Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Asal-usul Nomermu di Hpku


__ADS_3

Emak keluar rumah, membiarkan Parto dan Ralina mengobrol. Parto menatap Ralina yang masih menyunggingkan senyum untuknya.


"Ada apa Lin? kok tahu alamatku dari siapa?" Parto bertanya kepada Ralina sembari duduk di kursi yang tadi emaknya duduki.


"Mas To, tanyanya satu-satu lah Mas. Hehehe jadi gini Mas, aku kan sama temen-temen ku mau liburan ke Jogja ya.. nah kata Paklek itu, Mas To udah hafal daerah sana.. jadi, bisa kan anterin aku sama temen-temen ku jalan-jalan kesana? Aku tahu alamat Mas To ya dari Paklek. Tadinya mau hubungi sampeyan lewat telepon aja tapi kok kayaknya enggak sopan. Jadi ya, aku kesini deh.."


Parto terdiam beberapa saat,


"Emang kapan mau ke Jogja Lin?" Akhirnya Parto bersuara.


"Minggu depan Mas, bisa ya.. aku enggak tahu ni mau minta tolong siapa kalau Mas To enggak bisa." Lah kok maksa to Ralina ini. Hmmm.


"Bisa, emang kenapa kok kamu mikir aku enggak bisa nyupiri kamu sama temen-temen mu? Tapi, kalaupun aku enggak bisa.. ada temenku yang juga hafal daerah sana kok Lin."


Parto melihat Ralina sedikit cemberut. Sepertinya dia agak kecewa karena Parto malah mengusulkan orang lain untuk menggantikan dirinya. Ya, secara tidak langsung Parto seperti enggan mengiyakan ajakan Ralina.


Indah berjalan melewati ruang tamu hendak mengambil hpnya di kamar.


"Mas To ini gimana to, itu Mbaknya udah jauh-jauh datang kesini buat nemuin Mas To kok malah ngomongnya kayak gitu." Indah ikut angkat suara, karena seperti tahu apa yang Ralina rasakan. Ada kekecewaan yang terlihat jelas di raut muka Ralina.


"Apa sih Ndah, kamu kok mulai enggak sopan gini. Sejak kapan punya hobi nguping pembicaraan orang lain hah? Aku kan bilang bisa tadi.. dan cuma ngasih usulan, kalau nantinya aku beneran enggak bisa nyupiri Ralin ya aku minta tolong Beni."


Giliran Indah yang manyun karena ucapan Parto.


"Iya sepurone Mas, aku enggak maksud nguping kok.." Indah sadar kalau perbuatannya menyela pembicaraan kakak dan tamunya itu enggak sopan, makanya dia segera meminta maaf. Setelah masuk kedalam kamarnya, dia segera menutup pintu. Enggak mau lagi ikut campur pembicaraan kakaknya.

__ADS_1


"Jadi bisa ya Mas? Aku boleh minta nomer teleponnya Mas Parto, biar gampang dihubungi nanti." Ucap Ralina karena merasa dapat pembelaan dari Indah, adiknya Parto.


Parto mengangguk, dia tuliskan nomer teleponnya di hp Ralina. Tapi saat akan mengsave (menyimpan) nomernya ke kontak telepon milik Ralina, dia agak terkejut. Karena nomernya ternyata sudah tersimpan.


"Lho Lin, ini kamu kan udah punya nomerku.. tapi, kok namanya Seno Lin?"


Parto memberikan kembali hp Ralina ke tangan pemiliknya.


"Eh iya.. kok bisa, lho kapan aku nyimpen nomer Mas To ya.. kok aneh," Ralina mencoba mengingat-ingat kapan dirinya menyimpan nomer Parto di dalam kontak telepon miliknya.


"Yang kamu simpen di kontakmu bukan namaku Lin, tapi nama Seno. Berarti kamu ngira nomerku ini punya Seno. Hmm sik sik (bentar-bentar), kamu kenal Seno?" Parto menelisik.


"Lho iya ya.., mas Seno? Iya kenal.. dulu aku kerja di pabrik yang sama bareng dia Mas."


"Asyem.. aku baru inget Lin, bentar.."


Parto mengeluarkan hpnya. Mencari nama 'Markonah' dan melakukan panggilan ke nomer itu. Tersambung. Ralina melihat ke layar ponselnya. Tertera sekarang nama Parto di sana.


"Mas To juga punya nomerku? walah kok bisa to Mas.. kok aneh gini," Ralina masih kebingungan, dia belum sadar kalau dulu dialah yang memberikan nomer teleponnya kepada Seno. Tapi, karena Seno merasa enggak membutuhkannya, dia memberikan secuil kertas berisi coretan nomer telepon kepada Parto.


"Maaf ya Lin aku save namamu 'Markonah' tapi, udah aku ganti kok ini.." Parto agak sungkan, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Keduanya tertawa, Parto enggak menceritakan detail dia mendapatkan nomer Ralina. Kalau Ralina tahu Seno yang suka rela memberikan nomernya kepada Parto, pasti Ralina merasa sedih. Jadi Parto mengarang cerita dengan mengatakan kalau waktu itu dirinya meminjam hp Seno dan iseng menyimpan salah satu nomer di daftar kontak Seno. Tanpa banyak bertanya, Ralina hanya iya-iya aja menanggapi cerita Parto.


Saat hari mulai siang, Ralina berpamitan untuk pulang. Karena niat dan tujuannya sudah tersampaikan. Emak sedikit menahan Ralina saat akan pulang tapi, karena Ralina mengatakan akan segera bekerja setelah pulang dari rumah Parto akhirnya emak mengijinkan Ralina untuk pulang.

__ADS_1


"To.. kae mau sopo lho To, kenalan mu kok dengaren ono sing ayu ngono. (To.. tadi itu siapa lho To, kenalan mu kok tumben ada yang cantik gitu.)" Ucap emak setelah Ralina benar-benar sudah meninggalkan kediaman mereka.


"Pacare Beni Mak," Jawab Parto singkat.


"Lho pacare Beni kok dolane rene? Kok delokno cedak men ambi kowe? (Lho pacarnya Beni kok mainnya kesini? Kok kelihatannya deket banget sama kamu?)" Aachh emak mulai kepo wankawan.


"Kenopo lho Mak? Emak iki mesti mikir bocah mau pacarku? (Kenapa lho Mak? Emak ini pesti mikir bocah tadi pacarku?)"


Parto tersenyum karena bisa menebak apa yang emaknya pikirkan.


"Mak.. calon mantune panjenengan luweh ayuu timbangane kema sing rene. (Mak.. calon mantunya Emak lebih cantik daripada tadi yang kesini.)". Imbuh Parto.


"Golek bojo oda usah ayu-ayunan To, wong ayu bakal kisut nek wes tuo, bakal elek nek wedak pupure ntek! Golek bojo kui sing gemati, open karo kowe lan anak-anakmu sok mben! Kowe semono ugo.. nek wes duwe bojo ojo seneng klayapan, nongkrong ngopi karo konco-koncomu nanging bojomu mok kon ndekem nok omah.. kecelik emak langsung tak jarangi kowe nek klakohanmu ra mbejaji ngono kui!" (Cari istri enggak usah terlalu cantik To, orang cantik bakal keriput kalau udah tua, bakal jelek kalau bedak make-upnya habis! Cari istri itu yang sayang, perhatian sama kamu dan anak-anakmu nantinya. Dan kamu juga.. kalau sudah punya istri jangan suka kelayapan, nongkrong ngopi sama temen-temen mu tapi, istrimu kamu suruh stay aja di rumah.. Katahuan Emak langsung tak masukin air mendidih kamu kalau perilaku mu enggak patut macam tu!).


Mak.. wejangan panjenengan bikin si othor belibet nerjemahinnya. Panjaaaaaang Mak panjaaaaaang.


"Ya Allah Mak.. njih Mak njih.. Belum nikah aja Emak udah kepikiran mau rebus aku idup-idup lho. Aku kok jadi mikir ini sebenarnya aku beneran anak Emak apa anak dapet nemu to Mak, sedih lho aku dengernya." Parto bicara seperti itu tapi sambil cengengesan.


"Iyo nemu nok sor wit gedang kono,!" (Iya nemu di bawah pohon pisang sana!)


Emak berkata sambil berlalu pergi.


Lha.. dikira aku sejenis bekicot apa ya, nemu di bawah pohon pisang katanya. Sungguh mulia hatimu Mak, mau membesarkan seonggok keong racun macam awak ni!


Ucap Parto dalam hati. Di bathin aja gaess ngomongnya takut Paduka Ratu melayangkan panci keramatnya jikalau beliau mendengar rintihan hati Parto.

__ADS_1


__ADS_2