Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Perintah Ibu


__ADS_3

Celana yang basah tepat di bagian 'itu', tisu berceceran, serta posisi kepala Shela yang menunduk saat melihat hasil karyanya, membuat ibu yang baru saja selesai membuat bolu gulung siyok (syok).


Ibu berpikir ke arah yang tidak semestinya.


"La.. Mas.. Kelian ini lagi ngapain?" Ibu masih bengong berdiri mematung dengan tangan yang membawa satu piring bolu yang tadi beliau buat.


Shela langsung berdiri, salah tingkah dan enggak tahu mau ngomong apa. Enggak mungkin juga dia bilang habis ngelus-ngelus 'burung kakak tua'.


"Teh yang mau tak minum tumpah buk, lha malah tumpahannya buat celanaku basah. Tadi, Shela ngambil tisu.. buat ngelap celanaku. Tapi, enggak apa-apa.. nanti juga kering sendiri buk." Tutur Parto.


Ibu melihat ke arah celana Parto yang basah. Lalu berdehem, menaruh piring yang sedari beliau pegang ke atas meja.


"Shela yang ngelap gitu mas?" Tanya ibu duduk di depan Parto.


"Mboten buk." (enggak buk.)


Shela diem aja, mau ngomong apa. Dia terlanjur malu, mau lihat Parto aja enggak berani.


Kebisuan Shela membuat Parto berinisiatif mengajak pacarnya itu ngobrol, agar Shela bersikap biasa lagi. Tapi, yang diajak bicara menjawab apapun candaan atau perkataan Parto dengan singkat aja. Melihat perubahan sikap Shela yang mungkin enggak nyaman dengan kehadirannya karena kejadian tadi, Parto memutuskan untuk pulang.


"Maaf ya La.. aku pulang dulu," Pamit Parto kepada Shela. Setelah sebelumnya Parto pamit kepada ibunda Shela.


Mereka ada di halaman rumah saat ini. Dengan Parto sudah nangkring di motornya.


"Enggak.. aku yang minta maaf, celanamu basah gara-gara aku. Tadi mau aku keringin kamu enggak boleh," Shela melihat langit yang gelap pekat. Sepertinya nanti akan turun hujan.


"Kamu mau aku lepasin celana? Terus aku pakai apa?"


"Kan pakai hairdryer enggak perlu dilepas juga kan enggak apa-apa." Ucap Shela menjelaskan.


"Bisa kering sampai dalem itu nanti La, udah enggak apa-apa.. nanti juga kering sendiri."


"Aku pulang ya," Parto menyalakan motornya.

__ADS_1


Enggak disangka, Shela malah memegang tangan Parto yang sudah siap sedia di setang motornya. Seakan bertanya kepada Shela, Parto hanya mengernyitkan kedua alisnya.


"Kenapa La?" Tanya Parto membalas genggaman tangan Shela.


Tak ada jawaban, Shela diam saja. Parto bingung ini pacarnya kenapa. Parto memang bukan tipe cowok yang pintar membaca kode cewek seperti kedua sahabat yang memang ahli dalam hal itu. Apalagi Beni, dia paling jago dalam urusan cewek.


"Aku enggak marah kok, aku pulang karena udah malem juga. Besok aku ke sini lagi ya, boleh?" Apa mungkin Shela masih ingin Parto berada di rumahnya?


Shela masih diam seribu bahasa.


"Kamu kenapa?" Daripada menebak-nebak makin membuat Parto bingung, dan lagi dia juga enggak punya keahlian macam cenayang yang bisa membaca hati serta pikiran seseorang, Parto lebih memilih bertanya aja. Pepatah mengatakan, malu bertanya ya enggak jadi nanya. Hahaha bukan itu, malu bertanya sesat di jalan. Daripada makin sesat akhirnya Parto mengakhiri kebingungan ini.


"Ya udah kalau mau pulang ya pulang aja sana!" Galak lagi kan, hmm ini orang maunya apa dah?!


Turun dari motor, Parto langsung merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kalau kangen bilang aja, aku akan berusaha selalu ada buat kamu. Maaf ya La kalau aku enggak peka,"


Parto mengira Shela akan diam saja atau lebih tragis dia bakal didorong sampai jatuh terjengkang, ternyata Shela malah membalas pelukan Parto. Hah? Enggak salah?


"Aku juga kangen kamu La.." Di usap pelan pucuk kepala Shela. Seakan tahu kalau Shela sebenarnya merindukannya tapi segan atau malu untuk mengatakan.


Parto yang terbawa suasana menarik dagu Shela agar gadis itu melihat ke arahnya. Tapi, Shela malah mendorong sedikit dada Parto karena dia tahu apa yang lelaki itu mau. Ya, silaturahmi bibir. Itu yang ada di otak Parto saat ini.


"Aku jamin, aku bisa lebih pro daripada sebelumnya.." Bisik Parto tepat di telinga kanan Shela. Ulah Parto itu membuat Shela merinding seketika.


Hei hei hei.. Kelian pikir ini suting pilem (syuting film) India hah? Ciuman di bawah rintik hujan, biar apa? Romantis? Enggak!! wahai sodaraku.. yang ada kalau kelian terusin aktivitas berbau kemesuman yang haqiqi itu akan membuat kelian masuk angin.


Ya udah lah, dari pada yang nulis dihujat reader mending tak terusin aja ini adegan anu nya.


Sejak tadi Shela enggak ngomong sedikit pun selain menyuruh Parto segera pulang, tapi saat Parto ingin mengunjungi bibirnya dia berucap..


"Buktikan!"

__ADS_1


Satu kata itu membuat otak Parto langsung konek. Naluri cowok itu bangkit setelah mendengar ucapan kekasihnya, seakan menantang dirinya untuk melakukan hal yang memang dia inginkan.


Di bawah rintik hujan yang semakin deras itu, dua insan yang sedang menyalurkan rasa rindu mereka dengan membuat pertemuan bibir akhirnya menyudahi berjuta rasa yang mereka ciptakan sendiri.


Shela enggak nyangka, Parto beneran bisa bikin dirinya adem panas karena keahliannya menautkan bibir mereka. Padahal dulu Parto sangat kaku saat melakukan hal itu.


"Kamu latihan sama tembok tiap hari ya?" Tanya Shela dengan pipi yang udah ngeblush.


Parto melepas jaket yang dia pakai, dengan gerakan lembut dia pakaikan jaket yang tadi masih menempel di badannya untuk melindungi pacar kesayangannya itu dari deraan hujan.


"Kamu masuk gih.."


Kalimat itu mengakhiri pertemuan mereka. Keduanya berpisah, berpisah karena Parto mau pulang ya.. bukan berpisah putus.


"Nduk.. duduk sini" Ibu menepuk kursi sampingnya, memberi kode kepada Shela agar mau duduk dulu sebelum masuk ke kamarnya.


"Iya buk." Shela menurut.


"La.. ibu mau ngomong, ini tentang kamu dan masmu.." Ibu melihat perubahan ekspresi yang anak gadisnya itu tunjukan.


"Ibu lihat apa yang kamu sama masmu tadi lakukan di depan sana," Makin terkejut lah Shela.


Nah kan.. udah othor bilangin jangan lanjut, ngeyel sih. Ketahuan ibu kan jadinya,


"Buk.." Ibu mengusap punggung tangan anaknya.


"Nduk.. Ibu mengerti di umur kamu sekarang rasa ingin tahu mu tentang lawan jenis itu semakin besar. Tapi, perlu diingat.. kamu harus bisa mengontrol nafsu. Kamu anak gadis ibu satu-satunya, cuma kamu harapan ibu,"


Ibu menarik nafas, melanjutkan ucapannya..


"Kalau memang kamu sudah mantap dengan masmu, suruh masmu dan keluarganya datang ke sini bicara sama ibu, bisa?"


Shela kaget mendengar ucapan ibunya barusan, apa ini..? Kok malah jadi gini, Shela juga masih diam tanpa bisa menjawab perkataan ibunya.

__ADS_1


To... ku cekik kamu!!


__ADS_2