
"Buk.. Shela sama mas To mau ke rumah emak dulu ya," Shela mengikat rambutnya keatas, membuat kecantikannya makin bersinar.
"La.. Shela.. ini buat emak sama bapakmu, nanti kasih mereka ya." Ibu memberikan bingkisan yang entah apa isinya.
"Sini sik nduk, kamu nanti kalau di rumah mertuamu sebisa mungkin kamar ditutup! Jangan dibiarin ngowoh kayak tadi pagi, iya kalau yang masuk kamar masmu ndak apa-apa.. lha kalau orang lain? Mertua kamu, atau adik iparmu misalnya.. Ojo sembrono nduk! (Jangan sembarangan nduk)"
Shela tertunduk malu. Malu karena kejadian tadi pagi sempat terekam oleh ibunya.
"Tapi kan.. La enggak salah buk, mas To yang enggak nutup pintu... ibu juga kepoan hahaha" Shela tertawa mengingat kejadian yang tadinya membuatnya tertunduk malu malah sekarang menciptakan tawa di wajahnya.
"Huus! Ora sopan.. Ibu pikirnya kan mas mu lagi di kamar mandi, ibu masuk buat bangunin kamu, meski udah jadi seorang istri ya ndak boleh seenaknya nduk.. bangun tidur kok siang gitu. Kebo aja bangunnya pagi," Ibu melihat tanda merah di dada atas putrinya.
"Ehem.. itu kamu mau pakai baju kayak gitu ke tempat mertuamu?" Tanya ibu masih fokus pada bagian atas dada putrinya.
"Hiiih ibu nyamain aku sama kebo sih? Emang baju Shela kenapa buk?" Shela ikut melihat ke arah yang ibundanya perhatikan.
"Astaghfirullah.. mas To gila!" Shela segera masuk kamarnya, Parto yang sedang berganti baju kaget dengan kedatangan Shela yang seperti ingin merobohkan pintu kamarnya sendiri.
Ibu hanya menggeleng pelan dan menuju dapur lagi, ngelus dada karena kelakuan anak serta mantunya yang sama nyelenehnya.
"Gusti La.. kamu mau bikin pintu itu ambruk?" Menarik resleting celana.
__ADS_1
"Apa ini? Apa ini?? Kamu kok gragas (rakus) banget to Mas?!!" Shela malah membuka bajunya di depan suaminya. Parto tak kuasa menahan diri untuk tidak melongo, tanpa berkedip, Parto bingung, ini sebenarnya Shela kenapa.. Tadi katanya ngajak ke rumah emak sama bapak. Kok sekarang malah lepasin baju di depannya.
"Kenapa La?" Parto mendekat ke arah Shela. Masih enggak tahu dia melakukan kesalahan apa.
"Kenapa? Kamu enggak lihat ini semua bagian dadaku penuh bekas bibirmu, se-mu-a ba-gi-an!! Dari bawah leher sampai bawah pusar semua kamu tandai, udah ditutupi pake baju aja masih kelihatan. Aku tadi enggak ngeh sampai ibu negur aku.. Udah ah aku enggak mau ke rumah emak!" Shela ngambek. Belum juga memakai bajunya, hanya memakai pelindung untuk kedua bukit pribadinya.
Parto tersenyum, mengelus manja rambut istrinya. Mengambil kembali baju istrinya yang tadi sempat dilempar ke lantai oleh pemakainya.
"Mau pakai sendiri apa aku pakaiin?" Masih diam tak ada jawaban. Parto berkata selembut mungkin, istrinya ini bisa berubah jadi bidadari dan nini kunti dalam waktu sepersekian detik, dia yang tahu watak istri manisnya ini udah dilatih untuk menaklukan apapun karakter Shela saat sedang ngamuk maupun pas ingin dimanja.
"Bukannya kamu juga udah tahu... kan kamu duluan yang mulai, aku enggak berani ambil strat kalau enggak kamu yang kasih kesempatan." Parto duduk di samping Shela.
"Ya tapi kan jangan nyampe ke dada atas juga To.. Kamu in-" Sebuah ciuman menghentikan ucapan Shela. Semakin dalam ciuman itu, Shela yang awalnya enggan membalas kini malah memejamkan matanya. Kalau udah sah mah bebas gaess!
"Kamu lihat leherku, aku aja bingung ini nutupinnya pakai apa. Tapi, aku santai aja.. malah aku senang, saat ada yang melihatnya nanti mereka akan berpikir betapa istriku sangat sayang sama aku. Sampai ngasih tanda ini di setiap sudut diriku.., perlu aku buka baju? hanya sekedar mengingatkan kembali banyak tanda seperti itu yang kamu ciptakan untukku?" Parto berniat melepas kemejanya, membuka satu persatu kancing bajunya.. tapi, tangan Shela menghentikan tindakan Parto.
"Enggak perlu.. aku tahu.. sangat tahu di mana aja aku kasih cupangan ke kamu," Shela udah bisa tersenyum lagi.
Kan.. mudah menghadapi Shela sebenarnya. Hanya butuh perhatian, sabar, dan jangan ngeyel aja.. dari Nini kunti yang menyemburkan sejuta kemurkaan kini istrinya kembali ke sosok bidadari impian.
"Masih sakit?" Tanya Parto membuat Shela makin tersipu.
__ADS_1
"Apaan sih.. ini jadi ke rumah emak apa enggak?" Shela mengambil baju yang ada di tangan Parto. Parto hanya tersenyum memperhatikan Shela yang makin manis setiap dia memandang wajah istrinya.
"Pakai ini, kalau pakai jaket enggak bakal kelihatan.. yang dikasih tanda juga yang di dalam sana aja. Enggak bakal ada yang lihat kecuali kamu buka baju kayak tadi.."
Shela memperhatikan Parto. Lelaki itu kenapa bisa membuatnya jatuh cinta berkali-kali..
Saat Parto berbalik dan ingin membuka pintu kamar. Tapi, dari belakang.. Shela memeluk tubuh suaminya. Otomatis Parto berbalik dan membalas pelukan istrinya itu.
"Kenapa?" Tanya Parto memperhatikan Shela yang masih mendekapnya.
"Aku sayang kamu." Ucap Shela tanpa malu. Ya enggak usah malu-malu La.. karena semua rasa malu udah disapu bersih oleh Pio dan kak Pai.
"La.. kalau kamu kayak gini kok aku enggak minat keluar dari kamar." Parto tersenyum saat Shela mengendurkan pelukannya.
"Ya jangan.. kan kita mau ke rumah emak.."
"Mau tes kekuatan ranjangku enggak nanti malam?" Ucap Parto nakal.
"Hah?"
"Jangan aneh-aneh di sana Mas.. kamarmu itu dempetan (deketan) sama kamar Indah.. bisa tercemar otaknya kalau denger uh ah mu" Imbuhnya, Shela tersenyum mengingat olahraga yang mereka lakukan semalam.
__ADS_1
"Bukan di rumah emak sayang... tapi, di rumah kita sendiri.." Parto mengulurkan tangannya untuk Shela genggam saat istrinya dirasa udah siap keluar dari kamar yang menjadi saksi kegarangannya semalam.