
Parto kembali ke tempat dimana dia bertemu dengan Shela. Dia membawa pompa angin manual yang dipinjamnya dari rumah Seno. Parto tadi pergi meninggalkan Shela untuk meminjam pompa angin tersebut. Karena pasti enggak mungkin dia bawa kompresor kesitu, yang ada dia sendiri yang repot.
Meski banyak pertanyaan kepo dari Seno, Parto hanya menjawab 'Nanti aja ceritanya'. Parto benar-benar memikirkan Shela, dia takut kalau gadis itu sampai pingsan karena terlalu lama di guyur hujan. Padahal mereka baru beberapa kali bertemu, bahkan Shela tidak menunjukkan sikap ramah sama sekali kepada Parto di setiap pertemuan mereka. Tapi, Parto tetap saja tidak bisa untuk tidak peduli kepada Shela.
Sesampainya di tempat tadi, Parto melihat Shela yang sesekali menyeka air hujan yang jatuh ke wajahnya. Bibirnya juga sudah mulai pucat, saat ini dia benar-benar kedinginan.
"Kenapa enggak di pakai itu mantelnya, kamu bisa sakit kalau terus-menerus kena air hujan." Shela tidak menggubris perkataan Parto. Toh dia juga sudah basah kuyup untuk apa lagi dia memakai mantel punya cowok yang di cap nyebelin itu.
"Pakai mantelnya, kalau enggak mau pakai aku enggak akan bantuin kamu benerin motormu!" Hardik Parto. Wah bisa galak juga To?
"Aku enggak mau! Lagian kenapa aku harus nurut sama kamu, kamu lihat? aku aja udah basah kuyup kayak gini, terus apa gunanya mantelmu itu?"
"Owh ya udah.. Tuh pompa aja sendiri ban motormu! Aku mau pulang, aku bisa masuk angin kalau terus-terusan nemenin kamu di sini. Ngadepin kamu lebih susah daripada ngadepin macan ngamuk." Parto mulai menstarter motornya. Shela mengerutkan kening, masih berpikir apakah dia harus menuruti Parto atau tetap pada egonya.
"Heh.. kamu enggak bisa dong ninggalin aku kayak gini!" Shela akhirnya menurunkan egonya. Dia mengambil mantel kepunyaannya Parto. Belum di pakai hanya di ambil saja dari tempat semula mantel itu berada yaitu di jok motornya.
"Bisa aja. Kamu siapa? Bukan siapa-siapaku, kenal juga enggak.. jujur aja ya, dari sekian banyak manusia yang aku kenal di belahan desa ini, aku baru nemu yang modelnya kayak kamu! Galak, sombong, angkuh, egois, dan.."
Mendengar ucapan Parto, Shela yang tadinya berniat memakai mantel Parto malah melempar mantel itu ke tanah.
"Ambil lagi tu.. aku enggak butuh!" Parto juga kesal sebenarnya, ini cewek kok gini amat ya. Di alusin enggak bisa, kesenggol omongan dikit ngamuk. Parto mengambil lagi mantelnya. Basah. Ya sudah pasti,
"Pakai!" Parto menaikkan satu oktaf suaranya. Membuat Shela tersentak. Dia terkejut karena di bentak oleh Parto.
Isakan tangis mulai terdengar, dengan mata memerah Shela menuruti kemauan Parto. Dia mau memakai mantel kepunyaan Parto.
Parto yang belum menyadari kalau Shela sedang menangis mencoba sesegera mungkin memompa ban motor Shela. Kok Shela cengeng banget? Baru di hardik Parto sekali kok udah mewek. Ya namanya cewek.. mau segalak apapun kalau di bentak, pasti akan nangis. Tidak terkecuali Shela.
__ADS_1
Parto melihat ke arah Shela yang jongkok di samping motornya. Dia melakukan itu agar Parto tidak mengetahui kalau dirinya sedang menangis.
"Shela.. ini motormu udah bisa jalan. Aku bakal antar kamu sampai rumah, takutnya nanti motormu mogok lagi," Shela tetap terdiam. Tidak menjawab, tumben.
Itu orang kenapa lagi, jangan bilang dia mau berubah dari mode reog ke mode warok kesurupan.
"Shela.." Panggil Parto lagi.
Tidak memberi jawaban, hanya bahunya yang bergetar. Parto baru menyadari ada yang tidak baik-baik saja di sini.
Parto berjalan mendekati Shela, menyentuh pundaknya. Shela tidak menepisnya, dan karena itu Parto baru tahu kalau Shela sekarang sedang menangis.
"Kamu kenapa? Itu motormu udah bener, kamu enggak mau pulang?"
"Kamu.. kamu jahat tahu enggak.."
Eladalah aku salah apa lagi ini cuba,
"Kamu bentak aku, ibuku aja enggak pernah bentak-bentak aku. Kamu yang bukan siapa-siapaku beraninya bentak aku.."
Salah neh, salah aja teruus. Awit pisanan aku terus sing salah. Jane sing oda beres kui aku tah dekne.
"Iya aku minta maaf, ayo pulang.. aku anter kamu sampai rumah."
Meski masih kesal dan sedih karena bentakan Parto, Shela tetap menuruti ucapan Parto. Dia langsung menaiki motornya yang sudah di hidupkan oleh Parto. Parto melajukan motornya pelan untuk mengikuti Shela.
Hanya butuh waktu dua puluh menit, Parto akhirnya tiba juga di depan rumah Shela. Dia benar-benar menepati ucapannya untuk mengantar Shela sampai rumah.
__ADS_1
"Assalamualaikum.. Bu, Shela pulang Bu"
Pintu di buka dan Ibunda Shela terkejut melihat kondisi anaknya. Basah kuyup, dan pucat pasi. Lebih terkejut lagi saat melihat Parto yang masih ada di halaman rumah tanpa ikut masuk bersama Shela. Parto berniat ingin langsung pulang.
"Waalaikumsalam nduk.. age ndang plebu (buruan masuk). Lho Mas, kesini dulu To, masuk dulu. Ini hujan deras banget kok malah anteng aja di situ!"
"Kulo langsung pamit mawon budhe (aku langsung pamit aja budhe).."
"Eh jangan gitu Mas, La itu temennya mok ya di ajak masuk dulu to La"
Shela yang baru saja melepas mantel kepunyaan Parto yang dia pakai langsung melihat ke arah luar. Pandangan matanya tertuju pada Parto.
"Masuk!" Cuma satu kata yang terucap di bibir imut Shela. Ini orang ngomong banyak kayak kereta api bikin sebel, giliran ngomongnya irit kek gitu makin bikin hati nyut-nyutan. Mungkin Shela mau membalas ucapan Parto karena tadi Parto membentaknya. Parto akhirnya mau masuk ke dalam rumah Shela. Dengan pakaian yang basah kuyup, Parto hanya berdiri di samping pintu.
"Kowe ngopo ngadek koyok cagak ngono kui nek kono? (kamu ngapain berdiri seperti tiang kek gitu di situ?" Shela yang melihat Parto enggak duduk di kursi ruang tamu tapi malah berdiri kayak tiang bendera, tidak tahan untuk tidak berkomentar. Ibunda Shela ikut melihat Parto yang ternyata benar hanya berdiri saja.
"Mas.. duduk to, masa mau berdiri aja.." kata ibunda Shela.
"Ini.. bajuku basah semua Budhe, takutnya bikin sofa budhe ikutan basah.."
Lah malah mikirno kursi.
"Enggak apa-apa Mas, udah duduk aja. La kamu buruan mandi, ganti baju. Ibu mau buatin teh anget buat Mas.. eh ngko disik.. ini Mas yang dulu kesini nganterin kamu pulang sakwise kowe adus ndog kae to La? (sehabis kamu mandi telur dulu to La?)". Ibunda Shela tersenyum melihat Parto.
Shela melihat ke arah Parto yang barusan duduk di kursi, kakinya gemetar menandakan Parto pasti sedang kedinginan.
"Iya Bu, emang dia!" Shela berjalan kembali ke kamar.
__ADS_1
"Wah kok ya kebetulan banget yo Mas.. dulu kesini nganterin Shela sehabis mandi telur, sekarang nganterin pulang Shela lagi tapi malah mandi air hujan.." Ibunda Shela tersenyum ke arah Parto. Parto hanya menanggapi dengan senyum saja. Dia juga tidak tahu harus berkata apa. Sesaat kemudian Shela keluar dari kamarnya membawa sesuatu yang dia pegang di tangan. Salah satunya handuk dan juga jaket Parto yang dulu di pinjamkan untuknya.
"Ini pake! ganti bajumu itu!" Parto terkejut melihat apa yang Shela taruh di atas meja, apa dia harus memakai pakaian itu?