Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Berakhir?


__ADS_3

"Ben.. kamu kok ngajak cewekmu malam-malam gini ke sini apa orang tuanya enggak marah? Udah jam 20.45 lho ini."


Seno melihat jam yang ada di dinding warung mbok Yuni. Mengingatkan Beni kalau-kalau dia lupa udah bawa anak gadis orang main kemalaman.


"Aman Sen, aku udah ijin kok tadi."


Parto enggak berkomentar, dia melihat Wanda yang sepertinya kurang nyaman atau mungkin belum bisa berbaur dengan dirinya dan Seno di sini, wajar aja... biasanya para cewek tuh lebih gampang akrab dengan sesama kaumnya.


"Kok diem aja beib, kenapa?" Tanya Beni kepada Wanda, Wanda hanya tersenyum tanpa menjawab.


Parto mengambil hpnya yang dia letakan di meja warung mbok Yun. Dia ketik beberapa huruf, di kirimkan ke nomer Beni. Beni yang mendengar ponselnya berbunyi, langsung mengambilnya dari balik saku celana.


Saat membaca pesan dari Parto, Beni yang baru aja duduk langsung mengajak Wanda pulang.


"Lho kok mau pulang, kan baru sampai Ben?!" Tanya Seno enggak ngerti.


"Tak nganter Wanda pulang dulu, ntar ke sini lagi." Ucap Beni dari jauh.


"Lha kamu ke sini lagi ya aku udah pulang Ben, di kira aku sekuker itu nyampe nungguin kamu balik ke sini!" Seno mendengus.


Seno melihat ke arah Parto. Temannya itu sedari tadi diam saja saat Beni datang bareng Wanda,


"Kenapa kamu?" Tanya Seno penasaran.


"Opo?" Parto meneguk kopi yang sedari tadi disuguhkan mbok Yuni.


"Kamu ini lho kenapa? Dari tadi diem, tadi aja sebelum Beni muncul kamu tanyain dia.. giliran ada orangnya kamu diem aja. Mendadak sariawan??!"


Parto memberikan hp miliknya ke arah Seno, agar Seno bisa membaca isi pesan yang dia kirim kepada Beni.


Parto: Anter Wawan pulang, kamu mau pacarmu jadi gunjingan tetangganya? Orang tuanya pesti khawatir! Boleh cinta tapi gunain logika!


Beni: Siap!!


"Oalah.. jadi Beni tadi minggat gegara mok usir?" Seno nyengir setelah membaca pesan dari Parto untuk Beni.


"Enggak ngusir, lagian itu manusia kampret satu aneh-aneh aja.. ngajak ceweknya jam segini masih klayapan. Aku bayanginnya kalo si Wawan tadi adikku, aku enggak bisa lihat adikku masih klayapan sama cowok jam segini. Jadi inget ini baik-baik! Boleh ngajak jalan Indah kemana aja, asal tahu waktu, tahu batasan! Kelian baru tingkat pacaran, jangan sampai rasa percayaku ke kamu ilang gara-gara kamu nurutin nafsumu!"

__ADS_1


Seno menepuk pundak Parto.


"Tenang aja To,, aku enggak se gragas itu! (rakus) Kamu bilang tadi, kami baru tingkat pacaran, hmm kalau tingkatan kami udah naik tingkat nasional kamu bolehin dong aku 'ea ea' sama Indah?"


Jawaban asal Seno membuat Parto ingin mencekik Seno saat itu juga.


"To, boleh tanya?"


Kembali diam, Parto hanya melirik Seno. Lagian mau tanya apa to itu makhluk satu pakai ijin segala macem.


"To,,, kamu sama Shela pacarannya sampai mana? Maksudnya ngapain aja?"


Sontak saja, pertanyaan dari Seno membuat Parto melotot dan pikirannya langsung tertuju pada kejadian beberapa minggu yang lalu. Bayangan bibir Shela kembali menghantam pikirannya.


"Kenapa To, kok kaget gitu? Tinggal jawab aja susah amat kayaknya." Seno memang suka menggoda Parto dan Beni.


"Aku mau pulang Sen, tiba-tiba kepalaku kliyengan,"


Parto mencoba mencari alasan agar Seno enggak lagi menanyainya tentang hal-hal yang dia enggak mau jawab.


Seno terus aja memaksa Parto. Kepo amat sih Seno ini hmm.


"Aku duluan ya Sen, mbok Yun.. uangnya kopi dibayar Seno mbok!"


Parto berjalan menjauh dari tempat Seno, Seno hanya diam dan sedikit menarik sudut bibirnya.


Jadi gitu To caramu pacaran, ini kalau aku niru caramu dan praktekin sama Indah kira-kira kamu bakal bogem aku apa enggak To?


Meninggalkan Seno yang masih menebak, meraba, dan menerawang gimana cara pacaran Parto Shela, di ujung desa yang lain, Wanda masih diam saat Beni sudah mengantarkannya pulang sampai rumah.


Beni sedikit bingung dengan perubahan sikap Wanda. Beni mengusap pucuk kepala gadisnya, berusaha menyalurkan kasih sayangnya lewat usapan itu. Emang iya ada cara nyalurin kasih sayang model kek gitu? Iya ada, lha itu contohnya yang sedang Beni lakuin.


"Kok diem aja? Kenapa?" Tanya Beni dengan tersenyum.


"Beben.. aku mau ngomong sama kamu, dari tadi aku bingung mau mulai dari mana.."


Asli perasaan Beni mendadak berubah enggak enak. Tunggu, jangan bilang Wanda minta putus? Jangan bilang Wanda udah dijodohin sama cowok lain.. Pikiran Beni berkelana kemana-mana.

__ADS_1


"Ngomong aja Beib,, aku dengerin." Ucap Beni mencoba setenang mungkin.


"Kamu minum dulu,.." Wanda menawarkan teh manis hangat buatannya untuk Beni, Beni menolak dengan menggelengkan kepala pelan.


"Beben, aku mau kerja lagi ke kota..."


Memberi jeda dalam ucapannya, sambil melihat ekspresi yang ditunjukan Beni, Wanda lalu melanjutkan perkataannya.


"Dan kamu tahu sendiri kita bubaran kemarin itu karena aku milih kerja di kota daripada tetap di desa yang mau cari kerja aja susah banget,, jadi Ben..."


Wanda menarik nafas, Beni merasakan hatinya seperti balon yang diisi air lalu dengan keras dilempar ke tanah. Ambyar pokoknya. Dia bersiap mendengar apapun kemungkinan terburuk tentang hubungan mereka yang baru terjalin beberapa bulan belakangan.


"Jadi.. aku-"


"Kamu mau kita putus Beib?" Tanya Beni membantu mengungkapkan apa yang sejak tadi Wanda sulit ucapkan.


"Aku bingung Ben.. aku sayang kamu, bener-bener sayang kamu, tapi, aku juga harus kerja di kota ninggalin kamu di sini, aku enggak yakin bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh yang mungkin akan menyakiti salah satu dari kita atau bisa jadi akan menyakiti kita berdua nantinya.. Ben,, aku harus gimana?"


Wanda tertunduk, air matanya menetes. Dia sedih. Dia galau. Dan entah perasaan apa lagi yang. berkecamuk di dadanya.


Beni ingin mengucapkan kata sakral itu, ingin mengajak Wanda ke arah yang lebih serius tapi, bayangan Mbak Lulu membuat dia mengacak kasar rambutnya. Kenapa musti begini? Apa dia harus merelakan Wanda pergi tanpa kejelasan status? Hanya hubungan pacar saja enggak akan mampu membuat Wanda tetap bertahan untuknya di sini.


Ditengah kebimbangan keduanya, Beni menarik Wanda ke dalam pelukannya. Wanda makin terisak di dada kekasihnya itu. Dengan mengecup pucuk kepala Wanda, Beni berusaha menenangkan pacarnya.


"Beib.. kamu masih mau jalanin hubungan ini sama aku? Apa kita udahan sampai di sini?" Pertanyaan Beni seakan membuat beban di dada Wanda makin bertambah. Dia sendiri juga bingung. Antara bertahan atau melepaskan.


"Aku sayang kamu Beib..."


Ditariknya dagu Wanda, diarahkan bibir Beni ke arah yang semestinya. Keduanya larut dalam tautan itu. Bukan nafsu yang menguasai mereka, hanya menyalurkan perasaan yang terasa sesak. Wanda tidak menolak, dia tidak mau munafik karena sebenarnya dia juga menginginkan ciuman itu terjadi.


Beni mengusap pelan ujung bibir Wanda, menghapus sisa air mata yang tadi masih mengalir saat pergulatan antara bibir mereka, berusaha mengatur nafas. Tapi saat ingin berucap lidah Beni seakan kelu.


"Beben.. semua keputusan aku serahin ke kamu, aku enggak mau egois dengan menahan mu tetap bersamaku," Suara Wanda terdengar serak.


"Itu artinya kamu milih mengakhiri hubungan kita Beib?"


Wanda kembali tertunduk, dia enggak berani menatap kedua mata Beni. Ini terlalu nyesek untuknya.

__ADS_1


__ADS_2