
Ternyata pak Setiawan adalah orang dengan muka lapis beton yang sangat tebal. Entah hilang kemana semua rasa malunya, mungkin sudah dia gadaikan untuk menebus obat-obatannya selama ini. Terbukti, meski sudah memiliki fisik yang tidak lagi sehat, tapi dia tetap suka memprovokasi orang.
"Shela.. kamu lihat apa yang pakdhemu lakukan ini,"
" Tadi aku khilaf kang, La.. nduk apa kamu tega lihat ayah seperti ini? Maafkan ayah nduk.. ayah khilaf, ayah tidak akan setega itu membuat kamu gagal menikah.. kamu percaya sama ayah kan nduk,"
Mencoba bangkit dari tempatnya jatuh karena tendangan pakdhe, pak Setiawan berusaha meraih kursi rodanya kembali. Ternyata dia masih bisa jalan, bukan lumpuh seperti yang di kira sejak awal. Lalu pak Setiawan sakit apa? Nanti coba tanya sendiri aja ya!
"Percaya? Kepercayaan itu sudah menguap lama.. sangat lama, semenjak anda mengkhianati ibu ku. Membuat hidup kami menderita, dan parahnya tanpa rasa bersalah anda datang untuk mengusir aku dan ibuku dari rumah ini, apa anda lupa tentang hal itu? Setelah bertahun-tahun kami mencoba bangkit dari keterpurukan yang anda buat, merangkak naik dari lubang dalam yang anda gali untuk kami.. sekarang anda datang lagi, mau apa? ingin dirawat? merangkulku dan rasa iba ibuku demi mendapatkan kesembuhan penyakit yang anda derita?" Kalimat panjang Shela membuat orang-orang di sana terdiam. Tapi, tidak dengan pak Setiawan, orang tua itu masih bisa banyak bicara untuk menjawab argumen putrinya.
"Shela.. bagaimanapun juga kamu adalah anakku, saat menikah nanti apa kamu tidak ingin mendapatkan ijin dan restuku?" Seperti tidak belajar dari tendangan halilintar yang pakdhe tadi berikan untuknya, pak Setiawan yang amat sangat tidak setia ini tetap saja mencoba mengancam Shela.
"Ijin? Restu? Hahahaha.. lucu sekali anda ini, sekarang aku tanya kepada anda! Apa dulu waktu anda berselingkuh dan memutuskan menikah dengan selingkuhan anda, anda minta ijin dulu kepada ibuku? Minta restu untuk berselingkuh? Maaf sekali, tanpa ijin atau restu dari anda, aku akan tetap menikah."
Pak Setiawan menunduk malu, dia seperti melempar kotoran ke mukanya sendiri. Niat hati ingin membuat Shela bisa menerimanya, yang terjadi malah sebaliknya. Dia tidak tahu jika selama kepergiannya, Shela telah menggembleng mentalnya dengan berbagai sifat buruk para tetangga dan teman-teman dulu. Tidak sulit bagi Shela membuat pak Setiawan jadi malu semalu-malunya.
__ADS_1
Pakdhe yang sedari tadi sudah geram karena kedatangan pak Setiawan, berjalan merangsek mendekati kursi roda yang pak Setiawan gunakan untuk duduk, ditariknya keluar rumah. Meski sudah dicegah tapi kekuatan fisik pakdhe masih mampu membuat pak Setiawan terpelanting kembali dari kursi rodanya.
"Udah.. uwes kang uwes ya Allah, ini kalau dilanjutin bisa mati beneran nanti orang ini kang."
Bu Kumala meminta beberapa tetangga untuk mengungsikan pak Setiawan dulu ke mushola dekat rumah mereka, karena jika terus berada di sana tak hanya kakaknya yang mungkin benar-benar melakukan tindakan nekat tapi, juga putrinya.. Shela bukanlah seseorang yang bisa diajak bermain-main dengan perasaan. Dendam untuk ayahnya sudah sangat lama dia pendam. Bu Kumala tahu, jika mereka berada dalam satu rumah, belum ada hitungan menit pasti akan ada keributan besar.
"Ben.. ini kok aku kayak lihat sinetron azab di dunia nyata ya, aku kok merinding Ben," Celoteh Seno kepada Beni, dia berbisik saat mengatakan hal itu.
"Kamu bisa diem apa enggak Sen, ketauan sekarang selain kisah kakek Sugi dan para cucunya kamu juga hobi nonton sinetron azab illahi!" kampret kan mereka, di tengah suasana yang udah enggak enak itu, masih bisa bahas hal yang tak penting sama sekali.
"La.. aku mau ngomong sama kamu, bisa?" Parto memandang wajah Shela yang masih merah padam menahan emosi.
"To, aku, sama dek Indah pulang dulu ya. Beni mau bantu nyapu halaman keknya, jadi aku tinggal di sini aja." Seno berpamitan kepada ibunda Shela dan beberapa orang yang masih ada di sana, meluncur dengan motornya bersama Indah yang dia bonceng manjah!
"Ancen ra genep ke wong! (Emang enggak genap itu orang)" Melihat motor Seno yang makin menjauh.
__ADS_1
"To, La.. aku juga mau pulang ya. Jangan rindu, serahkan semua rindu pada Dilan aja. Biar dia bungkuk manggul seluruh rindu kita hehehe!" Ngatain Seno enggak genep dia sendiri enggak jelas. Hmmmm.
Setelah ruang tamu kembali sepi, meski beberapa orang masih berseliweran entah untuk apa, Parto mengajak Shela ke teras.
"La.. aku sayang kamu!" Ucap Parto yang langsung membuat Shela menoleh ke arahnya.
"Mau ngomong itu aja?" Shela masih kesal sebenarnya, tapi dia mencoba menetralkan suasana hati saat ini.
"La.." Parto enggak tahu, rasa canggung membuat lidahnya kelu.
"Kamu mau ngomong apa?" Juteknya mulai on.
Tanpa memperdulikan jika nanti ada orang yang melihat atau, Shela yang akan mendorongnya hingga terjengkang, Parto berdiri dari tempatnya duduk dan memeluk Shela. Membelai rambut panjang hitam gadisnya, memberi rasa tenang dan nyaman yang dia harap akan tersalurkan oleh pelukan yang Parto berikan saat ini untuk Shela.
Posisi Shela yang duduk tidak membalas dekapan Parto, dia malah menangis. Ya, Shela menangis dengan menyembunyikan wajahnya di perut Parto. Bisa bayangin kan gaess? Kalau enggak bisa monggo praktek dengan pasangan masing-masing. Bagi yang jomblo ya praktek sama guling aja. Hahaha.
__ADS_1
Sudah mencoba tegar, sudah mencoba membendung air mata, sudah menahan sesak di dada.. tapi pelukan Parto membuat Shela menumpahkan perasaannya.
"Aku di sini La.. aku akan terus ada buat kamu" Ucap Parto pelan namun masih bisa didengar oleh Shela.