Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Bertemu Dia Lagi


__ADS_3

Karena enggak kerja, enggak enak juga mau leyeh-leyeh di rumah orang. Meisya akhirnya ijin pulang aja. Mista enggak melarang karena dia juga ingin berangkat bekerja, jaga konter di desa Wekaweka.


Sebelum pulang Meisya mampir di warung Mbak Sri yang letaknya enggak jauh dari rumah Mista. Mau beli bensin. Motor Meisya juga butuh asupan nutrisi gengs biar enggak oleng kek yang punya!


"Bulek.. beli bensin seliter ya!" Meisya berkata sambil mengambil minuman dingin di kulkas yang nyempil di sudut toko. Duduk di bangku panjang yang memang ada di sana, Meisya memperhatikan sekitar. Matanya memindai seseorang yang dirasa tak asinga.


"Eh.. adiknya Mas Seno? Mau beli apa dek?" Meisya tersenyum mengejek.


"Eh.. Mbak yang ngejar-ngejar pacar orang, mau beli gas mbak kali aja ada yang perlu diledakin.!"


Orang yang Meisya lihat itu adalah Indah. Mendengar jawaban sengak dari lawan bicaranya, membuat hati Meisya bersenam. Nyut-nyutan rasane. Dia enggak mau tertindas lagi, cukup tadi pagi dia kalah sama memedi dari gua Selarong, kali ini Meisya bertekad membungkam lawannya. Iya, ayo gelud!


"Ehm.. kemarin udah mok sampeke (disampaikan) salamku dek.. dek siapa namanya? Aku ini sama calon adik ipar aja sampai enggak tahu namanya," Meisya tersenyum melihat ekspresi Indah yang berubah manyun. Tapi, Indah segera menetralkan hatinya, merubah ekspresi manyunnya jadi senyuman manjaah. Dengan tersenyum Indah menjawab perkataan Meisya.


"Udah Mbak.. komplit sama bumbu dapur yang lain, enggak cuma salam aja, ada jahe, kunyit, laos juga.. aku? Mbak enggak kenal aku? Kok bisa, katanya deket sama Mas Seno kok ndak kenal aku niku pripun? (tu gimana?)"


Meisya memandang sinis ke arah Indah. Bisa-bisanya ini bocah ngejawab mulu! kemarin di konter dia kicep, hmm enggak bisa ni.. masa aku kalah sama bocah!


Seenggaknya itulah yang dipikirkan Meisya.


"Udah aku enggak mau basa-basi ya, nama kamu siapa?" Meisya mulai enggak bersahabat. Nada bicaranya dibuat agar bisa mengintimidasi lawan. Supaya lawannya ketakutan.


"Nah cakep, kek gini aku lebih seneng Mbak.. enggak usah sok familiar, baik tapi imitasi. Mbak enggak kenal siapa aku? Aku Indah.. Indahnya Mas Seno!"


Indah berkata dengan santai.. dia mulai bisa menguasai keadaan. Meisya yang mendengar perlawanan dari Indah merasa tertantang untuk membuat Indah tahu posisinya. Emang dimana posisi Meisya? Noh di rawa-rawa noh!


"Hahaha.. Enggak usah pake embel-embel mas Seno buat bikin aku cemburu, lagian maaf aja.. aku enggak level saingan sama bocah macam kamu!" Meisya meneguk habis minuman yang dia pegang.


"Alhamdulillah Mbak sadar kalau udah tua y?! Aku juga enggak ngajak Mbak saingan, karena cuma aku seorang yang ada di hatinya. Pamit njih Mbak," Ucap Indah berhasil membuat Meisya makin meradang.


"Mbak Sri ini uangnya, gasnya aku ambil ya.." Imbuhnya sambil menenteng gas dan diletakan di motor.


"Heh! Tunggu kamu, jangan main minggat! satu minggu.. hanya dengan waktu satu minggu aku jamin mas Seno bakal nyerahin hatinya buat aku! Kita lihat apa kamu masih bisa sesombong ini nanti!" Meisya berucap dengan berapi-api. Dia sedang menabuh genderang peperangan.

__ADS_1


Indah tersenyum, sambil menyalakan motornya dia berucap..


"Kalau mas Seno emang jodohku, mau kamu goda atau deketin kek apa juga enggak bakal goyah rasa sayangnya buat aku Mbak.."


Indah berlalu pergi, Meisya menghentakkan kakinya ke tanah. Ini hari apa, kenapa dia bisa sesial ini?!


Rencana ketemu Seno gagal, digampar lampir, dijuteki cowok sinting, diceramahi temannya yang mendadak mirip ustadzah, dan sekarang sama bocah aja dia kalah ngomong! Tanpa memperdulikan perkataan Indah tadi, dia tetap bertekad akan merebut hati Seno.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seno mengambil gitar, emang bisa mainin? Bisa.. mereka bertiga emang suka genjrang-genjreng gaje. Tapi ya yang paling pro itu Beni. Menarik nafas, memulai lagunya..


Nduwe ku mung roso tresno


Nduwe ku mung roso sayang


Nganti nyawaku ninggalke rogo


Rosoku ra ilang


Sing tak jaluk imbangono


Masio aku ra sugih bondho


Moh yen digawe loro


Sak pedote nafasku mung kowe seng tak tunggu


Ora ono liyane seng neng atiku


Sak oncat e nyawaku ora ngaleh tresnaku


Ademe angin dalu dadi saksi bisu

__ADS_1


Selesai mengeluarkan apa yang dia rasakan dengan nyanyian, Seno masih memeluk gitar. Jarinya memperbaiki senar gitar yang agak kendor.


"Sen.. kalau mau melow-melow'an kui ojo neng kene. Samperin Indah aja kerumahnya!" Beni rebahan di kursi depan rumah Seno.


"Ojo nek kene piye? Iki omahku lho Ben, (jangan di sini gimana? ini rumahku lho Ben.)"


"Tau aku tau ini rumahmu tau, maksudya mending kamu nyanyi itu buat Indah, di depan Indah. Lebih berpaedah Sen, nyanyi nok ngarepku kok rasane oda ono gretete ngono (nyanyi di depanku kok rasanya enggak ada gregetnya gitu)."


Beni mengeluarkan hpnya, mengirim pesan kepada Wanda. Wanda udah punya hp? Ya udah, belinya pas othor enggak up kemarin.


"Kalau kamu ngerasain greget waktu denger aku nyanyi ya iku wes tanda-tanda Ben,"


"Tanda-tanda opo?"


"Tanda-tanda kowe acak ora normal! (Tanda-tanda kamu mulai enggak normal!)"


"Sak bahagia mu aja Sen, aku males debat sama orang yang lagi boker heart!" Beni mulai sibuk dengan hpnya!


"Lambemu.. Broken lah dudu boker, boker itu.. aach sudahlah, ancen ra genah kowe ki! (emang enggak jelas kamu ini!)"


"Hahaha udah ganti istilah berarti ya, Sen aku mau nembak cewek aah. Biar status kita sama, apaan.. kamu punya Indah, Parto punya nini kunti, masa aku yang paling ganteng dari kelian malah masih jomblo."


"Iyo, ndang mupon (move on). Mikirin Mela terus enggak bakal bikin dia jadi milik kamu." Seno mulai memikirkan Indah. Sedang apa gadis imutnya itu sekarang.


"Bang_ke, siapa juga yang masih mikirin Mela. Dia sekarang lagi perang panas bareng Jamal buat bikin produk terbaru mereka, gosah bahas dia lagi Sen.."


Seno memperhatikan hp nya, lha Seno juga udah beli hp? Udah.. kan tadi othor dah bilang, kemarin enggak up tu nganterin Wanda sama Seno beli hp hahaha.


"Iya sepurone lah Ben, Ben.. aku meh ngabarin Indah kok takut,"


"Kamu takut sama Indah? Weh kok iso?"


"Dia kan belum ngasih kode buat nyudahi masa breaknya Ben, aku takut kalau deketin dia lagi dia makin ilfeel.." Seno menatap layar hpnya yang dikasih wallpaper foto Indah.

__ADS_1


"Lah.. seenggaknya kamu berusaha dulu, masa mau diem-dieman terus. Mau sampai kapan? Nanti nek Indah nemuin sandaran hati lain gegara kamu yang enggak gerak juga baru ngerasa menyesal. Apa kamu mau sama Maesaroh aja Sen? Hahaha.."


"Sembarangan!" ucap Seno sambil melempar bantal yang berada disampingnya ke arah Beni,


__ADS_2