Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Gulat di Cafe


__ADS_3

Shela kembali memasuki cafe, langkahnya bagaikan Dewi Athena yang bersiap untuk melakukan peperangan. Auranya membuat Mista ikut merinding saat melihat Shela berjalan melewatinya.


Meisya seperti enggak belajar dari masa lalu, dia malah ikut memamerkan keberaniannya.


"Sya.. kamu jangan ribut di sini. Malu. Ya Allah,," Mista berusaha memegang tangan Meisya tapi ditepis oleh temannya itu.


"Ada masalah apa lagi?" Tanya Shela menaruh kedua tangannya di depan dada. Tau kan posisinya kek apa? Kalau enggak tahu ya udah, nanti cari gambar di Gugel. Kita cari bareng-bareng. Kita? hahaha udah lupakan! Otak othor mulai oleng.


"Kamu! Kamu muncul di depanku kayak sekarang aja udah salah dan cari masalah! Jangan sok kamu di sini, ini daerah kekuasaan ku you know?"


Meisya menunjuk Shela dengan jarinya. Tapi, masih menjaga jarak aman untuk menghindari serangan mendadak dari Nini kunti.


"Wah wah... Aku baru tahu kalau di sini ada premannya juga. Mengklaim cafe ini daerah kekuasaannya. Terus mau mu apa?" Shela tak gentar.


Mista makin bingung. Ini ada apa? Dia mencoba menghubungi siapapun di nomer kontaknya. Semua temannya mungkin sedang menuju ke cafe ini sehingga enggak ada satupun yang mengangkat teleponnya.


Mista takut ada adegan jambak-jambakan di depan matanya, di tempat umum. Ah rasanya dia ingin masukin Meisya ke kresek item dan membawanya buru-buru pergi dari situ.


"Aku maunya kamu minta maaf sama aku atas apa yang udah kamu lakuin ke aku beberapa waktu lalu. Kamu bikin aku malu dengan semua ulah mu!" Meisya berkata sambil menaruh kedua tangannya di pinggang. Nantang Mbak? Iya, fix ngajak gelud itu si Meisya.


"Hahaha aku minta maaf untuk kesalahan yang mana? Jangan ngomong panjang lebar tapi semua omonganmu itu sampah. Kamu tahu sendiri siapa yang mempermalukan siapa. Bukan aku, tapi semua karena kelakuan mu sendiri. Berkacalah!"


Meisya berang. Dia maju dan langsung melayangkan jurus tangan seribu ke arah Shela. Tapi, Shela langsung menepis gerakan Meisya. Sangat mudah untuk dibaca. Sekarang malah tangan Meisya ditelikung kebelakang oleh Shela.


"Aduuh lepasin! Sakit! Cewek gila! Kamu mau patahin tanganku apa? Mista tolongin!"


Mista berlari mendekati Shela.


"Mbak.. udah Mbak lepasin tangan temenku itu. Ya Allah ini kok enggak ada yang misahin to, Mbak kita bisa omongin baik-baik Mbak."


Shela langsung melepas tangan Meisya tapi hal mengejutkan terjadi, Meisya malah berbalik menyerang Shela dengan menampar pipi gadis cantik itu. Rasa perih akibat tamparan Meisya menjalar ke sekitar area tamparan.


"Astaghfirullah.. Meisya, Ya Allah kamu gila ya?! Mbak,, maaf Mbak astaghfirullah..."


Mista berusaha menolong Shela tapi Shela hanya diam. Amarahnya memuncak. Mukanya berubah merah bak tomat kematengan.


"Apa? Kenapa melotot kayak gitu? Kita impas kan? Gimana rasanya? Seperti itulah yang aku rasain dulu!" Meisya menunjukkan senyum penuh kemenangan. Senyum devil.


Shela mengambil air yang ada di meja cafe, sepersekian detik air itu sudah berhambur ke muka Meisya. Mista melonjak kaget.


Ya Allah Gusti... tolong siapapun pisahin mereka. Ini ulang tahunku kenapa jadi ajang adu gulat gini.

__ADS_1


Enggak terima dirinya dimandiin jus jeruk bekas pelanggan cafe, Meisya yang juga dipenuhi amarah berjalan cepat menuju Shela. Dia ingin menggampar Shela sekali lagi, tapi saat Meisya mulai mendekat, Shela malah menendang kaki Meisya. Sengaja menghalangi langkah kaki Meisya saat berjalan, alhasil Meisya jatuh tersungkur.


Hal itu membuat Mista makin panik.


Saat akan berdiri, Meisya dikagetkan dengan guyuran dari semangkuk bakso yang udah diberi toping sambal dan saos di atasnya.


"Aaaaach gila! Kamu waras apa enggak?"


Shela tetap tak bergeming. Mista membantu Meisya untuk berdiri.


"Sya udah Sya udah.. hargai aku Sya... ini hari ulang tahunku..." Mista menitikan air mata.


Shela memandang penuh kemurkaan ke arah Meisya.


"Kamu beruntung punya teman dia!" Shela berjalan keluar cafe tapi, semua orang dikagetkan dengan tindakan bar-bar Meisya yang melempar kursi kayu berukuran sedang ke arah Shela. Dia enggak terima atas penghinaan yang dia rasakan. Lho emang siapa yang hina dia?


Ya mungkin Meisya berpikir semua tindakan Shela udah bikin dia malu dan terhina.


Kursi itu enggak sampai mengenai Shela karena tubuh kokoh Parto menghalangi lemparan benda terbang itu. Sebagian pengunjung cafe langsung berhambur keluar. Beberapa orang ada yang masih di dalam dan masih menonton drama real life di depan mata mereka.


"Meisya!! Kamu apa-apaan Ya Allah..." Mista berlari ke arah Parto. Begitu juga dengan Shela dia terkejut, darimana datangnya manusia satu ini. Dan bisa-bisanya dia pasang badan di saat yang sangat tepat seperti sekarang.


Parto tersenyum ke arah Shela. Mengisyaratkan dia fine.


"Kamu dateng dari mana bisa tiba-tiba ada di sini?" Suara Shela masih terdengar khawatir.


"Mas, Masnya enggak apa-apa? Ada yang luka..? Kita ke Puskesmas yo Mas?" Mista ikut khawatir karena tindakan arogan Meisya bisa saja mencelakai orang lain sekarang ini.


"Aku tadi ada di sekitar sini, biasa si ayam ngadat. Mungkin emang sengaja mogok biar aku bisa jadi tameng kamu." Parto malah terkekeh melihat ekspresi khawatir Shela. Melihat hal itu Shela malah memukul Parto pelan di bagian bahu. Parto makin melebarkan senyumnya karena ulah Shela.


'Aaaw.. sakit!' Berbisik lirih di dekat telinga Shela. Sempat-sempatnya Parto ini modus.


"Aku enggak apa-apa Mbak, mending temennya diajak pulang biar enggak makin buat keributan di sini." Parto menatap Mista dengan sedikit menaikan ujung bibirnya. Sok cool ya?


"Iya Mas.. Sya kamu minta maaf sama Mas dan Mbak ini dulu, abis itu kita pulang. Aku malu Sya... Kamu bikin aku jadi tontonan di sini." Mista berjalan menuju mejanya tadi dan mengambil tas serta dompet. Tak lupa dia juga mengambil kue tart yang dia order dari Shela.


"Mis.. kok kamu nyalahin aku?? Mis tunggu!! Mis.. kamu tahu kan dia yang mulai duluan??!" Meisya berusaha mengejar langkah kaki Mista.


Sementara itu Parto yang masih berada di dalam cafe menaruh kembali kursi yang tadi sempat terbang dan mengenainya.


"Duduk To," Shela menunjuk bangku kosong di sampingnya.

__ADS_1


"Pulang aja yuk, atau kamu masih mau di sini?"


"Iieh kamu ini duduk dulu, ada yang luka enggak tadi?" Shela gemas dan menarik tangan Parto memaksa Parto untuk menuruti kemauannya.


"Kamu mau aku buka baju di sini? Biar kamu tahu ada yang luka apa enggak, hahaha" Shela cemberut mendengar ucapan Parto.


"Dasar gila!" Dengan gerakan yang enggak begitu kencang sekali lagi Shela memukul bahu Parto.


...----------------...


Keduanya sampai di rumah Shela setelah drama panjang karena Parto menolak di ajak ke Puskesmas. Parto hanya merasa enggak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik-baik aja. Itu menurut Parto.


Tapi tidak dengan Shela... di lempar dengan kursi dari jarak yang lumayan, pasti bikin ngilu. Apalagi yang terkena lemparan tadi adalah tubuh bagian depan. Wah Parto keren gaess,, dia pasti mikir kalau dia titisan Gatotkaca. Yang punya selogan otot kawat balung wesi (otot kawat tulang besi). Ya, kalau di jaman sekarang mungkin setara Ironman gitu. War biasyaah, tak habis pikir saya!


Parto duduk di ruang tamu. Ibu Shela enggak ada di rumah, jangan tanya kemana. Pokoknya enggak ada di rumah. Titik.


Setelah membuatkan teh hangat dan disuguhkan untuk Parto, Shela kembali duduk tepat di samping Parto. Tumben mau deket-deket, udah enggak alergi sama Parto?


"Apa?" Tanya Parto yang merasa diperhatikan Shela.


"Lah... apa?" Giliran Shela yang balik tanya.


Keduanya terdiam. Sampai mereka dikejutkan dengan bunyi hp milik Shela. Ternyata ibunya menelepon.


"Iya Buk, Waalaikumsalam.. oowh njih buk. Sekarang? Hmm njih.... Assalamualaikum."


Parto menatap Shela seolah bertanya. Shela yang mengerti langsung menjelaskan kepada Parto, kalau ibundanya meminta dia membuat kue bolu yang nanti akan diambil sendiri oleh orang yang memesan.


"To.. kamu di sini dulu ya, bentar kok. Tu ada cemilan makanin aja,"


"Tenang aja, ntar kalau aku bosan.. ni kaki meja bakal aku abisin. Lagian kenapa aku enggak boleh pulang aja to La? Tumben banget.. biasanya baru sampai sini juga udah kamu usir."


"Apa sih To, berisik tahu enggak! Udah kamu diem dulu di sini!"


Mendengar titah Baginda Ratu, Parto bisa apa.


Dia diam. Menunggu. Lima belas menit terasa sangat lama, akhirnya Parto tanpa sadar tertidur di ruang tamu rumah Shela.


"To.. kamu kok nurut banget disuruh diem kok ya diem beneran, itu tehnya diminum du... " Tapi ucapan Shela terhenti saat melihat Parto tertidur dengan posisi tangannya yang dijadikan bantalan kepala.


__ADS_1


__ADS_2