Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Es Dawet


__ADS_3

Beberapa hari setelah acara lamaran, Parto dan Shela melanjutkan aktivitas seperti sediakala. Yang membedakan adalah rutinitas bertemu mereka sekarang semakin jarang. Hal itu dikarenakan Parto yang menahan diri agar tidak membuat dosa lebih banyak lagi sebelum resmi menikah dengan Shela.


Lho kok gitu? Kenapa? Karena setiap kali bertemu Shela, Parto tidak bisa menahan diri untuk sekedar memeluk atau membayangkan manisnya rujak lambe diantara mereka! Kampret kan? Nah makanya itu, Parto menyibukkan diri di bengkel aja. Apalagi dia juga ingin menunjukan kepada orang lain terutama pada dirinya sendiri kalau dia bisa sukses dengan usahanya saat ini. Yang nantinya dia akan jadi imam dan tulang punggung keluarga, cinta aja enggak akan membuat perut yang kelaparan bisa kenyang! Oleh karena itu dia benar-benar berusaha agar bisa menjadi kepala keluarga yang baik saat sudah menikah dengan Shela.


"To.. masa aku denger kabar dari Beni, Ralina mau ka_win sama juragan telur!" Seno meneguk es dawet yang baru saja dibelinya.


"Masa? Wah bagus lah... kapan Sen? Kok pak Agus enggak ngasih tahu aku ya," Parto menyeka keringat yang ada di dahinya seusai membongkar motor milik pelanggan yang memasrahkan motornya di unboxing oleh Parto.


"Ya enggak tahu kalau kapannya, orang Beni cuma bilang kalau Ralina mau ka_win kok!"


"Semua orang mau ka_win, aku sih kapan ya To?! Tanggal nikahanmu kapan sih? Sok misterius segala main rahasia-rahasiaan" Lanjut Seno sok protes!


"Lah.. rahasia apa? Kamu emang pernah tanya? Enggak kan? Di otakmu itu cuma ada Indah, Indah, sama Indah aja. Mau bo_ker aja sempet-sempetnya bawa hp, lah kapok kalau nyemplung di kloset! Mamam tuh cinta!" Merebut es cendol yang ada di tangan Seno. Bisa-bisanya beli es cuma sebiji!


"Lah.. bagus kan To, artinya aku tuh memprioritaskan Indah. Kamu apa enggak senang punya calon adik ipar yang kelewat ganteng ini? Sayangku ke Indah udah enggak usah diraguin lagi To, jangankan cuma korban hp yang di konter masih banyak yang jual.. ku korban harga diri aja pernah! Sangkar burungku pernah jatuh dan dilihat sama dia.. Aaaach kalau ingat kok aku jadi piye ngono!" (gimana gitu!)


Parto ngakak. Emang absurd banget sih Seno ini, tapi ya udahlah.. mau gimana juga adiknya juga sama bucinnya sama manusia dihadapannya ini.


"To.. jangan dihabisin elaaah! Beli sendiri enggak bisa apa?" Pelitnya naudzubillah!

__ADS_1


"Apa sih, cuma sisa es batunya aja kok diributin. Lagian kamu ini, ke sini juga enggak ngapa-ngapain.. bantu enggak, mandorin doang, giliran beli es juga cuma sebungkus! Beli lagi sana, ini aku yang bayar!!" Mulai deh mode Hulk on!


Seno berjalan keluar bengkel Parto tanpa menerima uang yang Parto sodorkan. Yaiyalah, diantara mereka enggak ada yang namanya itung-itungan. Cuma ya kadang keluar aja sifat gesrek mereka. Lagi asyik berbalas pesan dengan Indah sambil menunggu pesanan es dawet yang emang pedagangnya masih mangkal di depan bengkel Parto, Seno dikejutkan suara klakson motor matic merah milik Shela.


"Ngapain kamu?" Tanya Shela yang masih nangkring di atas motor.


"Ya Allah Gusti Shel! Bisa enggak kamu ini datang pakai salam dulu, hampir copot jantungku gegara kamu!"


"Nih lagi gali sumur nih! Udah tahu beli es cendol kok ya tanya!" Seno sewot karena klakson Shela tadi sampai membuat ponselnya jatuh dari tangannya.


"Bungkus dua ya! Banyakin esnya! Sedotannya jangan yang pink, aku enggak suka! Kalau ada pilih yang warna hitam! Lebih karismatik, esnya dipotong memanjang ukuran tiga centian, kalo bisa jangan lebih ukurannya! Aku suka geli liat es yang enggak beraturan! Plastiknya jangan lupa didobelin! Takut bocor kan karena esnya nyenggol plastik, belum juga aku minum bisa abis duluan nanti. Oke itu aja. Aku ke sana dulu ya!"


"Masa bodoh Shel, masa bodoh!" ucap Seno akhirnya.


"Iya iya terimakasih!" Masih bisa jawab ini orang. Hahahaha.


"Assalamualaikum.. sibuk ya?" Shela langsung duduk di kursi yang ada di bengkel itu. Mengagetkan Parto yang baru saja mengganti oli mesin.


"Eh.. waalaikumsalam, lah.. kok ke sini enggak bilang-bilang. Kan aku bisa jemput kamu La,"

__ADS_1


"Lumayan ini, bentar lagi selesai kok." Parto meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal.


"Tuh aku bawain makanan, dimakan ya!" Makin perhatian aja sama calon suami. Eaaa yang jomblo makin merana!


"Kamu ke sini aja udah bikin aku seneng La, mana bawain makanan juga. Alhamdulillah.. maturnuwun (terimakasih) ya."


Parto duduk di bangku kecil yang dia geser ke depan Shela. Jadi posisi duduk Shela bak ratu yang lagi ditemenin ajudannya!


"Ngapain duduk di bawah?" Shela membuka plastik bungkus makanan dan mengeluarkan isinya.


"Biar aku bisa lihat dari sini pun, kamu terlihat luar biasa di mataku!"


"Kamu kayak jongos (babu) kalau duduk di situ! Berdiri, sini duduk sini!" Menunjuk tempat kosong di sebelahnya.


Parto menurut aja.


"Tapi La, aku bau keringat sama oli. Enggak PD aku." Parto kembali duduk di posisi semula.


"Alah kamu apaan sih! Nanti juga bakal sering main keringat berdua sama kamu, udah to biasa aja." Mendengar perkataan Shela, Seno yang baru saja menyelesaikan misi pentingnya membeli es dawet untuk pasangan bucin itu jadi siyok! Dia kaget nyampe terbatuk-batuk. Parto pun tak kalah siyok nya.. dia sampai melotot mendengar perkataan Shela yang entah mengarah kemana. Hanya Allah SWT dan dia aja yang tahu. Othor tak tahu apa-apa di sini! Camkan!

__ADS_1


__ADS_2