Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Dia Emang Beda


__ADS_3

Bulan terlihat sangat ayu karena sinar yang dia pancarkan mampu memukau setiap mata yang memandangnya. Bulat sempurna dengan sinar yang terang. Dihiasi ribuan bintang yang mempercantik penampilannya, membuat sang bulan makin nampak anggun.


Malam itu, di bawah sinarnya sang bidadari langit, Parto sekali lagi ingin memberikan sesuatu yang sempat Shela tolak. Sebuah kalung. Kalung dengan bandul bulan sabit.


"Kenapa kamu kok ngotot banget pengen aku nerima kalung itu To?" Tanya Shela sambil memandang indahnya pesona bulan malam ini.


"Karena ini hak kamu, kalung ini aku beli buat kamu La!" Jawab Parto mantap.


Shela menggerakan tangannya untuk membuka kotak yang sejak tadi menjadi penengah diantara jarak mereka duduk.


"La.. itu memang bukan barang mahal tapi, aku beli itu dari uang hasil kerja ku sendiri La." Berniat lebih meyakinkan Shela agar mau menerima kalung yang dia beli untuk pacarnya, Parto menarik tangan Shela untuk dia genggam.


Shela akhirnya mengangguk mengiyakan keinginan Parto. Seperti keruntuhan durian eh apa ya.. pokoknya itu lah, Parto seneng banget. Dia langsung menunjukan deretan gigi putihnya.


"Kamu seneng banget, kenapa?" Tanya Shela yang cuek-cuek aja. Ini orang mungkin kepekaannya udah di ambang batas nyaris punah, sampai cowoknya happy karena dia mau nerima kalung yang udah lama ditolaknya aja masih tanya kenapa.


"Karena kamu mau nerima pemberianku lah, masa gitu aja tanya."


"Mau aku pakein La?" Tanya Parto bersemangat.


"Hmmm... enggak usah, aku mau jual kalung itu. Mayan buat beli telur To, boleh?" Shela selalu punya cara untuk membuat mood seseorang anjlok ke dasar jurang.


Parto langsung manyun dibuatnya. Shela yang melihat ekspresi Parto yang berubah langsung tertawa geli. Dan detik itu Parto sadar dia sedang dikerjai pacar nackalnya!


"Kamu kalau bercanda kek gitu amat sih La, aku kan mikirnya serius tadi."


"Lha emang aku serius,, aku mau jual kalung itu kalau hubungan kita cuma sebatas pacaran alay aja,"


Seperti mendapat kode untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius, Parto kembali berbinar. Aah ini adalah malam ter uwu untuknya.


"Maksudmu... kamu minta aku lamar kamu La?" Parto bertanya dengan hati-hati. Pasalnya pernah dia membahas hal ini tapi, Shela menolaknya mentah-mentah dulu. Dia bertekad untuk memantaskan diri dulu sebelum menjadi imam untuk Shela.

__ADS_1


"Iya lah To, emang kamu pacaran cuma mau main-main aja? Bukannya dulu kamu yang ngebet mau ka_win?" Semudah itu Shela minta dilamar? Saat cewek lain akan malu-malu tapi dia malah enggak punya malu saat mengatakan hal itu.


"Tapi, ya enggak sekarang juga... aku masih mau kembangin usaha catering ibu dulu. Kalau nanti udah nikah pesti bakal enggak bisa ngurusnya. Bisa sih tapi, paling dikit-dikit keganggu sama keinginanmu yang ingin melakukan proses berkembang biak! Itu kan memakan waktu To!" Ucap Shela meneruskan perkataannya.


Asli,, itu mulut Shela udah tanpa filter. Parto sampai melotot saking enggak tahunya mau jawab apa.


"Apa sih To?" Shela menatap heran kepada Parto yang masih ngowoh.


"La.. kamu belajar darimana semua kosakata nyeleneh kayak tadi itu?"


Sedikit menyunggingkan senyum, Shela menjawab..


"Aku mah enggak suka ngomong yang belibet! Muter-muter kayak lagi nari India, aku ya kek gini! Masa kamu baru tahu? Kamu mau mendalami karakterku dulu? Kita bubaran aja nanti kalau kamu udah ngerti aku kayak apa kamu balik lagi nembak aku... tapi, aku enggak jamin bakal khilaf untuk yang kedua kalinya dengan nerima kamu jadi pacarku."


"Heeeh.. enggak enggak... apaan bubaran! Jan bilang gitu lah La, iya aku ngerti kamu kok. Aku malah suka gaya kamu yang apa adanya gini, jadi enggak pusing aku nebak kode-kodean kayak cewek-cewek lainnya. Makin sayang tahu enggak aku sama kamu,, boleh peluk enggak?" Parto nyengir kek kuda abis makan bekatul.


"Gampar purun? Enggak ada ya To peluk-peluk! Dan satu lagi... buang pikiranmu tentang ciuman waktu itu! Apalagi mikir bisa ngulang hal itu lagi! Cuci dulu pikiranmu pake sanlet! Biar bersih seketika. Aku perhatiin dari tadi kamu lihat bibirku terus!"


Malam itu Parto berhasil memakaikan kalung untuk Shela. Sebenarnya berada sangat dekat dengan Shela seperti tadi saat dia memakaikan kalung, membuat naluri Parto bergerak untuk mengecup pundak mulus Shela. Tapi, untung saja hal itu bisa dia kendalikan. Kalau enggak udah pasti Parto bakal pulang dengan bekas bakiak yang ngecap di pipinya.


Setelah pamit pulang, dengan sedikit drama pengen minta peluk dan cium akhirnya Parto tiba di warung mbok Yuni. Nongkrong is wajib untuk para bujang seperti Parto.


Di sana udah ada Seno, meski udah punya pasangan masing-masing, mereka tetep setia dengan mbok Yuni. Tempat langganan mereka ngebon kopi, warung mbok Yuni juga yang selalu menjadi target mereka saat melepas gabut.


"Asyeeeek yang dapet jatah malem, piye To seger ra?" (gimana To seger enggak?)


Males menanggapi ledekan Seno, Parto langsung aja duduk di samping Seno.


"Beni ndi?" Tanya Parto clingak-clinguk.


"Masih oteweh, keknya pacarnya Beni yang sekarang aleman (manja).. Beni mau ngumpul aja susah banget."

__ADS_1


"Aleman mana sama Indah? Rumongso mau pipis aja digondeli katokmu!" (Manja mana sama Indah? Rasanya mau pipis aja dipegangi celanamu!)


Kedua insan minus ukhluk itu tertawa, emang bener.. Indah ini kadang bikin kepala Seno nyaris meledak karena over manjanya. Semua hal harus Indah tahu, dari jadwal bangun tidur sampai mau balik tidur lagi. Tapi, hal yang sama juga Seno lakukan. Apalagi sekarang mereka bekerja di tempat yang sama. Kalau enggak lihat Indah waktu jam istirahat aja dia pasti bisa menelpon puluhan kali menanyakan keberadaan gadisnya itu.


Dasar bucin akut.


"To.. rumah kamu udah mau jadi kan ya?"


Tanya Seno sambil membuka bungkus kacang kulit di depannya.


"Iyo, nenggopo?" (Iya, kenapa?)


"Takon ae to ora oleh?" (Tanya aja kok enggak boleh?)


Dari kejauhan terdengar suara knalpot motor Beni yang tak kalah bikin telinga berdenging seperti motor Seno.


Dan ternyata Beni enggak sendiri, dia bersama Wanda. Lah.. mau ngapain kok ngajak cewek kumpul bareng temen-temennya, mau pamer?


"Assalamualaikum wahai makhluk kurang micin!"


Seno males menjawab salam si kampret itu.


"Waalaikumsalam ya ahli kubur..."


Mendengar jawaban salam dari Parto membuat Seno ngakak. Beni merengut seketika. Wanda yang tadi duduk di atas motor Beni segera turun dan tersenyum ke arah dua teman pacarnya.


"Ke sana yuk Beib " Ajak Beni. Wanda hanya mengangguk saja.


"To.. Sen.. kenalin cewekku, ayu to? Namanya..."


"Wawan kan?" Sahut Parto sotoy. Hal itu membuat Beni gemes pen lempar Parto ke jurang tak bertepi.

__ADS_1


__ADS_2