
Pak Agus memberi tahu bahwa besok ada sekelompok ibu-ibu pengajian yang menyewa travelnya. Dia ingin Parto yang menyupiri mobil miliknya itu. Parto menyanggupinya karena memang dia mengharapkan ada pekerjaan yang bisa dia kerjakan dan menghasilkan uang. Pasalnya dia ingin segera merenovasi rumah milik embahnya.
"To kamu cek dulu itu mobilnya ya.. aku tak masuk ke dalam dulu. Kalau habis ngecek itu langsung ke dalam To, ngopi dulu!"
"Nggeh pak," Parto hanya menjawab sekenanya saja. Melihat kondisi mobil yang besok akan dia gunakan untuk mengantar rombongan ibu-ibu yang akan menghadiri pengajian di desa sebelah.
Setelah beberapa saat Parto mengecek kondisi dalam mobil, dia berniat ingin keluar dari mobil itu dan menuju rumah pak Agus. Tapi, niatnya terhenti oleh ulah seorang perempuan yang memutar-mutar kaca spion mobil milik pak Agus. Mengarahkan ke mukanya, menunjukkan gigi putihnya yang ternyata terselip kulit cabe merah di sana.
Dari mana datangnya orang itu. Kok lucu,
Parto terus memperhatikan ulah gadis yang dia sendiri tidak tahu siapa namanya. Dia juga belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Parto yakin gadis itu tidak mengetahui kalau di dalam mobil ada yang memperhatikan setiap tingkah polahnya.
Setelah merasa sudah rapi dan good looking, gadis itu memasuki rumah pak Agus. Parto hanya melihat sekilas saja saat gadis itu tanpa sungkan langsung masuk ke dalam sana. Sepertinya dia sudah terbiasa berkunjung ke rumah pak Agus. Turun dari mobil travel, Parto membenarkan letak spion yang tadi abis di goyang-goyang sama mbak tadi.
Parto segera masuk ke rumah pak Agus seperti yang beliau pesankan tadi. Pandangan mata Parto tertuju pada gadis yang tadi muter-muterin kaca spion mobil. Gadis itu melihat ke arah Parto. Merasa di perhatikan gadis itu mengernyitkan kening.
"Kok dari tadi liatin aku kayak gitu banget Mas."
"Maaf Mbak.. enggak maksud liatin Mbaknya kok," Parto agak kikuk di sini. Ini mending tadi dia langsung pulang aja, karena perutnya juga sudah terasa lapar. Kok malah ada di situasi yang dia aja bingung harus ngapain.
"Eh To, jangan berdiri aja.. Duduk sini, kamu kenal sama Ralina? Dia ponakanku To," Ucap pak Agus yang entah datang dari mana. Lah, Dari tadi Parto berdiri? Iya, karena dia orangnya ewohan (enggak enakan).
"Enggak kenal pak, ini aku tak pulang aja ya pak. Mobilnya udah tak cek, semua baik. Tinggal besok berangkatnya jam berapa njih?"
__ADS_1
"Lah.. kamu ini, udah duduk aja dulu. Lin, ini kenalan sama Parto, kelian ini kan sama-sama masih sendiri.. siapa tahu jodoh hahaha" Tawamu to pak Agus, kayak enggak punya dosa.
"Eh.." Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Ralina. Masih ingat Ralina? Dia gadis mini market yang dulu pernah Seno boncengin waktu hujan tanpa badai menembus dinginnya angin wayah dalu (saat malam) untuk pergi bekerja. Parto masih berdiri, menatap Ralina yang tersenyum kepadanya. Parto juga tersenyum sambil menunduk. Dia benar-benar kikuk di situ. Enggak tahu harus ngapain.
"To.. duduk! disuruh duduk aja kok angel men (susah amat)." Untuk kesekian kalinya pak Agus menyuruh Parto duduk, merasa tidak enak Parto akhirnya menurut saja.
"Lin.. kamu tadi kesini sama siapa?" Tanya pak Agus yang melihat Ralina bermain boneka dengan anak bungsunya di lantai.
"Minta tolong temenku tadi Paklek.. tak suruh anterin kesini hehehe, orang aku mau main kesini udah lama banget. Enggak ada yang mau nganterin," Ralina berucap sambil memanyunkan bibir. Sok imut sekali ya?
"Ooowh nanti nginep aja ya? Efa kangen sama kamu itu, dari tadi gelayut (nempel) ke kamu terus." Pak Agus melihat ke arah Parto yang sedari tadi diem, lha ya mau ngomong apa.. enggak ada yang ngajak ngobrol juga.
"To.. itu kopinya diminum dulu," menunjuk kopi yang baru saja disuguhkan oleh istri pak Agus. Parto tersenyum sambil mengangguk. Bener-bener diem ya Parto ini.
"Pak nuwunsewu.. ini aku mau pulang dulu, Indah kok tiba-tiba telepon. Aku tadi lupa belum cari pakan kambing buat kambing-kambingnya bapak! Ini pesti bapak ngomel-ngomel," Alasan bagus To. Jam 10.15 belum ngarit? Bisa klenger kamu di sawah.
"Oalah.. kamu ini gimana, udah siang kok belum ngarit. Ya wes itu kopinya di abisin dulu ya.." Pak Agus percaya-percaya aja sama apa yang di ucapkan Parto. Padahal itu hanya alasan Parto untuk segera pulang atau pergi dari rumah pak Agus.
"Sampun pak.. pangapunten engkang katah, (mohon maaf banget), aku langsung pulang aja pak.. enggak enak ini Indah telepon terus."
Pak Agus mengiyakan saja saat Parto bergegas pamit pulang. Ralina yang melihat Parto terburu-buru hanya tersenyum ke arah lelaki itu saat tatapan mata mereka bertemu.
Parto memang jarang bertamu ke rumah orang, makanya dia selalu kikuk jika dihadapkan dengan situasi seperti tadi. Untuk rumah Seno itu suatu pengecualian, karena di sana kan cuma ada Seno. Dia mau ngomong atau enggak juga enggak masalah.. karena memang udah terbiasa slunang-slunung di sana.
__ADS_1
Parto membawa motornya pelan, mau ngebut juga tenaga si ayam enggak bakal kuat. Jadi, daripada memaksakan ayam untuk gasspol lebih baik Parto santai aja sambil menikmati perjalanan sucinya itu.
Sampai di rumah, Parto yang kelaparan karena sedari pagi perutnya belum di isi apapun segera menuju dapur. Terlihat di sana ada Indah yang mencoba menyalakan kompor tetapi tidak juga berhasil.
"Ngopo kowe? (ngapain kamu?)" Tanya Parto menghampiri adiknya.
"Astaghfirullah.. Mas To, ngagetin aja! Dateng darimana kok tiba-tiba ada di sini?" Indah kaget karena dia yang cuma fokus dengan kompor tidak menyadari kehadiran Parto.
"Datang dari langit.. aku kan termasuk malaikat tak bersayap," Ucap Parto asal.
"Kalau Mas bilang njenengan (kamu) itu malaikat, kok pikiranku langsung tertuju pada sosok mimih perih ya Mas hahaha" Indah cekakakan melihat kakaknya manyun. Bisa-bisanya Indah menyamakan dirinya dengan mimih perih, kan suwe!
"Itu kompornya kenapa? rusak?" Parto enggak gagas (peduli) guyonan adeknya. Perhatiannya tertuju pada kompor yang sedari tadi di buat mainan sama Indah.
"Enggak rusak Mas.. tapi enggak bisa nyala, Mas To mau apa kok ke dapur?" Indah bertanya tanpa tahu kakaknya sedari pagi belum makan apapun.
"Mau makan lah, masa ke dapur mau semedi!?" Parto duduk di kursi yang ada di dapur. Memperhatikan Indah yang melepas selang regulator pada tabung gas ijo itu.
"Jebul (ternyata) gasnya abis Mas.." Indah berucap sambil melihat Parto yang akan mengambil nasi di mejikom.
"Beli! enggak usah lihat aku kayak gitu, aku mau makan!" Parto tahu, maksud Indah memandang dirinya itu isyarat agar Parto mau membelikan gas untuknya.
"Ini juga mau beli kali Mas.. ya Allah Mas, saiki njenengan kok sitik-sitik nesunan (ya Allah Mas, sekarang kamu kok dikit-dikit marah)."
__ADS_1
Parto enggak sadar kalau sekarang sikapnya hampir mirip Shela.