Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Cari Alasan Apa?


__ADS_3

Sampai di rumahnya Parto segera meletakkan rumput hasil ngarit nya di sisi samping kandang kambing. Berjalan memasuki rumah, melihat Indah yang baru selesai mandi tersenyum melihat Parto yang baru pulang nugas itu.


"Apa?" Tanya Parto.


"Lah.. apa? dateng-dateng kok sewot.." Indah bingung kenapa kakaknya jadi jutek.


"Itu senyum-senyum gitu, enggak usah sok manis!" Parto keknya kena sawan dari sawah.


"Mas To ini kenapa, aku cuma senyum kok di marahin.." Indah mulai kesal karena Parto yang tiba-tiba bikin moodnya jelek.


"Awas minggir, dari tadi kok orang-orang hobi banget ngalangin jalanku!" Parto kesalnya kok di bawa juga di rumah sih.. kesalnya sama Shela, Indah juga kena getahnya.


"Idiieh mandi sana mandi! Nyebelin banget sih! Pagi-pagi bikin orang bete! Dosa kamu Mas," Indah berkata sambil berjalan ke dapur. Niatnya ingin membuatkan Parto es teh biar otak kakaknya itu fresh. Enggak morat-marit karena mikir cari pakan embek. Seenggaknya itu yang ada di pikiran Indah. Kakaknya sebel karena susah cari rumput untuk kambing-kambing bapaknya.


"Apa to Ndah.. kamu ini anak wedok (cewek) kok hobi teriak-teriak. Enggak sopan! Apalagi yang kamu teriakin itu kakakmu," Emak yang mendengar kedua anaknya ribut menegur Indah agar lebih sopan dalam berucap kepada kakaknya.


"Enggak tahu itu Mas Parto Mak.. dateng-dateng dari sawah malah ngamuk! Padahal aku enggak ngapa-ngapain kok, dia sewoten dewe." Indah selesai membuatkan kakaknya es teh segera menuju ruang tamu untuk menaruh es itu di sana. Berharap setelah meminum es buatannya, Parto jadi lebih adem. Enggak sewot kayak tadi lagi.


Parto selesai mandi, dia memasuki kamarnya. Mengecek hp yang sudah dua jam dia tinggalkan seorang diri di kamar. Ada pesan dari Beni dan Seno. Keduanya ngajak ngumpul di warung mbok Yuni nanti sore. Dia tidak menggubris pesan kedua temannya itu. Ada juga pesan dari pak Agus yang memintanya untuk datang ke rumahnya. Mungkin ada kerjaan lagi yang bisa Parto kerjakan di sana. Pikirannya tertuju pada Shela, gadis yang selalu membuat dia kesal setiap kali mereka bertemu.


Ngapain aku tadi bilang mau ke rumahnya, sepertinya bukan dia aja yang edian tapi aku juga ikutan enggak waras.


Lamunannya terganggu oleh suara Indah yang memanggilnya. Setelah berganti pakaian dia segera keluar dari singgasananya.

__ADS_1


"Mas tu aku buatin es.." Indah tersenyum ke arah Parto yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya, maturnuwun yo.." Parto duduk di kursi yang berhadapan dengan Indah.


"Mas To marah sama aku gegara aku jadian sama Mas Seno ya?" Indah bertanya sambil melihat ke arah Parto.


"Ngarang.. siapa yang marah sama kamu?"


Parto sadar.. mau di larang kayak apa, kalau nyatanya Indah juga suka sama Seno dia bisa apa. Parto tahu Seno enggak akan merusak kepercayaannya dengan menyakiti hati Indah. Parto mengenal Seno adalah orang yang setia kawan dan selalu memegang teguh janjinya.


"Terus kenapa sekarang Mas To jadi jarang ngobrol sama aku? aku ngerasa lho Mas.. Mas To jadi beda sama aku,"


"Aku tanya sekarang.. kamu suka sama Seno?"


"Iya Mas.." Jawab Indah mantap.


"Arep nong ndi To? (mau kemana To?)" Tanya Bapak saat melihat Parto kembali menaiki motornya itu.


"Ke rumah pak Agus Pak.. tadi di wa di suruh kesana," Parto menghampiri Bapak yang sedang memberi makan ayam di kandang.


"Kamu enggak capek apa? baru pulang kok pergi lagi.. udah sarapan belum?" Bapak Parto menaruh baskom berisi bekatul yang tadi beliau berikan untuk makan para ayamnya. Memandang Parto yang sudah rapi meski hanya memakai kaos dan kemeja tanpa di kancingkan.


"Belum Pak.. belum laper juga, ini aku mau langsung ke rumah pak Agus saja Pak. Siapa tahu ada kerjaan lagi,"

__ADS_1


"Hmm Iyo ati-ati Le.." Parto mengangguk sambil berkata 'injih pak' lalu segera menaiki motor ayamnya. Dia ingin segera ke tempat pak Agus guna mengetahui ada perlu apa beliau menyuruh Parto untuk datang ke rumahnya.


Di perjalanan, Parto tetap saja kepikiran dengan apa yang dia katakan pada Shela tadi pagi. Untuk apa juga dia tadi bilang mau ke rumah Shela, itu sih setor nyawa namanya. Udah tahu Shela mirip demit kurang sajen kalau lagi kumat, emang kapan Shela enggak kumat? Enggak pernah. Tiap hari dia memang seperti itu. Dimanapun, dengan siapapun, dia selalu merasa dirinya paling benar.


Terus alasan apa yang bakal dia berikan saat bertemu dengan ibunya Shela nanti. Ngapel? mimpi saja To, anaknya saja enggak nganggap kamu apa-apanya, kok kesana bilang mau ngapel. Aach kenapa enggak bilang mau beli brownies saja. Sip ide bagus. Parto tersenyum setelah menentukan alasan untuk datang ke rumah Shela guna menepati ucapannya tadi pagi.


Aku cuma enggak mau kamu mikir aku cowok enggak bener, cuma ngadepin kamu.. aku iso, aku enggak mundur.. kamu mau muntang-mantingke aku kayak apa? Aku manut (ikut) cara mainmu. Bakoh To bakoh.. kowe iso! (Kuat To Kuat. kamu bisa!)


Parto berucap dalam hati memberi semangat pada dirinya sendiri. Ngasih semangat? kayak mau perang aja. Iya perang ngadepin dedek Shela, yang merasa paling benar dengan semua sabdanya. Menurut Shela sendiri, dia enggak pernah salah. Kalaupun dia melakukan kesalahan orang lain harus maklum! karena manusia memang bertabur salah dan dosa, kalau bertabur wijen itu onde-onde namanya.


Tak terasa Parto sudah sampai di rumah pak Agus. Ternyata perjalanan yang jauh akan terasa dekat jika tidak di jalankan.. maaf bukan itu, ternyata perjalanan jauh terasa singkat karena sedari tadi Parto nyetang sambil melamun. Untung aja dia enggak nabrak orang atau pengendara lain di jalan karena dia enggak fokus.


"Assalamualaikum..," Parto mengucapkan salam dan masih berada di luar rumah pak Agus meski pintu rumah dibiarkan terbuka. Dia enggak mau asal nyelonong masuk ke rumah orang.


Tidak ada jawaban, sepi.. kok sepi. Ini pada kemana? Parto melihat ke sekeliling rumah pak Agus, enggak ada siapapun. Lah.. ini gimana ceritanya dia disuruh ke rumah pak Agus tapi yang punya rumah malah enggak ada nongol. Menunggu adalah kegiatan paling membosankan dan melatih kesabaran, itu juga yang dirasakan Parto sekarang ini.


Parto mengambil hpnya, mencoba menghubungi pak Agus. Satu kali, dua kali, sampai pada panggilan ketiga Parto memutuskan untuk mengakhiri hubungan lah.. mengakhiri panggilan maksudnya.


Parto berniat pulang saja, dia bingung mau ngapain. Enggak ada satu orangpun di sana yang bisa ditanyai kemana pak Agus dan untuk apa dia di suruh kesana. Saat Parto sudah menstarter motornya, seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam rumah.


"Lho To, udah sampai sini? kok enggak langsung masuk?" Ya, dialah pak Agus. Masih dengan memakai sarung dia berjalan ke arah Parto.


"Sudah dari tadi Pak, tadi aku cuba telepon Pak Agus tapi enggak di angkat.." Jawab Parto sekenanya.

__ADS_1


"Moso..? opo iyo To? ooh mungkin tadi aku masih di belakang, mandiin burung To. Jadi enggak tak bawa hpnya. Kesian itu burung kepanasan.."


Mendengar jawaban pak Agus, Parto hanya tersenyum saja. Lha meh jawab opo jal..


__ADS_2