
Tidur dengan perasaan tak karuan, membuat Shela terbangun di sepertiga malam. Harusnya dia enggak lakuin hal itu (rujak lambe) tadi saat bersama Parto. Entah kenapa, dia makin enggak bisa berpikir waras ketika bersama lelaki itu.
Dilanda kegelisahan karena ucapan Ibu, Shela mengambil air wudhu. Dengan tahajud dia berharap menemukan jalan untuk kegelisahannya.
Shela tahu, jika nanti dia mengatakan kepada Parto kalau ibunya menyuruh Parto datang melamarnya.. saat itu juga Parto pasti menyanggupi. Tapi, ada hal lain.. dia merasa belum siap. Belum siap berkeluarga, goresan masa lalu ayah dan ibunya membuat dirinya selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Tapi, lihat sekarang.. baru beberapa hari enggak ketemu Parto udah bikin dia jadi seliar tadi.
Saat melewati kamar ibunya setelah mengambil wudhu, Shela melihat di kamar itu, ibu sudah tertidur. Dari jauh, diperhatikan wajah teduh ibunya, meski masih tampak ayu.. tapi usia tidak bisa dibohongi. Harusnya dia tidak menambah beban pikiran ibunya dengan melakukan tindakan konyol tadi. Pintu kamar ibu dia tutup kembali, dia bergegas ke kamar untuk melaksanakan sholat tahajudnya.
Ya Allah ya Tuhanku, dzat yang menguasai seluruh jagat raya, berikan hamba-Mu ini petunjuk untuk mengambil keputusan..
Robbi hablii milladunka zaujan thoyyiban, wayakuuna shoohiban, lii fiddiini waddunyaa wal aakhiroh. Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia, dan akhirat.
Doa itu menutup sholat tahajud yang Shela lakukan. Tiba-tiba dia di kagetkan oleh bunyi ponselnya. Sebuah pesan masuk.
Setelah melipat dan menyimpan kembali mukena kembali ke tempatnya, Shela membaringkan tubuh di kasur empuknya. Mengambil ponsel dan melihat siapa gerangan yang mengiriminya pesan di jam sedini ini,
Ini orang ngapain sih, kurang kerjaan level akut!
Yang mengiriminya pesan tak lain dan tak bukan adalah Parto, hanya mengucapkan semoga mimpi indah dengan disertai foto alay ala Parto. Seketika segaris senyum tertarik di bibir Shela. Langsung teringat kejadian sebelum mereka berpisah tadi malam. Tapi, kewarasan langsung menyandarkannya.
Shela: Besok ketemu. Harus bisa!
Terkirim. Di baca. Menandakan manusia di seberang sana juga sedang melakukan ritual begadang,
Parto: Iya La. Kenapa? Masih kangen? Minta nambah?
Shela memutar bola matanya malas.
Shela: Otakmu.. bisa enggak mikir selayaknya manusia normal pada umumnya?! Sana tidur! mau selingkuh sama wewe gombel apa jam segini masih melek?!
__ADS_1
Parto membalas dengan emot ketawa saja. Dan keduanya mengakhiri acara berbalas pesan di dini hari ini.
...----------------...
Pagi itu, Shela benar-benar sibuk karena banyaknya pesanan yang harus dia antar. Apalagi setelah mengirim pesan terakhir untuk Parto, dia langsung melakukan kegiatan di dapur. Menyiapkan apa aja bahan yang akan di masak untuk pesanan.
"Nduk.. kamu semalam ndak tidur to?" Tanya ibu yang melihat anaknya dengan cekatan memasukan kardus snack ke dalam plastik, siap untuk di antar ke alamat pemesan. Kadang ada orang yang order dengan mengambil sendiri pesanan mereka ke rumah tapi, lebih banyak customer lebih memilih pesan antar. Jadi, Shela yang harus mengantar pesanan mereka.
"Tidur kok buk, buk.. Shela tak antar pesanan ini dulu ya," Berpamitan dan segera mengambil helm, Shela bergegas menaiki motornya.
Ibu senang melihat kegigihan anaknya, sekarang Shela nampak lebih cerita dan bersemangat. Dulu, anak gadisnya itu agak tertutup. Jarang tersenyum apalagi tertawa, hanya bicara seperlunya lalu kembali ke kamar. Orang tua mana yang tak senang dengan perubahan sikap Shela saat ini.
Hanya butuh waktu kurang dari satu jam, Shela sudah menyelesaikan tugasnya. Sekarang dia ada di warung mbok Yuni, Shela yang meminta Parto untuk menemuinya di sana.
"To.. langsung aja, aku mau ngomong serius!" Ucap Shela sesaat setelah duduk di samping Parto yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Iya La," Parto langsung fokus ke arah Shela saja.
"Lha.. aku udah di sini sebelum Parto datang kok, kenapa La? Mau aku pergi aja ini?" Daripada jadi obat nyamuk di antara dua manusia itu, Beni lebih suka jadi obat gosok. Lebih berfaedah!
"Enggak usah. Ada kamu atau enggak juga sama aja, aku lihat kamu aja burem."
Parto tersenyum aja.
"To, kapan kamu mau lamar aku?" Pertanyaan Shela membuat Beni menyemburkan es teh yang baru dia sedot. Parto ikut melongo.
"La.. kamu tanya ini ke aku sadar kan?" Parto mendekati pacarnya. Di sentuh dahi pacarnya itu, enggak apa-apa... suhunya normal.
"Kamu apaan sih?!" Shela menepis tangan Parto.
__ADS_1
"La.. kamu beneran mau Parto ngelamar kamu? Abis lamaran langsung ka_win lho La, enggak mau mikir-mikir dulu apa? Aku takut kamu khilaf sekarang ini, dan nyesel nanti." Beni seakan meragukan perkataan Shela.
"Aku enggak minta kamu yang lamar aku Ben. Bisa diem enggak? Kalau ngecipris mulu mending pergi sana!"
"Kamu serius La?" Tanya Parto menatap mamik mata pacarnya.
"Serius lah! Kamu pikir aku mau pacaran sama kamu buat main-main apa?!" Ketus banget jawabnya dek.
"Sepulang dari sini aku mau ngomong sama bapak dan emak. Tunggu aku ke rumahmu bersama mereka ya," Jawab Parto yang di balas anggukan oleh Shela.
Makin bengong lah Beni.
"Sik sik sik... (Bentar tiga kali) mas mbak.. aku juga orang lho di sini, ini ada yang bisa jelasin ke aku enggak sebenarnya ada apa? Jangan bilang kelian main bobol gawang dulu sebelum sah? Astaghfirullah sungguh nikmat eh sungguh berdosa kelian!" Beni asal tebak aja.
"Ben.. boleh enggak aku bilang amit-amit buat kerusakan sarap di otakmu? Coba bentar aja kamu mikir seperti aliran pipa air 'runcingan' yang bisa mengalir sampai jauh, jadi enggak kelihatan banget konyolnya!" Parto hanya menggelengkan kepala dengan perkataan Beni yang berpikir jauh entah kemana.
"Kenapa tiba-tiba gini La..?" Lanjut Parto.
"Semalem ibu lihat semuanya, ibu minta kamu tanggung jawab sama perbuatanmu semalem!" Makin enggak karuan saja otak Beni dalam berpikir setelah mendengar jawaban Shela.
Ya salam.. kasihanilah Beni, manusia tak berdosa itu sampai membayangkan ke arah yang tidak semestinya. Dia berpikir Shela dan Parto udah bercocok tanam sebelum halal.
"La.. kamu diapain Parto?" Asli dia kepo akut saat ini.
"Ben, sebaiknya kamu keramas pakai sanlet biar pikiranmu bersih tanpa noda!" Shela malas menanggapi Beni.
"Tapi sayangnya aku udah terbiasa keramas pakai rin_so La, karena berani kotor itu baik! Hahaha" Miris banget nasibmu Ben.
Ketiganya tertawa, huuft rasanya Shela lega sekali setelah mengutarakan isi hatinya. Parto adalah orang paling menghappy di sana, udah lama dia menantikan hari ini. Pandangannya hanya tertuju pada gadisnya saja.
__ADS_1
Alhamdulillah ya Allah... Semua doa hamba telah Engkau ijabah. Dalam sujudku, tak henti ku sebut namamu La.. meminta yang terbaik untuk kita berdua, dan sekarang kamu sendiri yang memintaku untuk menjadikanmu halal untukku. Aku sanggupi semua kemauanmu La, karena daripada kamu.. aku lebih mengharapkan bersatunya kita sedari dulu.