Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Hati yang Menghappy


__ADS_3

"Mas Beni kemana mas?" Tanya Indah yang clingak-clinguk mencari keberadaan Beni.


"Kenapa cari orang lain kalau ada aku di hadapanmu dek. Ngambek ah!" bocah sekali sih Seno ini.


"Ya kalau mas Seno yang enggak di sini pasti aku tanyain juga, ngapain tanya orang yang jelas-jelas ada di depan mata dan di dalam hatiku sih.." Eaaaa bucin. Senyum dong Seno.


"Makin pinter ya gombalin aku, enggak di klinik abis kamu," Ancam Seno yang enggak terdengar menyeramkan bagi Indah.


"Habis gimana? Bisa dijelasin?" Tersenyum makin membuat Seno gemas.


"Tunggu aku halalin kamu, baru aku kasih tahu konsep 'habisin' kamu versi aku!" Tertawa ala devil!


Seno memegang tangan Indah. Indah yang terbiasa dengan sentuhan Seno hanya diam, tiba-tiba emak dan bapak keluar dari ruang rawat Parto. Emak yang ada di depan bapak melihat kemesraan antara Indah dan Seno. Emak kembali memundurkan langkahnya. Bapak yang enggak tahu istrinya bakal mundur mendadak langsung tertabrak oleh aset emak yang membuat bapak geleng kepala.


"Apa lagi mak?" Merasa istrinya ini bak detektif aja.


"Pelan-pelan ngomongnya pak, lihat itu.. lihat! jebul (ternyata) Seno sama Indah pacaran!" Emak berbisik sambil melihat pemandangan di depannya dua insan yang sedang main pegang-pegangan tangan.


"Kenapa? Mau emak ka_winin juga?" Tanya bapak asal.


"Ngawur! Bapak hari ini kurang ngopi ya? Perasaan dari tadi bikin emak emosi aja!"


Mendengar suara emak dan bapaknya, Indah langsung menarik tangan yang masih digenggam Seno.


"Kenapa dek?" Tanya Seno bingung. Indah memberi kode agar Seno melihat ke samping tepat di pintu ruang rawat pasien. Seno langsung mengerti, dia mengubah posisi duduknya.


"Apa bapak tahu kalau Indah pacaran sama Seno?" Tanya emak kembali berbisik. Udah mak, teriak aja enggak apa-apa.. mereka udah tahu kalau lagi dipantau sama emak!

__ADS_1


"Ya tahu, kan Seno pernah bilang sama bapak." Bapak keep santuy.


"Kok ndak bilang sama emak?? Iiieh ini banyak rahasia yang disembunyiin dari emak ya? Bapak mulai ndak asik sekarang!!" Emak ngegass gaess. Merasa hal penting enggak diinformasikan ke beliau.


"Banyak rahasia apa? Kalau mau asik bukan di sini tempatnya mak, ayo pulang dulu!" Somvlaknya Parto dari gen bapak ternyata. Dua kali bapak mendapatkan pukulan manja di pundaknya karena emak yang gemes sama tingkah bapak!


"Mak.. mau kemana?" Tanya Indah,


"Ndak kemana-mana, mau duduk di luar aja. Di dalam bau obat, emak ndak betah Ndah sama baunya!" Emak duduk di sebelah Indah.


"Wajar kalau klinik bau obat mak, kalau bau parfum baru aneh.." Bapak ikut berkomentar.


"Diem pak! Emak lagi kesel sama bapak!" Hayoloo pak...


Indah dan Seno saling memandang, ada apa ini? Pikir mereka.


"Sen, Beni kemana?" tanya emak. Pertanyaan yang sama yang tadi Indah tanyakan dan belum dijawab oleh Seno.


"Pulang dulu mak, katanya nanti sore mau ke sini lagi." Jawab Seno. Seno manggil emak dengan sebutan emak? Iyalah.. udah lama mereka semua kenal, emak sendiri yang meminta Seno dan Beni memanggil beliau dengan sebutan yang sama yang biasa Parto pakai untuk memanggil emaknya.


Mereka berbincang ringan. Tanpa menyinggung hubungan antara Indah dan Seno. Emak cukup tahu, dan diam aja sebelum Indah sendiri yang menceritakan kepada beliau kalau dirinya sedang menjalin hubungan dengan Seno.


Di dalam ruang rawat inap, Parto memandang Shela yang terlihat kelelahan.


"La.. kamu udah makan?" Tanya Parto meraih tangan Shela.


"Udah. Kamu kenapa enggak bilang kalau seharian kemarin perutmu belum kamu isi bahan bakar?" Dia mengingat cerita Beni.

__ADS_1


"Eh.." Parto heran darimana Shela bisa tahu jika lambungnya baru terisi makanan sejak kemarin. Itupun harus Shela yang menyuapinya.


"Apa ah eh ah eh?" Shela tahu pasti Parto bingung saat ini.


"Beni apa Seno yang cerita?" Tebak Parto sedikit merubah posisi berbaringnya.


"Jangan menjawab pertanyaan dengan balik bertanya! Itu enggak sopan,"


Parto menghela nafas. Enggak bakal menang dia adu debat dengan pacarnya itu. Akhirnya Parto menceritakan kenapa dia enggak makan sedari kemarin kepada Shela. Persis cerita Beni. Tapi, Parto mengskip bagian alasan dia menunda makannya karena ingin segera bertemu Shela. Dia juga tahu, hal itu pasti akan membuat Shela tak enak hati.


"Jadi gimana La.. emak minta kita nikah setelah aku sembuh.." Parto mengalihkan pembicaraan.


"Kamu siap?" Shela balik bertanya.


"La.. jangan menjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Itu enggak sopan." Parto tersenyum karena bisa membalikan ucapan Shela.


"To.. nikah itu gampang, yang susah itu menjaga agar pernikahan bisa langgeng. Aku udah mantapin hati dan milih kamu sebagai imamku. Jadi, kapan aja kamu siap ya aku siap!" Ucap Shela mantap.


"Aku terlalu banyak kekurangan sebenarnya La, hanya modal nekat dan modal hati yang tulus aja aku tahu semua itu enggak cukup untuk membina rumah tangga. Alhamdulillah Allah memudahkan jalanku untuk mencari rejeki, tanpa perlu merantau.. tanpa perlu pergi jauh dari kamu.. dan Insya Allah aku siap buat halalin kamu!"


Shela membalas genggaman tangan Parto.


"To.." Panggil Shela memandang wajah Parto yang masih kelihatan pucat.


"Dalem,"


"Aku pernah bilang enggak.. kalau aku sayang kamu!" Shela bersemu, ngeblush gaess.

__ADS_1


Apalagi Parto, jangan ditanya bagaimana bahagia dia saat ini. Meski tubuhnya sakit, tapi hatinya benar-benar menghappy!


__ADS_2