Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Ketabrak


__ADS_3

Seno mengajak kedua temannya masuk ke dalam rumah. Tanpa Indah. Indah bingung menatap ketiga laki-laki yang masih jomblo itu berjalan ke dalam rumah Seno dan meninggalkan dia sendiri di empang. Kok bete ya? kalo aku jadi Indah mending beli apotas.. ku racun semua ikannya Seno! Bisa-bisanya nyuekin Indah kek gitu.


Terdengar suara motor Seno di starter, Indah makin penasaran. Ini gimana ceritanya kok dia di tinggal sendiri di empang? Enggak mungkin mereka lupain Indah yang masih di belakang rumah Seno sendirian kan? Indah berjalan menuju depan rumah Seno tapi, dia hanya menemukan kepulan asap dari knalpot motor Seno dan suara bising yang makin menjauh.


"Mas.. Mas To, Mas Beni, ini pada kemana to? Mas Seno.. Kok rumahnya sepi, masa aku di tinggal? Heh Mas.. Kelian kemana? Aku pulangnya gimana ini?" Indah enggak berani masuk ke dalam rumah Seno, dia hanya memanggil ketiga masnya itu dari depan rumah Seno saja.


"Aku jalan? Mas.. kok jadi horor gini," Indah mengambil hp yang ada di kantong celananya. Menghubungi Parto, tidak di jawab. Menghubungi Seno, no respon. Haruskah dia menelepon Beni juga? Dia menelepon Beni, lama.. enggak diangkat.


"Kelian ini kalau mau ngerjain aku jangan gini lah Mas, aku pulang aja ya.. Mas To awas aja sampai rumah tak banting hpmu!" Indah berjalan menjauh dari pintu depan rumah Seno. Belum sampai di pagar rumah Seno, dia di kagetkan oleh suara Beni dari dalam rumah Seno.


"Ndah.. Rep nok ndi kowe? (mau kemana kamu)" Beni tersenyum jail khas dirinya banget.


"Mas Beni tadi kemana? Aku telepon kelian lho, enggak ada yang jawab.. yawes aku mau pulang aja." Indah berjalan kembali mendekat ke arah rumah Seno.


"Aku ke kamar mandi Ndah, masa iya lagi setor sambil terima teleponmu.. kok mau pulang ngopo?" Beni mengecek hpnya yang dia letakkan di saku jaket.


"Kelian ini enggak asik banget, masa aku di tinggal dewe.. Mas To mana? Mas Seno mana? pada ngilang.." Indah mengerucutkan bibirnya. Sebelnya benaran apa dibuat-buat itu Ndah? Kok makin gemes pengen nabok jadinya.


"Seno di telepon ibunya.. pulang kali dia, enggak tahu juga. Kalau Masmu yang sableng itu tadi pinjem motor mau ke rumah pak Agus. Di suruh kawin sama kambingnya pak Agus keknya atas apa yang dia perbuat sama kambingnya pak Agus hahaha," Jawaban asal Beni membuat Indah gemes.


"Idiiieh Mas Beni jangan ngawur!"


Beni makin ngakak melihat Indah yang kesal karena ucapannya. Hp Beni berdering, dia melihat siapa yang sudah meneleponnya.


"Piye? Opo? Heh yang bener? astaghfirullah.."


Beni menunjukkan muka tegang dan cemas menutup telepon dari manusia di seberang sana. Serius keknya ini.

__ADS_1


"Ndah.. kamu mau ikut aku? aku mau ke puskesmas..!" Beni menutup pintu rumah Seno. Gerakannya terburu-buru. Indah yang melihat hal itu hanya plonga-plongo, belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Karena memang dia tidak tahu ada apa sebenarnya.


"Ono opo to Mas? Mas Beni ini kok kayak orang panik gini, ngajak ke puskesmas kenapa?" Indah tetap ngecipris meskipun dia sekarang sudah naik di boncengan motor ayam kepunyaan Parto.


"Seno ketabrak jare.." Kata Beni singkat.


" Syeeem.. iki motor angel men di jak obah (ini motor susah amat di ajak gerak)."


Indah kaget mendengar penuturan Beni. Enggak mungkin kan Seno kecelakaan? Tadi aja mereka masih guyonan bareng kok di belakang rumahnya Seno. Setelah beberapa kali mencoba menghidupkan motor Parto, akhirnya Beni berhasil melajukan motor ayam itu ke arah yang seharusnya.


"Mas Beni, tadi di telepon siapa? kok bisa kecelakaan itu kepiye? terus Mas Seno sekarang gimana keadaannya Mas?" Indah cemas. Terlihat jelas dia sangat mengkhawatirkan Seno.


"Ndah tanyanya nanti saja, aku juga enggak tahu sekarang Seno keadaannya kek gimana, kamu malah bikin aku makin panik ini.."


Indah tidak bisa berpikir lagi, sekelebat bayangan tentang Seno, tawanya, senyumnya, bahkan cara Seno bicara dan memanggil namanya membuat Indah menjatuhkan air mata. Tentu Indah sedih.. Indah sampai tidak memperhatikan kemana Beni membawa motor ayam milik kakaknya. Yang dia tahu mereka akan ke puskesmas melihat keadaan Seno.


"Kamu nangis Ndah? aduuh ini kenapa kamu pake nangis segala,,?" Beni melirik Indah dari spion. Sesekali Indah menyeka air matanya.


Beni menghentikan motornya. Indah melihat sekeliling tempat Beni menghentikan motor kakaknya. Lapangan? apa ini? puskesmas sekarang pindah ke lapangan?


"Mas Beni, ini kita kok ke lapangan? terus gimana sama Mas Seno?" Indah menatap bingung ke arah Beni. Beni hanya tersenyum, senyumnya Beni selalu menandakan ketengilannya.


"Ndah.. Maaf yo, kalau mau marah ya marah aja sama Seno. Aku cuma disuruh anterin kamu kesini, ancen syedeng ke wong hahaha (emang gila itu orang hahaha)"


Apasih? Indah tetep enggak ngerti.. Ini ada apa?


Beni mengambil hpnya di saku jaket, menelepon seseorang di seberang sana.

__ADS_1


"Udah sampe ini, asyem.. motor Parto kurang sajen, maaf kalau lama yo," Beni menutup teleponnya.


"Mas Beni, aku enggak ngerti.. ini ada apa?" Indah masih plonga-plongo. Duuh Ndah, kamu jadi orang polos amat. Pen tak hiiiih rasanya.


Beni hanya tersenyum menjawab pertanyaan Indah. Indah di kagetkan dengan bunyi hp yang berdering di kantong celananya. Mas Seno memanggil.. Hah, apa ini?


**Indah: Mas Seno ngerjain aku ya?


Seno: Ndah.. lihat ke belakang**,


Telepon dimatikan. Indah nurut, dia nengok ke arah belakang, yang di maksud Seno. Seno ada di sana.. berdiri dengan tangan membawa balon berbentuk hati di tangannya. Indah terdiam, dia melihat Seno berjalan mendekatinya. Jantungnya berdetak dengan cepat, ada apa ini..


"Ndah.. kamu lihat di atas itu,!?" Seno berucap memberi petunjuk kepada Indah untuk melihat ke arah langit di atas sana. Kembali Indah nurut-nurut aja sama ucapan Seno. Melihat ke atas.. ada apa? Ada layangan.. hah? Iya, ada layangan ukuran besar. Saking besarnya itu layangan sampai yang di bawah bisa melihat tulisan 'Aku Tresno Kowe Indah' hanya dengan menengok ke atas saja.


"Mas Seno.." Indah melting.


"Dalem, kamu mau jadi bagian dari hidup Mas Ndah?" Ucap Seno sambil tersenyum memiringkan wajahnya. Diraihnya tangan Indah, di genggamnya jemari lentik itu, tak ada penolakan. Seno memberikan balon bentuk hati itu ke Indah,


"Terbangkan ini kalo emang diantara kita cukup dengan hubungan kakak adik saja atau hanya teman biasa, aku enggak apa-apa." Masih dengan menggenggam tangan Indah.


"Mas Seno.. tadi katanya Mas ketabrak? Mas Seno boong? aku kwatir Mas.." Ucap Indah menahan tangisnya.


"Iya aku ketabrak.. ketabrak cintamu, mentok di kamu, enggak bisa nengok ke yang lain, aku pasrah, ikhlas kalau harus masuk IGD gara-gara kamu. Terlalu lama aku nahan rasa, udah beberapa kali aku cuba ungkapan.. dan di sini aku sekarang.. berucap dengan lantang dan penuh kesadaran, Indah.. aku sayang kamu. Aku tresno slirahmu, aku sayang kowe Dek.."


Tangan Indah gemetar, dia speechless..


Sedangkan di bawah pohon talok ada dua manusia gabut yang melihat aksi Seno yang sedang mengungkapkan perasaannya pada indah. Masing-masing dengan pikiran mereka sendiri. Yang satu berharap Indah melepaskan balon yang masih ada digenggaman Indah tersebut, dan yang lain mikir..

__ADS_1


aku bakal nembak cewek lebih waw daripada kamu Sen,


__ADS_2