
Indah membaca pesan singkat dari seseorang di hpnya. Senyum langsung terkembang dari wajahnya yang manis. Senang? sudah pasti. Indah segera mengambil kontak motor dan helm yang ada di kamarnya.
"Mak.. Aku tak dolan (main) mau ketemu temenku dulu ya," Pamit Indah kepada Emaknya yang sedang menjemur pakaian di teras rumah. Dia menghampiri Emak sambil mencium tangan ibunya.
"Arep neng ndi kowe Ndah.. uwes arep sore lho iki (Mau kemana kamu Ndah.. udah mau sore lho ini)"
Indah tersenyum sambil nangkring di atas motornya.
"Mau ketemu koncoku (temenku) Mak.. bentar tok kok, nanti sebelum maghrib aku dak yo udah sampe rumah,"
"Ya udah.. hati-hati yo, eling nek ngesen kanan yo belok kanan dudu ngiri, (inget kalo nyalain lampu sen motor kanan ya belok kanan jangan ke kiri)"
Indah tertawa mendengar pesan emaknya. Ya karena memang ada kejadian lucu tapi ngeselin, lebih banyak ngeselinnya sih daripada lucunya tentang sein atau ritting motor.
Waktu itu Indah dan Emaknya pulang dari pasar. Melajukan motor matic dengan kecepatan sedang dan santai. Dari arah belakang ada motor yang di kendarai ibu-ibu menyalipnya, membawa setumpuk pakan kambing di jok belakang. Dan lampu sein motor itu terus-menerus menyala kesisi kanan jalan.
Belokan pertama memang ibu tersebut benar mengarahkan motornya ke arah kanan, tapi setelahnya lampu sein itupun tetap menyala ke arah kanan. Meski arah yang di ambil si pemilik motor dengan seabrek beban rumput pakan kambing itu melaju ke arah kiri, lampu sein tetap saja berada di arah kanan.
"Ndah.. motornya orang itu kok lampunya nganan terus ya, abis ini kita belok kiri lho.. dia mau nganan terus apa gimana?"
"Huum Mak.. piye kui ra cetho blas (gimana itu enggak jelas banget)"
Saat motor di depannya melambat, Indah berniat menyalipnya. Karena melihat di depannya ada dua belokan dan ibu tadi terus-terusan ritting ke arah kanan. Indah mengira si ibu itu akan berbelok ke kiri sama seperti dirinya. Karena sedari tadi kemanapun arahnya entah kanan atau kiri lampu sein si ibu itu tetap berkedip ke arah kanan. Tetapi ternyata ibu-ibu tangguh pejuang kemakmuran hewan ternak itu memilih belok ke kanan, terjadilah senggolan antara kedua motor yang di kendarai Indah dan Ibu pejuang pakan kambing itu.
"Astaghfirullah.. Ya Allah Ndah.." Spontan Emak berteriak karena kaget.
"Mbak ealah Mbak.. punya mata di pake Mbak, kebangetan sampeyan iki!" Ibu yang kena seruduk motor Indah pun ngamuk. Lha iya ngamuk, dia lagi asyik jalan santuy sambil 'nganan' terus malah di tubruk dari samping kok.
Emang luka? enggak.. cuma ya namanya emak-emak pasti tingkat emosinya tinggi. Cepat tersulut emosi saat kena senggolan sedikit. Apalagi di tambah badan capek sehabis mencari rumput, malah kena serangan mendadak dari Indah.
__ADS_1
"Sepurone Budhe.. Aduuh ini Indah bawa motornya kok kayak gitu to Nduk, ayo bantuin Budhe ini dulu minggirin motornya." Kata Emak, karena ibu itu lebih memilih merapikan rumputnya yang sudah susah payah di cari untuk hewan kesayangan di rumah, daripada meminggirkan motornya.
"Budhe juga salah kok lampu sein nyala nganan terus, mana aku tahu kalo beloknya berenan ke kanan.." Membela diri itu yang Indah lakukan.
"Heeh kowe wes salah kok ngeyelan.. Arep Reti ora ngopo sen ku tak gawe tengenke wae? Yo mben oda ngiwo, 'ngiri'.. kui oda apik! mulo motorku tak kulinakke nganan wae, mben gampang aturane." (Heeh kamu udah salah kok ngotot.. Mau tau enggak kenapa lampu sein ku tak buat kanan terus? Ya biar enggak ke kiri, ngiri .. itu enggak baik! makanya motorku tak biasain ke kanan aja, biar mudah di atur.)
Antara bingung dan kesal.. Indah cuma melongo saat si ibu itu menuturkan alasan kenapa dia selalu memilih selalu menyalakan lampu seinnya ke arah kanan.
Sejak saat itu setiap mau pergi dengan membawa motor sendiri, Indah selalu di ingatkan Emaknya agar tidak salah tekan arah lampu sein. Bisa bikin orang lain dan diri sendiri celaka.
Indah sampai di depan warung bakso. Sesampainya di sana dia mengeluarkan hpnya, mengetikan sesuatu dan di kirim kepada orang yang ingin dia temui.
Mendapat balasan, Indah segera melangkah masuk ke warung bakso tersebut.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, maaf ya aku minta kamu kesini Ndah,"
"Enggak apa-apa kok, kenapa musti minta maaf.." Indah duduk di dekat temannya itu.
"Tadi udah ijin orangtua kamu kan kalau mau kesini? Aku takut mereka khawatir bidadari mereka lepas sore-sore gini,"
Indah tersenyum mendengar perkataan orang yang mengajaknya ketemuan. Sepertinya Indah melting dengan ucapan orang itu.
"Ndah.. kamu mau pesen apa? Aku belum mesenin makanan buat kamu, karena aku enggak tahu kamu mau pesen bakso atau mi ayam, atau malah keduanya.."
"Di kira aku semaruk itu apa kok pesen keduanya, aku mau mi ayam aja ya.."
"Ternyata selera kita sama Ndah, aku juga suka mi ayam.. tapi sebenarnya aku lebih suka sama kamu,"
__ADS_1
Indah tertawa mendengar gombalan receh orang di sampingnya.
Tanpa Indah sadari ada sepasang mata yang memperhatikan semua tingkah lakunya di warung bakso itu. Orang itu mengeluarkan hpnya.. melakukan panggilan telepon kepada Indah.
"Siapa yang telepon Ndah..?" Tanya orang itu.
"Temene Masku ini.. Sik ya aku angkat telepon dulu," Orang yang Indah temui hanya tersenyum mengangguk, melihat Indah menerima panggilan telepon dari Seno.
Ya, Seno yang melihat betapa sumpringahnya (bahagianya) Indah dengan lelaki yang enggak Seno kenal di warung bakso. Melihat Indah tersenyum dan tertawa tapi bukan karena dia itu ngilu banget rasanya. Ingin sekali Seno kesana dan mengajak Indah pulang, tapi alasannya apa?
Seno melakukan panggilan telepon tadinya berniat ingin menanyakan dimana Indah sekarang, cuma ingin tahu Indah akan berbohong atau tidak kepadanya. Tapi, dia urungkan niatnya itu. Setelah panggilan dari Seno di terima Indah, Seno malah mematikan teleponnya.
Apa hakku melarangnya bahagia, Ah baru lihat dia sama orang lain aja rasanya adem panas gini.
"Lho kok di matiin, piye to Mas Seno iki.."
Indah mengirim sebuah pesan ke nomer Seno. Seno hanya membacanya tanpa dia balas.
"Lah.. di read tok," Beberapa saat Indah terus menatap layar hapenya. Berharap ada balasan dari Seno. Tapi hpnya tidak menunjukkan ada notifikasi apapun.
"Kamu lagi sama aku kok fokusmu sama yang lain to Ndah," Ucap lelaki itu.
Indah sedikit cemberut saat dia tahu kalau Seno beneran enggak membalas pesan singkatnya.
"Maaf ya Mas Bayu, aku kok jadi kepikiran sama seseorang.." Indah sedikit tersenyum tapi terlihat senyum itu di paksain.
"Kita makan dulu aja, abis itu aku antar kamu pulang ya Ndah.. Maaf kalau ajakanku bertemu kamu disini malah bikin kamu enggak nyaman. Aku cuma kangen kamu Ndah.." Bayu yang melihat perubahan sikap Indah setelah menerima telepon itu jadi enggak enak hati.
Ndah.. apa udah ada nama orang lain di hatimu saat ini? apa aku terlalu lama memendam perasaan ini ke kamu?
__ADS_1
Indah enggak mengucapkan apapun. Dia diam, tanpa membalas ucapan Bayu.