Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Haruskah Mundur Teratur?


__ADS_3

"Mas Seno tahu enggak, besok aku disuruh datang ke PT mas. Mau interview dong.." Dengan mata berbinar Indah menjelaskan kepada Seno dengan mendongakan kepalanya.


"Alhamdulillah dek,, selamat ya. Moga diterima. Besok berangkat bareng aku ya!"


Seno masih diselubungi perasaan cemburu yang mendalam. Apalagi Bayu sang rival, sedikitpun enggak ada niatan meninggalkan kebersamaan mereka di tempat fotocopy.


Indah yang telah bersama dengan Seno seakan lupa bahwa di sana ada manusia lain yang ikut menghirup oksigen, berbagi napas di ruangan itu.


Tentu Seno senang karena pacarnya hanya fokus kepada dirinya dan keberadaannya. Seakan mengejek, Seno melemparkan sedikit senyum kepada Bayu.


"Ndah.. emang kamu mau kerja di mana?" Tanya Bayu yang tidak terima dirinya jadi kacang di sana.


Indah memandang Bayu, dia baru menyadari kalau Bayu masih ada di sana. Eladalah, emang ya orang kalau udah bucin.. pas jalan, di depannya ada orang juga dianggap mahkluk tak kasat mata. Ya, contohnya sekarang. Bayu jadi tak terlihat di mata Indah.


"Eh mas Bayu masih di sini, aku mau kerja di tempat mas Seno sekarang kerja. Aku udah lama ngincer pengen kerja di sana." Dengan antusias Indah menjelaskan keinginannya.


"Di PT? jadi buruh pabrik? kerjaan kayak gitu kok nyampe bikin kamu sesenang ini, emang gajinya berapa?"


Mendengar penuturan Bayu membuat Seno mengepalkan tangannya. Tak kalah terkejut, Indah enggak nyangka Bayu yang dia kenal arif dan bijak saat berucap bisa berkata demikian.


"Kok mas Bayu kayak merendahkan pekerjaan buruh pabrik? Enggak semua orang bisa kerja di sana, banyak yang ingin namanya masuk jadi daftar karyawan sana tapi enggak semua orang bisa dapet kesempatan itu. Gajinya kan UMR, emang mas Bayu enggak tahu UMR di daerah sini?"


Indah sedikit memanyunkan bibirnya. Jelas dia merasa kesal saat ini. Pekerjaan menjadi buruh pabrik apanya yang salah cuba? Menjengkelkan sekali Bayu ini.


Seno yang sejak awal emang enggak suka sama Bayu, dibuat makin muak dengan perkataannya barusan.


"Bukan gitu Ndah.. kamu kan masih muda. Apa enggak sayang kalau harus bekerja keras di usia mu yang sekarang ini. Mending kamu nerusin kuliah, kalau pendidikanmu tinggi kan bisa ngelamar kerja di mana aja sesuai keinginanmu. Kalau mau kerja di pabrik juga seenggaknya kamu bisa ditempatkan di bagian office. Bukan bagian produksi."

__ADS_1


Merasa udah memberikan penjelasan yang masuk akal, Bayu sedikit menyunggingkan senyum.


"Gini ya mas Bayu, dari awal aku emang enggak ada niatan buat lanjutin pendidikan di bangku kuliah. Aku bukan kamu mas, yang semua kebutuhanmu bisa tercukupi saat jarimu nunjuk ini dan itu. Di tempatkan di mana aja nantinya aku saat bekerja, aku udah seneng banget. Yang penting diterima. Itu dulu."


Tak terima dengan sanggahan Indah. Bayu kembali berkokok ria.


"Kenapa kamu bedain aku sama kamu Ndah? Kalau soal materi, biaya, kamu bisa kuliah sambil kerja. Banyak temenku di kampus yang kuliah juga nyambi kerja. Enggak ada hal yang enggak mungkin kalau kita berusaha Ndah."


"Nah.. bener itu mas Bayu, enggak ada yang enggak mungkin kalau kita berusaha! Contohnya sekarang, aku lagi berusaha dapetin kerjaan di tempat yang aku idam-idamkan. Alhamdulillah banget, dari ratusan orang pelamar di sana, aku termasuk lima diantara yang terpilih untuk ikut interview besok!"


Dengan semangat menyala-nyala, Indah berusaha memberi penjelasan kepada Bayu kalau dirinya lebih suka bekerja untuk saat ini. Pendidikan emang penting. Sangat penting. Tapi, Indah enggak mau ninggalin orang tuanya saat dia harus meneruskan kuliah di kota. Indah terbiasa dimanja oleh kakak dan orang tuanya. Apalagi sekarang ditambah Seno yang sangat memujanya. Membuat dia makin enggan untuk keluar dari zona nyaman.


"Tapi kan Ndah-.."


"Bro.. gini bro, yang kamu ajak ngobrol dari tadi itu pacarku, calon istriku! Dia udah mutusin buat kerja, kenapa enggak dukung dan hargai keputusan dia? kamu temannya kan? Dan kalau nanti dia ingin kuliah lagi, enggak usah kamu yang mikirin. Ada aku bro! Aku yang bakal penuhi inginnya dia, kebutuhan dia!"


"Ndah.. aku duluan ya, kamu baik-baik ya. Semoga kamu selalu bahagia saat kita bertemu lagi nanti." Mengulurkan tangan berniat untuk berjabat tangan, tapi Seno tak mengijinkan tangan Indah menyentuh cowok bernama Bayu itu.


Seno yang menggantikan Indah untuk berjabat tangan dengan Bayu. Dengan muka datar tanpa ekspresi, Seno berucap..


"Tenang aja bro, selama Indah bersama dengan ku, aku pastiin kebahagiaan selalu memenuhi hari dan hatinya."


Bayu melenggang pergi. Dia memilih meninggalkan tempat fotocopy itu karena atmosfer yang dia rasa udah enggak senyaman tadi sebelum Seno datang dan merecoki kedekatannya dengan Indah.


Sedang Indah, dia hanya tersenyum saat tahu kalau pacarnya itu ternyata sedang cemburu.


"Apa dek?" Tanya Seno yang curiga dengan eseman Indah.

__ADS_1


"Mas Seno lucu," Indah tersenyum sambil memiringkan kepalanya. Seno mengacak rambut Indah pelan. Membuat si pemilik rambut makin melebarkan senyumannya.


"Jangan deket-deket sama dia dek, ngap aku liatnya. Kamu paling bisa bikin moodku yang tadinya ada di puncak Jayawijaya anjlok ke dasar sumur Lubang Buaya."


Menarik Indah lebih mendekat Seno mencium pucuk kepala Indah. Membuat Indah salah tingkah.


"Ehem,,, mbak ini udah semua fotocopy nya."


Mereka dikejutkan dengan suara pemilik tempat fotocopy, Indah tertunduk malu. Sedang Seno, langsung membayar total copy'an dan mengajak Indahnya meninggalkan tempat itu.


Mereka memutuskan untuk pulang, Indah pulang ke rumahnya, dan Seno mengantar Indah sampai sana.


Tiba di rumah, Indah menghampiri bapaknya yang terlihat sibuk dengan ayam-ayamannya.


"Assalamualaikum pak,," Indah mencium tangan bapaknya. Begitupun dengan Seno.


"Waalaikumsalam, seko ndi nduk? (dari mana Nduk?)


Indah mengikuti bapak yang duduk kursi panjang di bawah pohon talok samping kandang ayam. Kursi itu hasil kreasi Parto saat dia enggak ada kerjaan, dan sekarang tempat itu menjadi tempat favorit bapak. Setiap kali habis mencari rumput, atau ingin sekedar bersantai, beliau akan duduk di kursi panjang itu.


"Abis fotocopy pak, pak doain aku besok lancar interview njih pak." Kembali Indah berbinar saat menceritakan dirinya mendapat panggilan interview di PT tempat Seno bekerja.


Bapak mengangguk, melihat kegembiraan di wajah anak bungsunya membuat bapak ikut senang. Pandangan bapak teralih kepada Seno, yang sedari tadi diam saja. Malah masih berdiri di samping Indah.


"Sen, kamu kok punya hobi baru jadi patung. Sini duduk. Udah biasa di sini kok ya ewah-ewuh (sungkan)."


Mendengar kalimat bapak, membuat Indah tertawa. Dia baru sadar kalau cowoknya masih berdiri tegak seperti tiang bendera di dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2