
Beni pulang, dia agak terkejut dengan keramaian yang ada di rumahnya. Melewati beberapa orang yang duduk di teras yang dia kenal adalah pakdhe, dan beberapa tetangganya, Beni melangkah dengan sopan menunduk sebagai tanda hormatnya pada orang yang lebih tua.
"Buk... ibuk ada apa ini kok rame-rame buk?" Tanya Beni yang makin heran melihat ibunya terlihat berbeda hari ini. Ibunya berdandan. Waah kenapa dia terlihat seperti orang bodoh di rumahnya sendiri. Hanya dia yang enggak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
"Bocah gemblung! Kamu kemana aja? Sana mandi, ganti baju!!" Perintah ibunya mendorong anak laki-lakinya agar segera menuruti perintahnya.
"Iya iya.. maksudnya ini ada apa?" Tanya Beni lagi.
"Mbak mu mau lamaran! Udah saiki ndang siap-siap kamu! Bikin malu aja, mbaknya mau lamaran kok ndak tahu!"
Beni plongo. Asli dia kaget. Tadi pagi dia pergi, ninggalin mbak Lulu nya dan mas dokter kayaknya enggak ada tuh pembicaraan ke arah sana. Beni malah lihat mbak nya tadi pagi enggak mau menemui mas dokter itu. Lha sekarang? Lamaran? Apa ini? Apa ini prank akhir bulan? Kalau iya, dia bakal jadi orang pertama yang pasang badan untuk hajar Ardiaz tanpa ampun.
"Buk.. Mbak Lulu mana?" Masih belum percaya dengan kebenaran kabar yang dia dengar dari ibunya, Beni memilih bertanya langsung pada kakaknya. Setelah tahu kakaknya ada di kamar, Beni menuju kamar kakaknya.
"Mbak.. mbak.. Mbak Lulu! Buka pintunya bentar mbak, aku mau ngomong." Pintu kamar digedor-gedor dengan tujuan kakaknya segera membukakan pintu untuknya.
Pintu terbuka, Beni kembali speechless dengan pemandangan di depan matanya. Mbak Lulu yang biasa tampil sederhana kini terlihat cantik dengan memoles wajahnya dengan make up. Bedak tipis, dan lipstik itu membuat Lulu terlihat semakin ayu.
"Mbak.. bener kamu mau lamaran?" Tanya Beni setelah melihat kakaknya yang masih sibuk menata hijabnya.
"Hmmm" Jawaban apa itu?
"Mbak aku serius ini lah..!" Seperti anak kecil, Beni semakin penasaran dengan jawaban singkat Lulu. Apa itu 'Hmmm'?
"Iya."
"Mbak.. kenal Ardiaz udah lama? enggak kan? Jangan karena tekanan dari tetangga dan ibu yang sering nyuruh mbak nikah jadi bikin mbak Lulu pengen kawin kontrak ya mbak! Aku enggak mau mbak Lulu terjebak pernikahan tanpa cinta!! Ini bukan drama di nopel-nopel atau lagi syuting eptipi kan mbak??" Ngecipris aja ini manusia satu.
Lulu berjalan mendekati Beni, menyentuh kening adiknya, kemudian mengangkat ketiaknya sendiri menyamakan suhu badan adiknya dengan keteknya. Uuh bener-bener mbak yang berakhlak sekali.
__ADS_1
"Kamu sehat kan?" Tanya Lulu kemudian.
"Mbak hiiih pengen ku cekik kamu rasanya!" Lulu malah tertawa melihat adiknya kesal seperti itu.
"Udah sana mandi, bentar lagi keluarga Ardiaz nyampe sini." Perintah Lulu kepada adiknya.
"Jelasinnya nanti lagi!" Sambung Lulu saat tahu adiknya itu akan kembali tanya ini dan itu.
Lalu kemana Ardiaz? Dia menjemput orang tuanya, meski sudah dikirimi lokasi rumah Lulu tapi orang tuanya mengalami kesulitan untuk menemukan alamat itu.
Lulu menerima lamaran Ardiaz dong? Iya, karena melihat kegembiraan di wajah ibunya, menyaksikan sendiri setiap sujud ibu, orang tua yang tinggal satu-satunya dia miliki di dunia ini berdoa, memohon pada Yang Maha Kuasa agar dirinya cepat di pertemukan dengan jodohnya membuat hatinya teriris. Saat Ardiaz menunjukan keseriusannya langsung kepada ibunya, tidak ada alasan untuknya menolak Ardiaz.
Jadi Lulu terpaksa menerima Ardiaz? Untuk saat ini iya. Peribahasa Jawa mengatakan 'Witing tresno jalaran soko kulino' (Cinta muncul karena terbiasa). Kulino awor (terbiasa bersama), kulino guyonan (terbiasa bercanda), bahkan kulino tukaran (terbiasa berantem) pun bisa menjadi alasan timbulnya cinta.
Satu jam menunggu, akhirnya keluarga Ardiaz sampai juga di kediaman Lulu. Senyum para tetangga dan keluarga terdekat langsung menyambut kedatangan tiga mobil yang sekarang terparkir rapi di teras rumah Lulu. Tadinya Beni sempat ragu apakah Ardiaz akan benar-benar datang atau tidak, hal yang sama juga Lulu cemaskan. Dia takut Ardiaz hanya main-main dengan ucapannya. Tapi, lihat sekarang.. Ardiaz memenuhi janjinya dengan datang kembali beserta keluarga.
Ardiaz turun dari mobilnya, diikuti kedua orang tuanya dan dua orang lagi yang mungkin adalah kerabat dekat Ardiaz. Membawa beberapa barang sebagai hantaran, tetangga Lulu langsung sigap membantu menurunkan dan membawa barang-barang tersebut masuk ke dalam rumah. Rumah Lulu gaess bukan rumah mereka masing-masing.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.." Sambut keluarga Lulu serempak saat Ardiaz mengucapkan salam kepada mereka. Atmosfer kebahagiaan menyelimuti kediaman Lulu saat ini. Yang paling bahagia diantara mereka siapa lagi kalau bukan Ardiaz itu sendiri dan juga ibunya Lulu.
Sambutan sederhana dari kedua belah keluarga mengawali pertemuan itu, dilanjutkan dengan beberapa kata dari Ardiaz yang mengungkapkan maksud kedatangan keluarga dan dirinya berkunjung ke rumah Lulu. Rasa haru tak bisa dibendung oleh ibunda Lulu, tetesan air mata itu mengalir bukan sedih tapi beliau terlalu bahagia. Hari ini benar-benar penuh kejutan untuk wanita paruh baya itu.
Lulu keluar dari kamarnya, berjalan menunduk dengan sedikit mengulas senyum. Tak hanya Ardiaz, semua orang yang ada di ruangan itu langsung memfokuskan pandangan pada perempuan berhijab itu.
Saat mereka duduk berhadapan, hati Ardiaz seakan ingin melompat keluar. Kenapa enggak dari dulu aja dia melakukan hal ini, melamar Lulu dan menjadikan perempuan di hadapannya itu ratu di hidupnya.
Lalu bagaimana dengan orang tua Ardiaz? terutama mamahnya yang dulu menolak dengan tegas jalinan cinta antara si miskin dan si kaya yang sekarang ada lagunya 'berbeda kasta' eh iya kan ya, judulnya 'berbeda kasta'? ada lagunya kan itu?
__ADS_1
Tenang aja, mamah Ardiaz udah mendapat hidayah. Setelah kepergian anaknya untuk menuntut ilmu, mama Ardiaz digembleng secara mental oleh suami dan mertuanya. Yang tak lain adalah nenek Ardiaz. Nenek Ardiaz sampai mengingatkan kembali dari mana mantunya itu berasal, dulu mamah Ardiaz juga gadis cupu yang hanya tamatan es em peh. Tapi, nenek Ardiaz bukan orang yang memandang segala sesuatu dari harga dan tahta. Mulus lah perjalanan kisah cinta mamah dan papah Ardiaz tanpa halangan yang berarti.
Tapi, setelah tahu sikap arogan mantunya yang menentang bahkan menghina kekasih dari cucunya, membuat nenek Ardiaz berang. 'jadi orang itu jangan seperti kacang yang lupa dengan kulitnya', itulah kata-kata mak jleb yang nenek Ardiaz ucapkan kepada mamah Ardiaz. Terus diingatkan dan disindir mertua seperti itu membuat mamah Ardiaz tertekan juga, apalagi suaminya juga sama sekali enggak membelanya sedikitpun. Di tambah sikap cuek anaknya beberapa tahun, sepertinya mereka semua bekerja sama untuk menekan mental mamah Ardiaz. Dan see, usaha mereka bersatu padu melawan keegoisan sang mamah akhirnya membuahkan hasil. Mamah Ardiaz menerima Lulu jadi mantune.
Jadi, gimana ini kelanjutan kisah Adiaz n Ameena Merluna? dengan dipasangkannya cincin di jari manis masing-masing membuat mereka resmi... nikah? belum. Resmi bertunangan.
Tanggal pernikahan pun telah ditentukan, tiga bulan dari hari ini. Tapi, Ardiaz menolak. Dia merasa tiga bulan itu waktu yang terlalu lama. Dengan pertimbangan kembali dari kedua belah keluarga, maka ditentukan tanggal baru, dua minggu setelah acara lamaran ini mereka akan melangsungkan pernikahan.
Ardiaz benar-benar menepati semua ucapannya, yang bilang akan sesegera mungkin menjadikan Lulu istrinya.
Beni merasa ada hikmahnya juga dulu dia dirawat di puskesmas, mbak Lulu nya jadi bisa bertemu dengan jodohnya.
Pertanyaannya, kemana Ardiaz setelah menyelesaikan studinya? Kenapa tidak langsung mencari Lulu dan menjelaskan kesalahpahaman bertahun-tahun lalu, kalau memang Ardiaz masih menyimpan Lulu di hatinya, kenapa tidak secepatnya dia mencari keberadaan Lulu?
Jadi, setelah gelarnya menjadi dokter dia tidak langsung di tempatkan di puskesmas yang sekarang menjadi tempat kerjanya. Pekerjaan menjadi dokter bukan suatu hal yang mudah, apalagi tahun-tahun pertama dia menjadi dokter dihadapkan dengan masa pandemi. Yang mengharuskan dirinya berbakti kepada masyarakat, waktunya juga tersita untuk merawat dan menyembuhkan pasien-pasiennya. Dia harus mengesampingkan keinginannya mencari dimana sang pujaan hati berada. Sambil terus berdoa agar dimanapun Lulu berada tidak ada pria lain yang menjadi jodohnya kecuali dia. Hah? doa macam apa itu? Iya.. nyatanya itulah doa yang Ardiaz panjatkan.
Dan saat dia bertemu dengan Lulu pertama kali setelah sekian lama, seperti semua doanya terkabul. Apalagi tahu jika sang pujaan hati belum menikah. Makin menghappy lah Ardiaz. Apapun akan dia lakukan agar bisa menjadikan Lulu halal baginya. Makanya tanpa malu dia menolak saat keluarga dari Lulu memutuskan tanggal pernikahan mereka adalah tiga bulan lagi.
"Mas.." Panggil Beni pada Ardiaz saat acara lamaran sudah selesai. Tapi, Ardiaz masih enggan meninggalkan rumah Lulu. Matanya seolah tak puas memandangi calon istrinya itu.
"Iya, piye Ben?" Keduanya berjalan menjauh dari ruang tamu. Memilih ngobrol di teras.
"Jangan bikin mbak Lulu berpikir salah milih suami!" Kata Beni terang-terangan.
Ardiaz tersenyum. Mungkin Beni belum tahu liku-liku kisah cinta mbaknya dan juga dirinya. Makanya dia berpesan seperti itu.
"Ben.. aku kenal Mbakmu enggak setahun dua tahun, aku pacaran sama mbakmu udah empat tahun. Tenang aja, aku yakin Lulu akan selalu bahagia bersama denganku. Jaminannya adalah diriku sendiri!"
Beni melongo. Empat tahun? Ada yang dia tidak tahu di sini?
__ADS_1