
Indah hanya berdiri di samping kursi tempat kakaknya duduk. Seno yang melihat hal itu kemudian mengambil inisiatif untuk memulai obrolan.
"Ndah kok enggak duduk kenapa? Apa mau tak pangku? Sini Ndah aku ikhlas lahir batin kalau Indah duduk di pangkuanku"
Parto yang melihat cara Seno mendekati adiknya hanya diam. Dia tetap anteng sambil menikmati martabak telur, mungkin dia merasa sedang melihat drama di real life.
"Mas Seno tu lucu banget ya, pantesnya jadi pelawak Mas. Bisa menghibur semua orang" Ucap Indah dan memutuskan untuk duduk di dekat kakaknya.
"Jadi apapun aku bisa Ndah tapi, lebih pantes jadi teman hidupmu. Kalau pelawak sebenarnya kakakmu itu yang lebih cocok, mukanya aja sudah mirip badut squid game. Enggak ngapa-ngapain udah bikin orang ketawa dia Ndah"
"Sen, jangan mentang-mentang dari tadi aku diem terus kamu se enaknya asal gambleh ya" Parto akhirnya buka suara karena di rasa Seno udah mulai terang-terangan melakukan pendekatan kepada Indah.
"Lho To, sepurane aku kok enggak lihat ada kamu. Tenan lho, fokusku cuma sama Indah aja. Tak kirain kamu ngilang kemana tadi To"
"Heh upil dinosaurus, kamu kira aku demit apa? Segede gini enggak nampak, ancen katarak bocah iki"
"Kamu tau To saat lelaki dan perempuan ada di satu ruangan yang ketiga adalah setan. Ya wajar kalau kamu enggak nampak, lha wong dari tadi kamu lagi cosplay jadi setan kok"
Ucapan Seno langsung mendapat lemparan sepotong martabak dari Parto. Indah tertawa melihat kocaknya Seno dan Parto. Baginya ini adalah hiburan gratis.
"To, ini makanan jangan di lempar-lempar. Dosa kamu, menyia-nyiakan nikmat yang Allah SWT beri. Enggak bersyukur To kamu"
"Masya Allah.. mendadak auramu berubah kek Mamah Dedeh ya Sen. Curhat dong Maah.."
"Mau curhat apa sayang sini dekat Mamah sini, tak kasih apotas biar seluruh beban hidupmu sirna seketika"
Indah yang nyimak terus saja tertawa melihat kekonyolan Seno dan kakaknya.
"Dari Mamah Dedeh berubah ke Mamah tiri kamu Sen, ternyata secepat itu kamu melupakan mamah-mamah yang lain"
"To, tolong sopan sedikit. Ngomong ya ngomong tapi enggak pake muncrat ke segala arah gini, bisa rabies ini aku kena air jigongmu"
Seno melihat ke arah Indah, saat itu pandangan mata mereka bertemu. Indah hanya tersenyum, dan Seno juga membalas senyum Indah dengan senyuman termanis yang dia punya.
"Ndah kamu kalau senyum kok bikin atiku ayem (damai) ya, badanku jadi adem panas rasanya" Ucap Seno.
__ADS_1
"Penyakitan itu namanya Sen, udah kamu cek ke klinik belum? Siapa tau beneran kena rabies kamu, kesian masih muda penyakitan"
"Berarti kamu membenarkan kalau kamu emang bisa nularin virus rabies To"
Kembali manyun si Parto, niatnya membully Seno tapi malah dia yang kena bullyan. Indah hanya tersenyum menanggapi guyonan Seno dan Parto.
"Ndah Emak sama Bapak kemana? Ini tiap aku kesini kok mereka enggak ada di rumah ya?" Tanya Seno kepada Indah.
"Mereka pergi kondangan Mas Seno" Jawab Indah.
"Padahal niatku tadi mau minta restu Ndah"
Parto melotot melihat Seno yang cengengesan berubah sok serius di depan adiknya.
"Ndah kopiku habis, buatin lagi dong!" Ucap Parto.
"Iya Mas, aku buatin se teko aja sekalian ya. Kopi gelasnya udah gede gitu kok ya kurang" Meski ngomel, Indah tetap berjalan menuju dapur untuk membuatkan kopi untuk Parto.
"Sen.. Maksudmu apa tadi bilang minta-minta restu segala? Jangan harap cuma sebungkus martabakmu bisa bikin luluh hati orang tuaku sama Indah ya"
"Secara enggak langsung kamu bilang kalau kamu udah luluh sama martabakku To? Awal yang bagus, seenggaknya calon kakak ipar sudah ngasih lampu hijau buatku. Aach aku bakal sering-sering ngasih kamu martabak To kalau kamu beneran restuin aku sama Indah"
"Heeh mana ada seperti itu. Lagian kalau kamu sering nyekokin aku sama martabak telor kek gitu, bisa bisulan berbulan-bulan aku"
"To, aku ini serius lho.. Indah aku deketin boleh kan? Kamu tahu kenapa udah lama aku enggak mau pacaran?"
"Enggak laku mungkin" Jawab Parto sekenanya.
" Yang sopan kalau ngomong, aku awet menjomblo karena mau jaga hati Indah lah To. Aku mau dia jadi yang pertama dan terakhir buatku"
"Itu juga kalau adikku mau Sen, dia baru 18 tahun. Lulus sekolah juga baru tahun ini, mana kepikiran dia soal cinta-cintaan. Lagian enggak ada yang nyuruh kamu buat bertahan dengan kejonesanmu kok. Sen, aku mau bilang.. Aku enggak pengen persahabatan kita jadi permusuhan karena kamu nyakitin adikku nantinya. Jadian sama Indah lalu putus. Enggak.. mending kamu cari cewek lain aja Sen, lebih aman buat kita semua"
Seno menghembuskan nafas beratnya. Dia bukannya enggak bisa menyanggah omongan Parto, dia berfikir daripada terus berdebat mending bergerak dengan pembuktian saja kalau dia memang serius dengan rasanya ke Indah.
Waktu menunjukkan pukul 19.35, Seno memutuskan untuk pulang. Karena sedikit rasa rindunya kepada sang pujaan hati telah terobati. Hanya dengan melihat Indah tersenyum dan tertawa membuat hatinya ikut bahagia.
__ADS_1
"Ndah, aku pulang dulu ya. Tadinya aku beliin martabak buat kamu kok malah dugong ini yang ngabisin" Sambil nyengir Indah hanya melihat Parto melotot ke arah Seno
"Jadi kamu enggak ikhlas Sen, martabak tadi aku makan?"
"Ikhlas To ikhlas.. Tenangno pikirmu, mau bungkusnya tadi ikut kamu telen juga aku ikhlas. Ridho Lillahi Ta'ala"
"Makasih ya Mas Seno, hati-hati di jalan" Kata Indah saat Seno berpamitan pulang.
"Iya Ndah, duuh manisnya calon bidadari surgaku" Indah hanya tersenyum mendengar ucapan Seno.
"Ndah ini kamu enggak mau salim dulu sama Mamas?" Ucap Seno lagi.
"Jangan ngadi-adi kau! Pulang sana" Parto yang sedari tadi melihat drama di depan pintu rumahnya ikut bersuara juga. Seno hanya tertawa mendengar ucapan Parto.
Di depan rumah Indah, saat Seno akan menyalakan motornya, dia melihat Emak dan Bapak Indah pulang dari kondangan. Saat motor yang di gunakan Pak Suprapto berhenti, Seno lantas menghampiri orangtua Indah dan mencium tangan keduanya dan berpamitan pulang.
"Lho Sen, kok buru-buru pulang? Enggak masuk dulu, ayo masuk. Ini Ibunya Parto tadi beli martabak telur, kita bisa makan bareng-bareng" Ucap Pak Suprapto saat melihat Seno langsung menaiki kuda besinya.
"Matursuwun sanget Pakdhe, (Terimakasih banyak Om,) Saya langsung pulang saja. Tadi juga sudah ngobrol lama di dalam sama Parto dan Indah"
"Oowh ya udah Sen, kamu hati-hati ya. Jangan ngebut" Pesan Pak Suprapto.
"Injiih Pakdhe" (Iya Om)
Seno pulang, di perjalanan pulang dia memikirkan perkataan Parto. Dia mengerti Parto hanya tidak mau Seno menyakiti Indah.
Cukup diam dan nikmati Ndah biar Mamas yang beraksi. Beraksi mengambil hatimu dan kedua orangtuamu, juga gerandong satu itu. Menunjukkan aku sanggup menjagamu seperti orangtua dan kakakmu memanjakanmu. Aku enggak mau banyak membual dan umbar gombalan, itu enggak penting. Yang penting kamu bisa lihat setiap pergerakanku hanya tertuju padamu.
Itulah hal yang Seno pikirkan selama di perjalanan pulang. Dari jaman Roro Jonggrang sampai Roro Mendut juga Roro-Roro yang lain, wanita itu hanya butuh bukti bukan janji. Makanya Roro Jonggrang meminta di buatkan seribu candi bukan seribu janji.
Haii gaess apa kabar? Semoga selalu sehat ya😊
Bagi yang udah baca karya gabutku ini, bisa minta tolong ya tinggalkan jejak jempol kalian, aku sangat senang bisa selalu membalas komen Kelian.
Terimakasih all lope yu somat😍
__ADS_1