggir jalan seperti sekarang ini. Lha itu kan sama aja cemburu oee, piye to? Ya wes anggep aja gitu!
"La.. kamu ini masa ngatain aku bodoh, enggak sopan lho itu," Parto berusaha melerai keributan yang akan memuncak sebentar lagi jika salah satu dari mereka tidak ada yang pergi dari sana.
__ADS_1
"Terus aku harus sebut kamu apa? Lain kali gunain logika kamu sebelum ngelus-ngelus cewek di jalan! Kamu sama aja kayak cowok lain, lihat kambing pakai daster aja udah jingkrak-jingkrak!"
"Heh! Sopan ya kalau ngomong, kamu ngatain aku kambing? Kalau enggak tahu apa-apa itu jangan asal njeplak (mangap)!"
"Aku harus sopan sama orang macam kamu? Nyebur jurang sana! Biar otakmu balik ke tempatnya! Cewek enggak tahu malu!" Shela mau ngalah? oowh tentu tidak. Sekarang malah Parto yang kebingungan gimana caranya misahin pertengkaran antara kedua perempuan ini.
"To.. kamu tadi bilang dia habis jatuh dari motor? Waktu kamu lihat dia pertama kali di sini, dia pas jatuh atau udah ngesot-ngesot di jalan?" Tanya Shela sambil melihat ke arah Parto.
"Ya udah duduk di tanah, aku enggak lihat sendiri dia jatuh dari motornya.." tukas Parto.
"Berarti enggak salah kalau aku bilang kamu juga sama gobloknya kek cewek ini! Orang lagi cosplay jadi suster ngesot malah kamu pijitin! Kamu kurang kerjaan apa gimana hah?" Sekarang giliran Parto yang kena amukan Shela.
"Asal kamu tahu ya, kamu.. hmm aku panggil kamu apa ya? kang ngesot aja! Asal kamu tahu ya kang ngesot, carilah kegiatan yang bermanfaat.. gabut boleh tapi ya jangan mempermalukan diri sendiri! Mendingan kalau emang enggak punya kerjaan sama sekali bantuin tu Parto cari rumput! Biar lebih berfaedah hidupmu!" Ucap Shela yang hendak menghidupkan motornya.
"Cewek gila, aku punya nama! jangan sembarangan kamu ngasih sebutan ke aku..! Namaku Meisya, ingat itu baik-baik!"
Hah? siapa?
"Masa bodoh! Siapapun namamu, aku enggak peduli! To, ini kue pesenan kamu aku kasih di sini aja!" Ucap Shela yang menyerahkan bungkusan plastik berisi kue di dalamnya. Belum juga Parto menerima kue itu, Meisya malah merebutnya dan melempar kue buatan ibunya ke sembarang arah.
__ADS_1
Shela dan Parto kaget melihat perbuatan Meisya, terlebih Shela. Matanya memerah, seakan mau mengeluarkan pancaran hyper untuk meluluhkan lantakan apapun di depannya!