
Parto masih menatap bingung ke arah baju yang di letakkan Shela di atas meja. Tidak masalah kalau hanya jaket yang bakal dia kenakan toh jaket itu juga kepunyaannya sendiri.. tapi, di situ juga ada daster. Iya, daster.. Apa tadi Shela salah mengambilkan baju untuknya atau memang sengaja mau ngerjain Parto.
Apa maksudnya tu kunti ngambilin daster buat aku? dia kira aku ibu-ibu hamil apa? seenaknya sendiri.
Ibunda Shela keluar dari dapur membawa nampan berisi tiga cangkir teh panas dan sepiring kue untuk Parto, Shela dan juga beliau sendiri. Setelah meletakkan di atas meja, beliau melihat baju yang ada di atas meja.
"Astaghfirullah.. bocah siji kui, masa kamu di suruh pake daster Mas? Oalah bocah gemblung, ini tehnya di minum dulu Mas,.. Mas siapa ya kok aku lupa?"
"Parto Budhe, injih matursuwun.."
"Maaf ya Mas Parto, di sini enggak ada wong lanang (laki-laki), tapi yo harusnya Shela enggak ngasih daster juga sama kamu Mas, kok nyeleneh banget kui bocah.."
Parto cuma tersenyum. Dia takut salah bicara atau apa dia enggak ngerti, padahal dulu waktu melihat Seno ngobrol dengan kedua orangtuanya sepertinya Seno biasa-biasa saja. Tapi kenapa Parto enggak bisa sesantai Seno saat ini.
Keluar dari kamar mandi dengan rambut di bungkus handuk, Shela hendak menuju kamarnya. Tapi niatnya terhenti karena ingat seseorang, iya dia mengingat Parto lelaki yang setiap bertemu dengannya selalu salah di matanya. Shela akhirnya berjalan ke ruang tamu. Ada ibunya di sana yang sepertinya mulai akrab dengan Parto.
Cari muka, pencitraan, sok kenal!
Itu adalah penilaian Shela saat melihat Parto yang pasif ketika di ajak mengobrol ibunya.
"Shela.. La, reneo nduk iki mas'e di ajak jagongan kene (Shela.. La, kesini nduk ini mas nya di ajak ngobrol sini)".
Parto melihat Shela yang sudah berganti pakaian dan dengan rambut basah yang terlilit handuk kecil di kepalanya membuat gadis itu terlihat semakin imut. Dan lihatlah dirinya sekarang.. kucel, basah, dan laper. Sepulang dari hajatan pesta Mela tadi siang dia memang belum makan apapun. Tadi di rumah Seno, dia hanya mengisi lambungnya dengan air soda yang Seno suguhkan untuknya dan juga Beni.
"Itu di pake Mas Pario!" Ucap Shela sambil duduk menjauh dari posisi Parto. Takut amat sih deket-deket Parto.
"Nduk kamu ini ngasih Mas Parto daster lho, masa kamu suruh pake."
__ADS_1
Dia aja udah tahu siapa namaku tapi, sengaja banget nyebut namaku Pario.. mau main drama hah? Wokey tak turuti karepmu (keinginanmu) Dek.
"Kalau Dek Shela yang nyuruh aku pakai itu pasti aku pakai, tenang aja Dek. aku enggak mau bikin kamu jengkel lagi kayak tadi.." Parto tersenyum ke arah Shela. Shela membelalakkan matanya, bisa-bisanya Parto berucap sok akrab seperti itu di depan ibunda Shela.
"Dek.. ini aku pakai sekarang?" Tanya Parto yang melihat Shela melotot ke arahnya.
Cuma pakai daster kan? enggak masalah.. asal enggak kamu suruh pake onderdilmu saja.
"Yo wes ndang kono di nggo, ngopo mesam-mesem koyo wong edian? (Ya udah buruan sana di pake, kenapa senyum-senyum kaya orang gila?)" Shela tersenyum geli membayangkan Parto yang akan memakai dasternya yang dia beli di aplikasi online. Dan dulu waktu dia buka barangnya tidak sesuai pesanan. Daster yang dia pesan berukuran jumbo, tadinya dia mau kembalikan saja. Tapi enggak jadi-jadi, eh ternyata sekarang ada gunanya juga.
"La.. Masa Mas Parto mok suruh pakai daster bunga-bunga gitu. Kamu ini kalau ngerjain orang mok ya jangan keterlaluan.." Ibunda Shela nampaknya dulu adalah titisan bidadari, selain wajahnya yang masih ayu meski usianya sudah tidak muda lagi, hatinya juga baik. Lembut banget kayak marshmellow. Berbeda dengan putrinya yang seperti Nyai Blorong, meski cantiknya juga enggak bisa di ragukan.. tapi sifatnya yang galak dan enggak mau ngalah bikin orang selalu beristighfar bila di dekatnya.
"Mboten punopo-punopo Budhe,, saestu. (enggak apa-apa Tante,, serius)"
Parto beranjak dari tempatnya dia duduk, rasanya kakinya sudah kesemutan sedari tadi tidak di gerakan. Berjalan mendekati Shela, dengan berucap tanpa suara hanya menggerakkan bibirnya saja dia berkata 'kemana aku harus ganti baju.. Dek Shela?'
Shela melotot karena Parto terus-menerus menggodanya dengan panggilan 'dek' dia enggak suka. Mungkin Shela lebih suka di panggil sayang. Maaf.. itu hanya pikiran si penulis saja.
"Mas ini Mas ini piye to Dek.. kan biasanya manggil aku Mas To, lupa ya?"
Parto mulai enggak waras keknya. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Shela acuh tak menanggapi ucapan lelembut di sampingnya itu.
"Udah oda usah banyak basa-basi kamu! itu kamar mandinya! Buruan sono ganti bajumu!" Kata Shela setelah mengantar Parto ke kamar mandi.
"Kamu enggak ikutan masuk Dek? enggak sabaran banget lihat aku pakai baju dari kamu.. iya iya aku pakai kok iya.."
Shela bergidik ngeri mendengar perkataan Parto. Fix itu orang enggak waras.
__ADS_1
Enggak butuh waktu lama. Parto beneran keluar dari kamar mandi, memakai daster motif bunga-bunga dan kupu-kupu warna-warni itu. Harusnya Seno dan Beni ada di sini sekarang, untuk melihat betapa gilanya teman mereka saat ini. Shela yang melihat Parto keluar dari kamar mandi dengan malu-malu malah tertawa terbahak-bahak. Sungguh baru kali ini Parto melihat Shela sebahagia itu,
"Hahaha kamu..kamu ini lucu banget, Ya Allah.." Shela masih saja tertawa.
"Udah sana keluar, ibu udah nyiapin makanan tu, Ya Allah Gusti hahaha.." Ucap Shela lagi. Dia tidak bisa menahan tawanya melihat ke absurdtan Parto sekarang ini.
Ibunda Shela yang melihat Parto pertama kali keluar dari kamar mandi juga menahan tawanya, tidak langsung tertawa terbahak-bahak seperti yang Shela lakukan, yang sengaja ngakak di depan mata Parto.
"Mas Parto ini kok ya mau-maunya nurutin Shela, La.. baju Masmu langsung di cuci dan di keringkan saja yo Nduk.. mesakno iki Masmu koyo ameh nyinden (kesian ini Masmu kayak mau nyinden)"
"Bu.. dia bukan Masku lah..! Apa sih Bu,"
"Lho tak kiro Mas Parto ini pacarmu lho Nduk, dari dulu mana pernah ada laki-laki yang main kesini. Kamu kan yang bilang sendiri, ogak bakal ngakon moro dolan wong lanang nek dudu pacarmu utowo calonmu, kowe lali? (enggak bakal nyuruh dateng maen cowok kalau bukan pacarmu atau calonmu, kamu lupa?)"
Perkataan ibunda Shela membuat Shela terkejut. Dulu dia memang pernah berkata seperti itu.. tapi untuk Parto, ini kan beda kasus. Dia enggak menyuruh Parto untuk main ke rumahnya kok. Dua kali Parto berkunjung ke rumahnya kan karena keadaan yang memaksa Parto untuk datang kesana.
"Udah ini jangan plonga-plongo kayak gitu, La.. denger kan tadi ibu bilang apa?" Shela hanya mengangguk dan kembali ke arah kamar mandi. Memasukkan baju Parto ke mesin cuci setelah itu mengeringkannya.
Parto yang tadinya kikuk di depan ibunda Shela makin malu karena penampilannya yang.. aach sudahlah. Entah dosa apa yang Parto perbuatan sampai harus menahan malu karena ulah Shela. Harusnya langsung pulang aja To, enggak usah nurutin Shela.. Ya kalau seperti itu besok novel ini bakal tamat. Karena terlalu flat dan lurus-lurus aja jalan ceritanya.
Shela kembali ke ruang tamu. Di sana ibunya sudah mengeluarkan nasi berserta teman-temannya nasi untuk di makan bersama mereka bertiga. Parto sudah beberapa kali menolak tapi Ibunda Shela terus memaksa, lagipula ibunda Shela sempat mendengar bunyi perut Parto saat tadi beliau mengajak ngobrol pemuda yang sekarang dia kenal sebagai pacar anaknya itu.
Setelah makan dengan damai tanpa ada gangguan yang berarti. Parto ikut membantu membereskan meja yang sekarang terdapat banyak piring, mangkok dan gelas itu.
Ibunda Shela mendapat telepon dari pelanggan yang memesan kue buatannya. Maka dari itu hanya Shela dan Parto yang membereskan sisa pertempuran di meja makan tadi.
"Kamu jangan kepedean ya karena ibu manggil kamu Masku Masku mulu.." Shela menatap sengit ke arah Parto.
__ADS_1
Parto yang akan menjawab perkataan Shela malah gagal fokus dengan kulit cabe merah yang nyempil di gigi gadis imut itu.
Aku mau ketawa kok enggak tega ya.