Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Ke rumah Wanda


__ADS_3

Malam itu Beni yang sedari siang terus memikirkan Wanda, akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi kediaman Wanda. Beni ingin memastikan setelah kejadian tempo hari itu Wanda baik-baik saja. Sebenarnya dia sendiri juga tahu, tidak ada yang baik-baik saja untuk orang yang baru patah hati.


Wanda yang melihat kedatangan Beni dari jendela kamarnya, segara berjalan menuju keluar.


Beni mengetuk pintu rumah Wanda setelah sebelumnya dia membuka pagar kecil yang ada di teras rumah gadis itu. Beni mengucap salam, pintu segera dibuka karena Wanda sudah tahu kalau ada tamu untuknya.


"Maaf datang kesini malam-malam gini ya Nda.." Beni memperhatikan raut muka Wanda. Terlihat sembab dan lingkar mata menghitam. Sudah bisa dipastikan, Wanda down beberapa hari ini. Wanda mempersilahkan Beni untuk duduk.


"Enggak apa-apa Beben.." Wanda tertunduk saat menyadari dirinya menjadi obyek pandangan Beni.


"Kamu di rumah sendiri?" Tanya Beni yang melihat ke arah dalam rumah. Wanda hanya mengangguk.


"Kamu udah makan?" Sekali lagi, Wanda hanya mengangguk menjawab pertanyaan Beni.


"Cerita Nda.. aku siap dengerin!" Kalimat yang Beni ucapkan itu, malah membuat Wanda kembali meneteskan air mata.


"Aku salah timing keknya.. apa aku pulang aja Nda?" Beni tetap berusaha mengajak Wanda untuk berbincang, meskipun gadis itu terlihat pasif dan masih enggan membuka suara.


"Ben.. Aku yang bodoh Ben, aku yang enggak bisa kontrol perasaanku.. Aku buta, karena semua perhatian dan gombalannya membuatku nyaman,, tapi, aku enggak tahu kalau akhirnya jadi seperti ini."


Wanda menangis, Beni mengambil selembar tisu yang ada di meja memberikan kepada Wanda untuk menghapus air matanya. Pelan-pelan Wanda menceritakan awal berkenalan dengan Adit. Lelaki yang membuatnya morat-marit seperti sekarang ini.


Sampai akhirnya Wanda menghentikan ceritanya karena pelukan dari Beni. Eh.. apa-apa? dipeluk? Iya.. Beni memeluk Wanda, seketika gadis itu menangis di pelukan sang mantan.


"Bukan kamu yang salah.. Bukan kamu yang bodoh, kamu terlalu percaya sama dia, rasa percaya yang sulit didapatkan tapi, semudah itu dia hancurin kepercayaanmu.!" Beni mengusap pelan rambut Wanda. Wanda akhirnya tenang, dia berhenti menangis. Dia menatap mata Beni yang sekarang hal yang sama juga Beni lakukan.. menatap kedua manik mata coklat indah milik Wanda.

__ADS_1


"Maaf Nda.. aku refleks tadi, maaf.." Beni segera menggeser duduknya agak menjauh dari dekat Wanda. Wanda juga jadi salting.


"Ben.. makasih ya.." Ucap Wanda dengan suara serak khas orang yang habis menangis.


"Karena udah meluk kamu?" Tanya Beni sambil mengernyitkan kening.


Wanda tersenyum mendengar ucapan Beni,


"Kalau aku tahu pelukanku bisa bikin kamu senyum kayak gini, udah dari tadi aku lakuin Nda.." Sekarang Beni yang tersenyum karena melihat Wanda yang blushing.


"Bukan lah Beben.. Karena kamu udah kesini buat hibur aku, Ben.. kamu enggak apa-apa ini jam segini masih di sini?"


"Wah ngusir.. habis manis sepah ditelen hahaha"


"Kamu mau aku nginep di sini aja hmm" Beni memandang Wanda sambil menaikan alisnya. Sok keren? Yo mben. (Ya biarin.)


"Ya enggak gitu juga konsepnya.. kamu ini selalu bisa bikin aku senyum Ben.." Wanda tertunduk memainkan jemarinya,


"Kamu selalu bisa bikin aku mikirin kamu.." Ucap Beni asal. Hal itu membuat Wanda memandang Beni. Melihat ke mata Beni, mencari kebenaran di ucapan lelaki yang sekarang berstatus mantan pacarnya itu.


"Apa? enggak percaya?" Beni sepertinya tahu apa yang Wanda pikirkan. Beni kok pinter banget ngomongnya? Ya karena seorang Beni emang dirancang sedemikian rupa untuk pinter dalam hal itu. Beni playboy? enggak juga.. cuma sering ganti pacar aja. Itu sama aja Thor! Eh.. iya itu lah pokonya, asal kelian bahagia aja.


"Percaya Ben.."


"Nda.. dari tadi manggil aku kok Beben terus, bahkan sejak awal aku ketemu kamu di depan mini market waktu itu.. kamu enggak ngubah panggilanmu ke aku waktu kita masih jadian," Beni berucap sambil memiringkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku udah biasa manggil kamu seperti itu Beben, kamu enggak suka? kamu mau aku panggil nama aja?"


"Kalau panggil sayang aja gimana?" Beni ini apa sih, udah tahu Wanda baru putus. Hatinya masih rapuh, ibarat gedung.. hati Wanda baru aja dirobohkan.. tapi Beni malah mancing-mancing biar gedung itu berdiri lagi di tempat yang sama.


"Guyon mu nyebelin! (candaan mu nyebelin!)"


Beni malah tertawa melihat Wanda yang manyun.


Beni mengakhiri acara bertamunya di rumah Wanda. Dia pamit pulang, enggak mungkin juga dia terus-terusan ada di rumah Wanda.


Mendengar cerita Wanda, Beni menjadi geram sendiri.. pasalnya setelah kejadian beberapa hari yang lalu itu, istri Adit datang ke rumah Wanda dan ngamuk-ngamuk di sana. Tanpa mau mendengar penjelasan Wanda, ibu muda yang datang bersama anak dan suaminya itu mencak-mencak di sana. Membuat Wanda menjadi bahan tontonan para tetangganya.


Adit ikut? iya.. malah dia yang memberi tahu kepada istrinya dimana rumah Wanda, mengatakan kalau selama ini uang bulanan yang sering berkurang adalah karena ulah Wanda yang terus meminta jatah kepadanya padahal dia sudah mempunyai keluarga. Adit mengatakan kalau dia dirayu, dia mempunyai anak, istri.. dia lebih memilih keluarga daripada Wanda. Seperti itulah penjelasan yang Adit uraikan di depan istrinya saat berada di rumah Wanda. Alhasil, Wanda lah yang mendapat cap buruk sebagai pelakor ke ganjenan. Hal yang dia sendiri tidak tahu dan tidak menyangka kalau Adit bisa begitu tega memfitnah dia seperti itu. Melempar semua kesalahan hanya kepadanya seorang. Membuat dirinya menjadi bahan ejekan tetangganya beberapa hari ini, bahkan orang tua Wanda juga mendapat getahnya. Orang tua Wanda di tuding tidak pecus mendidik anak sehingga anaknya menjadi pelakor seperti yang mereka tuduhkan.


Malah ada yang mengaitkan, selama bekerja di kota.. Wanda menjadi simpanan bossnya. Hal yang sangat mengada-ada. Wanda sampai enggan untuk sekedar keluar rumah, rasanya dia bernapas saja di cap salah oleh para tetangganya.


Orang tua Wanda malam ini tidak ada di rumah karena mengunjungi embah uti (nenek) Wanda yang sedang sakit. Oleh karena itu Beni tidak berani berlama-lama main di rumah Wanda.


Beni tidak habis pikir dengan lelaki yang bernama Adit itu, kalaupun Wanda sedari awal tidak bertanya tentang statusnya.. tetapi sebagai pria yang sudah beristri dan mempunyai anak harusnya Adit bisa menjaga hati hanya untuk keluarganya saja. Apa hal itu bisa dikatakan sebuah perselingkuhan? Ya, untuk Adit. Dia tahu kalau statusnya melarang dia untuk membagi hati, membagi rasa, atau membagi perhatian pada perempuan lain selain istrinya tetapi dia tetap melakukan hal itu dengan sangat sadar. Membuat seseorang baper dengan gombalannya, lalu semudah itu dia bilang kalau Wanda lah yang menggodanya.


Beni menghentikan motornya di rumah Seno. Lho.. enggak pulang kok malah ke rumah Seno, Iya bagi lelaki, jam 21.00 itu masih sore kalau harus ngandang.


"Sen.." Panggil Beni tanpa mengetuk pintu rumah Seno. Seno membukakan pintu, melihat Beni yang datang seorang diri sambil menyelipkan sebatang rokok di mulutnya.. Beni bak tuan rumah yang langsung melenggang masuk ke dalam rumah. Seno menutup pintu tanpa bicara.


"Sen.. aku kok gemes pengen hajar orang!" Beni duduk di kursi ruang tamu. Seno menautkan alisnya. Seperti bertanya.. 'kowe kesambet setan opo?' (kamu kerasukan setan apa?)

__ADS_1


__ADS_2