
Seno dan Beni saat ini ada di rumah Parto. Rumah yang sekarang ramai oleh tetangga dan sanak saudara. Malam ini adalah malam terakhir Parto berstatus bujang. Karena besok, dia akan mengucapkan kalimat sakral untuk menjadikan Shela miliknya seutuhnya. Mendahului kedua temannya yang makin iri dengan kisah cintanya.
"Kan kampret banget.. aku dulu mikir Parto bakal jadi orang terakhir yang nikah setelah kita lho Sen." Beni melipat kemejanya ke batas siku.
"Nah iya.. pacar enggak punya, idup flat-flat aja, kok sekarang malah bisa ngeduluin kita kek gini!" Seno ikut bahagia bercampur kesal juga. Kesal kenapa enggak dia yang jadi orang pertama nikah daripada mereka bertiga.
"Kamu sih mending Sen.. calon jelas, udah punya pandangan menuju sana. Lha aku? Seriusan aku kok berasa pengen protes sama yang nulis cerita hidupku ya! Dulu stok cewekku berjejer, dari Senin nyampe Minggu enggak pernah absen pacaran. Dari desa kita nyampe desa sebelah enggak ada yang bisa nolak pesonaku! Lha sekarang? Nyari cewek buat di seriusin aja sudah banget!" Parto dan Seno ngakak mendengar curhatan Beni.
"Lha itu Mela masih ada. Dia kan digugat cerai si keriting Ben. Enggak minat apa kamu jadi suami keduanya?"
"Buat kamu aja! Aku sih emoh!" Beni malas jika udah bahas tentang Mela. Apalagi setelah kejadian Mela nekat ke rumahnya, nangis minta Beni memaafkannya. Tapi, ujung-ujungnya wanita beranak satu itu ngajak Beni balikan. Ya, tentu saja Beni menolaknya. Bukan karena status Mela yang membuat dia enggak mau berhubungan lagi dengannya, tapi rasa untuk Mela memang sudah hilang tak bersisa.
"Ya kalau enggak mau sama Mela, sama Virza aja! Lebih menantang buat ditaklukkan!" Seno memberi pilihan kepada temannya itu agar enggak mumet mikirin jodohnya.
"Aku aja ngaku udah punya istri! Enggak ada harapan buat menjalin hubungan sama dia!" Seno makin ngakak.
"Kamu ini Sen nawarin cewek ke Beni udah kayak muci_kari aja! Daripada pusing-pusing cari ke sana-kemari lha itu ada Indah Ben." Parto menunjuk Indah yang sedang ngobrol dengan teman-temannya.
"Nah cocok brother! Tadinya aku juga mau bilang gitu tapi enggak enak sama mahkluk satu ini hahaha!" Beni akhirnya bisa tertawa juga.
"Heeeeeh enggak-enggak! Apa sih? Aku masih idup kok seenaknya mau nyerobot Indah!" Beni tersenyum jahil melihat Seno kebakaran jenggot.
"Nunggu kamu dijemput malaikat Izrail mah enggak ada tantangannya Sen. Justru aku pengen tahu sensasinya bersaing sama temen sendiri, kira-kira nanti endingnya Indah pilih siapa ya? Kamu apa aku?" Beni berbangga diri.
"Minta diracikin syanida campur pembersih lantai kamu ya? Sekate-kate kalau ngomong! Besok mau ijab juga lah, barengan sama Parto! Biar Indah enggak ada dilirik manusia-manusia minus ukhluk kayak kamu!" Seno memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
"Dasar enggak modal! Mau ijab aja nebeng!" Perkataan Parto membuat Beni tertawa ngakak.
Parto menarik nafas dalam, sebenarnya dia sangat gugup.. debaran jantungnya tak teratur. Untung saja ada kedua temannya ini yang bisa membuat dirinya sedikit santuy. Iya, untuk saat ini dia bisa santai.. entah untuk besok.
"To untuk malam pertama kamu udah ada persiapan apa?" Beni membuka pembahasan baru. Memancing Seno bertraveling ke arah yang tidak seharusnya.
"Apa?" Tanya Parto pura-pura enggak denger. Aslinya dia enggan bahas hal satu itu. Membuat dirinya makin berdebar tak karuan.
"Besok lho kamu mau MP pake gaya apa?" Seno terang-terangan menanyakan hal itu kepada Parto.
"Gaya batu. Pasrah dengan keadaan aja To! Hahaha" Makin ngawur aja dua lelaki yang katanya teman Parto itu.
"Mana seru Ben, untuk orang berpengalaman macam Suhu Parto ini, yang udah khatam semua jurus Mbah Sugi harusnya bisa hot saat prakteknya nanti! Secara untuk teori kan dia udah belajar dari akhil baligh." Seno sok yes.
"Kenapa To? Lagi bayangin ya?" Beni ikut menggoda Parto.
"Ngapain bayangin.. bikin tegak enggak terkontrol, aku lebih suka membuktikan diri aja besok." Parto berbangga diri.
"Jangan lupa share pidionya ya.. aku tunggu di wa ku hahaha" Kata Beni membuat Seno ikut ngakak
"Setan!" Umpat Parto.
Indah menghampiri ketiga lelaki yang salah satunya adalah pacarnya itu.
"Sini Ndah.. duduk deket mas Ben!" Ajak Beni mengulurkan tangan untuk Indah. Indah hanya tersenyum aja, memilih duduk di samping kakaknya.
__ADS_1
"Lah, kacang mana kacang!" Seno tertawa melihat Beni dicuekin pacarnya.
"Mas.. mau tanya deh, nanti kalau udah nikah sama mbak Shela mau di sini, di rumah mbak La, apa di rumahmu?" Indah menggulung rambutnya manja.
"Kenapa?" Parto mengamati adiknya yang kelihatan aneh dengan pertanyaannya itu.
"Nanti kalau tinggal di rumah mbak La apa di rumahmu dewe (sendiri) sering-sering main ke sini ya..." Parto mencerna arah pembicaraan Indah. Pacaran dengan Shela membuat kepekaannya terlatih.
"Sini.." Parto menarik kepala Indah ke dekapannya, membuat Indah langsung terisak. Adiknya itu memang sangat cengeng. Hal kecil aja bisa membuat adiknya itu menangis. Contoh kecil saat menonton program di televisi yang menceritakan kisah pilu kehidupan orang-orang yang kurang beruntung, Indah bisa menghabiskan satu pack tisu untuk menghapus air matanya.
Seno dan Beni awalnya enggak ngerti kenapa Indah menangis tapi, akhirnya mereka paham. Indah merasa akan kehilangan sosok kakak yang selama ini selalu ada untuknya. Selalu menjadikan dia nomer satu, selalu memanjakan dia dengan cara Parto sendiri. Bukan dengan memberikan uang atau bermewah-mewahan, karena mereka juga dari keluarga sederhana. Tapi, perhatian Parto yang selalu mengutamakan Indah pasti akan berkurang dan jarang dia rasakan lagi setelah kakaknya nanti menikah.
"Jangan nangis.. kamu enggak malu nangis kayak bocah gini di depan pacarmu?" Parto mengusap pelan rambut adiknya.
"Anggap aja Seno patung gapura Ndah, enggak apa-apa... kalau sedih ya nangis aja. Kalau dada Parto belum cukup buatmu bersandar, ada dada mas Beni yang siap jadi cadangannya!" Beni selalu bisa bikin suasana mencair.
"Kamu ini makin lama kok makin nyebelin Ben, To.. belakang rumahmu masih ada sumur kan?" Tanya Seno sewot.
"Huum.." Ucap Parto singkat. Lebih fokus ke adiknya yang masih terisak di pelukan kakaknya. Entah apa yang Indah pikirkan sampai sesedih itu.
"Mau cebok Sen kok tanya sumur segala?" Beni tersenyum jahil.
"Mau nyeburin kamu ke sana! Biar enggak makin ngawur kalau ngomong!" Seno melipat tangannya kesal.
Beni sih enjoy aja.. Dia emang hobi bikin Seno tensinya naik. Enggak ada kerjaan yang lebih membahagiakan hatinya selain ngerjain temennya yang bucin akut itu.
__ADS_1