
Air mata menetes dari wanita paruh baya itu menunjukan betapa beliau sangat terharu dengan momen yang baru saja terjadi. Anak gadisnya sudah resmi menyandang status istri orang.
Kabar jika menantunya yang tak lain merupakan suami dari Lulu adalah seorang dokter, menambah kebahagiaan di raut wajahnya. Ibu Lulu baru mengetahui hal itu beberapa hari setelah acara lamaran dadakan yang membuat seluruh desa heboh membicarakannya.
Mereka menganggap Lulu terlalu beruntung. Tanpa mereka tahu ada kisah rumit bin jlimet di balik kata 'beruntung' itu. Yang mereka tahu, Lulu gadis pendiam yang jarang keluar rumah tapi bisa dapat suami dokter tajir melintir tak kiwir-kiwir. Hal itu adalah sebuah keberuntungan bertubi-tubi.
Lihatlah dekorasi pelaminan dengan adat Jawa kental tapi tetap terkesan mewah itu, para tetangga tak habis-habisnya memuji betapa bagus dan mewahnya pelaminan itu. Untuk ukuran orang desa, pernikahan Lulu dan Ardiaz termasuk istimintip (istimewa gaess).
Yang paling menjadi sorotan pastilah pengantin wanita, siapa lagi kalau bukan Lulu. Ameena Merluna, itu terlihat anggun dengan kebaya putih dengan hiasan bunga melati yang menjuntai indah menambah aura kecantikannya semakin keluar.
Satu jam yang lalu.
Seorang lelaki dengan debaran jantung yang membuatnya berfikir apakah dirinya terkena serangan jantung karena saking cepatnya jantungnya itu berdetak, terus saja komat-kamit menghafalkan mantra sakti.. maaf bukan itu gaess, dia komat-kamit menghafalkan kalimat ijab qobul. Tangannya dingin, keringat sesekali dia seka dari dahinya karena sangat terlihat jika dia sedang grogi saat ini. Bisa nervous juga ternyata manusia bernama Ardiaz itu.
"Mas.. ngopo sampeyan ki?" Tanya Beni yang tersenyum karena melihat tingkah konyol Ardiaz, Udah balik lagi panggilan 'mas' untuk Ardiaz karena sebentar lagi lelaki di hadapan Beni itu akan menjadi kakak iparnya.
"Aku tegang!" Jawab Ardiaz singkat.
"Moso wis tegang saiki? Hahaha" (masa udah tegang sekarang? hahaha) Entah apa yang Beni pikirkan.
"Kamu mikir apa? Aku grogi lho.. grogi!" Ardiaz melihat ruang tamu yang sudah di sulap sedemikian rupa sebagai ruangan bersejarah untuknya nanti. Di situlah dia akan mengucapkan ijab qobul itu.
"Nih minum dulu, ojo spaneng gitu lah mas! Tadi udah makan belum? kok kelihatan pucet gitu mukanya," Beni menyodorkan segelas es teh untuk Ardiaz.
__ADS_1
"Belum. Enggak ketelen, lihat makanan enggak napsu blas." Lagi-lagi Ardiaz menyeka keringatnya.
"Ati-ati pingsan di pelaminan, nanti digantiin orang lain! Hahaha.."
"Kamu ini kenapa bikin aku makin gugup,"
Beni malah tertawa aja, sebelum acara dimulai dia menemui kedua temannya yang asyik ngobrol dengan pasangan masing-masing. Parto datang dengan Shela, dan Seno tentu saja dengan dedek Indahnya.
"Kelian udah makan?" Tanya Beni langsung duduk diantara mereka.
"Udah. Wow gila ya Ben, acara mbak Lulu keren banget. Rame, enggak nyangka mbak Lulu banyak temennya. Tuh kado di pojokan buat mbak mu nyampe bertumpuk-tumpuk. Tiga meja aja enggak muat buat naroh semua kadonya." Ujar Seno tergumun-gumun. (kagum gaess).
"Itu kan dari temen-temennya mas Ardiaz juga, kenalan mbak Lulu paling juga dua puluh biji yang diundang ke sini. Itu juga enggak tahu pada dateng semua apa enggak."
Penjelasan dari Beni membuat keempat orang di sisi kanan dan kirinya hanya manggut-manggut aja.
"Ben.. tadi Parto malu-maluin banget deh," Seno udah mulai ngakak enggak jelas.
"Jadi tadi ya Ben kita makan bakso.. cuma aku, Shela sama dek Indah aja sih yang makan. Orang pas Parto mau makan baksonya kabur dari mangkoknya. Baksonya enggak mau dijamah sama tangan penuh dosanya Parto," Indah menyenggol lengan Seno. Dia enggak suka kakaknya diledek seperti itu meski yang ngeledek adalah pacarnya sendiri.
"Ya tinggal ambil lagi kan, aku ambilin To?" Tawar Beni dengan senyum sumringah. Hari ini memang hari yang sangat membahagiakan untuk keluarganya.
"Ndak usah Ben." Ada Shela, Parto mulai jaim dong.
Selesai menemui keempat temannya, Beni kembali ke ruang tamu. Beni mengajak keempatnya masuk ke dalam rumah tapi, hanya Parto dan Seno saja yang mengikuti langkah Beni. Shela dan Indah lebih suka ngobrol syantik di tempat semula mereka berkumpul tadi.
Bapak penghulu dari KUA terdengar mengecek suara di mic yang ada di tangannya. Pertanda akan dilaksanakannya ijab qobul itu.
"Ananda Ardiaz Bagus Pratama bin Zain Abdullah saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ameena Merluna binti Joko Subagio almarhum dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat, tunai.”
__ADS_1
“Saya terima nikah dan kawinnya Ameena Merluna binti Joko Subagio almarhum dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”
"Alhamdulillah.. sah!" Kalimat serempak itu memberi tanda bahwa acara sakral tadi telah selesai.
Dengan satu kali tarikan nafas akhirnya Ardiaz berhasil mengucapkan ijab qobul tadi dengan lancar. Status Lulu sekarang adalah istri sah Ardiaz secara hukum negara dan agama.
Ayo nyanyi gaess.. Sungguh senangnya pengantin baru lalalala lalalaalaaa.. Udah terusin sendiri, berkali-kali othor nulis lirik lagu itu selalu enggak hafal di bagian tengahnya.
Lulu yang tadinya amat sangat jutek kepada Ardiaz, sekarang jadi penurut pake banget. Iya wajar, tadinya Lulu kan enggak yakin dengan segala ucapan Ardiaz. Tapi, dalam waktu kurang dari sebulan Ardiaz mampu membuat hati Lulu yakin, yakin untuk menjadikan Ardiaz imamnya.
Siang berlalu berganti malam. Apa yang terjadi, setelah acara pernikahan wow itu? Tamu tetap datang silih berganti tentunya. Di desa memang seperti itu, pesta pernikahan atau resepsi bisa berlangsung dua hari dua malam. Kering gigi pokoknya karena harus sering senyum menyambut tamu yang datang.
Lalu kemana pasangan pengantin baru itu berada? Tanya siapa? Owh oke tanya sama yang nulis ya hahaha...
Ardiaz sedang makan, dia ingin bermanja-manja dengan istrinya sehingga meminta Lulu menyuapinya. Kelaparan dia karena seharian enggak makan.
"Kenapa lihat aku kayak gitu amat mas?" Tanya Lulu yang sekarang tidak memakai hijabnya di depan suami itu. Dan Lulu langsung memanggil 'mas' untuk Ardiaz sebagai bentuk penghormatan kepada suaminya.
Menggeleng pelan. Ardiaz tersenyum. Menyingkir piring yang ada diantara mereka, mendekati pasangan halalnya itu, menyibak rambut hitam panjang yang sekarang hanya miliknya seorang. Menampakan leher putih jenjang, membuat Lulu membuang muka karena malu, belum terbiasa dengan kedekatan seperti itu diantara mereka.
Saat bibir Ardiaz sudah sangat dekat, dengan nafas yang terasa sekali di pori-pori kulit leher Lulu, suara ketukan pintu mengagetkan keduanya. Ardiaz menatap malas ke arah pintu itu. Dan Lulu, dia hanya tersenyum saja. Ya, mau berbuat apa lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Itu dulu gaess... wkwkwkwk aku bingung mau lanjutinnya.
Ya intinya Ardiaz dan Lulu udah sah jadi suami istri ngono!
Untuk visual yang aku pakai tadi, jika enggak sesuai dengan bayangan kelian ya maafin ya..
__ADS_1
Oke tunggu episode selanjutnya gaess.😂