Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Salah Parkir


__ADS_3

Dua hari setelah kejadian Seno mengungkapkan perasaan kepada Indah, Seno akhirnya tumbang. Dia sakit. Hanya flu ringan karena dua hari berturut-turut di guyur hujan setiap pulang kerja. Lho emang Seno enggak punya mantel apa kok kehujanan mulu? Punya.. dan di pakai juga kok sama dia. Tapi ya tetap saja itu virus ganjen suka nyolek-nyolek dia.


Berniat menjenguk Seno, Indah meminta Parto mengantarnya ke pasar untuk membelikan Seno buah-buahan terlebih dahulu sebagai buah tangan. Waah perhatian sekali ya Indah, iya karena Indah memang dekat dengan Seno. Menganggap Seno sama seperti kakaknya, dibandingkan dengan Beni yang slengean, Indah lebih nyaman jika bersama dengan Seno.


Sampai di pasar, Parto hanya menunggu Indah di parkiran. Dia enggak mau bersibuk ria memilih-milih buah di dalam pasar bersama emak-emak rempong di dalamnya.


"Heh.. ngapain duduk di atas motorku? mau maling ya?" Suara nyaring seorang perempuan mengagetkan Parto yang sedang duduk di atas motornya, menunggu Indah selesai berbelanja di dalam pasar.


Parto menengok ke arah suara tadi.


Astaghfirullah kenapa musti ketemu kunti disini.


"Aiih kamu lagi, tampang kriminal emang kamu ini. Minggir dari motorku!"


"Astaghfirullah Mbak.. dosa apa yang aku lakuin sampai ketemu lagi sama sampeyan disini. Mana langsung main nuduh orang maling, tampang kriminal, Ya Allah Mbak.. Kosakatamu ternyata enggak jauh-jauh dari dunia napi Mbak,"


Ya.. Parto bertemu lagi dengan Shela. Dengan semua belanjaan yang Shela bawa, plastik-plastik besar entah berisi apa saja, dan keringat bercucuran di wajahnya membuat dia terlihat sangat aargh.


Aargh nyebelin banget maksudnya.


"Udah enggak usah banyak basa-basi. Minggir dari motorku sekarang juga! Aku enggak mau motorku di sentuh-sentuh sama orang kayak kamu!"


Dari tadi bilang motorku motorku wae, emang yang punya motor kayak gini dia sendiri apa.


"Mbak.. tolong tenang dulu, di lihat dulu baik-baik ini motor siapa. Jangan langsung ngegass kek gitu,"


"Denger ya.. Aku udah tandai motorku, tanpa aku lihatpun aku udah tahu kalau ini punyaku! Milikku.. Apa aku perlu teriak biar semua orang tahu di sini ada orang yang mau maling motorku"


Parto melihat di sekitar parkiran, matanya tertuju pada motor jenis matic yang sama persis seperti motor Indah yang dia tangkringi sekarang.


"Mbaknya ini kok hobi banget ngancam orang, bilang mau teriak-teriak segala ya. Mbak, kalau sampai sampeyan salah tapi tetap teriak-teriak dari tadi itu nanti bakal malu sendiri lho."


Shela mendengus kesal. Dan tetap berfikir motor yang Parto duduki adalah punya dia, Di taruhnya plastik belanjaan itu di tanah. Mata Shela menunjukkan kemarahan, sambil berjalan mendekat ke arah Parto, dia ambil kontak motor yang ada di dompetnya.

__ADS_1


"Minggir!"


Astaghfirullah ini orang kesambet setan apa, galaknya kebangetan. Tapi dia kan kunti, mana bisa kunti kesambet.


"Mau apa Mbak, jangan aneh-aneh.. Ini motor adekku lho. Kalau rusak gimana, nyebut Mbak.. Eling biar setan di sekitarmu pada minggat.."


Shela mendorong Parto dari motor yang Parto duduki. Parto jadi berpikir ini dia yang lupa atau salah duduk di motor orang atau emang Mbaknya ini yang emang kurang sajen.


Parto beneran turun dari motor Indah. Di biarkan saja apa yang bakal Shela lakuin. Shela memasukan kontak motor yang dia bawa ke motor yang dia yakini itu adalah kepunyaannya.


Kontak yang Shela bawa bisa masuk ke motor Parto, tapi enggak bisa di gunakan untuk menghidupkan motor itu. Ya karena emang dudu jodone (bukan jodohnya). Masa mau di paksain.


"Kok rusak.. eeh kamu apain ini motorku, kok enggak bisa nyala, ini rusak motorku!"


Ini cewek tinggalnya di gua apa gimana, kalau kunci kontaknya enggak bisa buat hidupin motor ini ya artinya ini bukan motor dia. Malah mikir kalau motornya rusak lagi.


"Aku enggak mau tahu, benerin motorku kalau enggak aku mau minta ganti!"


"Dulu kita pertama kali ketemu sampeyan nyuruh aku mengganti telur tiga kilo yang pecah karena kecerobohan sampeyan sendiri dengan telur lima kilo, wes rapopo aku jeh sanggup (udah enggak apa-apa aku masih sanggup), lha sekarang aku salah apa kok nyampe harus gantiin motore sampeyan? Jangan bilang aku mok suruh ganti motormu itu dengan mobil Bentley atau Lamborghini Mbak, tak jual ginjal dulu kalau kamu minta hal demikian..."


Shela sangat kesal. Ternyata cowok di sampingnya ini masih saja mengungkit hal tempo hari waktu pertemuan pertama mereka.


"Kalau enggak ikhlas ya bilang aja, enggak usah ungkit-ungkit dan nyindir orang kayak gitu."


"Ikhlas Mbak aku ikhlas.. ridho beneran, tapi kalau soal motormu,, aku punya saran coba lihat lurus ke arah yang aku tunjuk. Atau aku antar Mbak menuju parkiran tempat Mbak naruh motor sampeyan tadi?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan kamu ya! jelas-jelas ini motorku di sini, ngapain aku harus nurut sama kamu liat kesono segala hah?"


Aku beneran berharap semoga manusia macam Mbak ini cuma ada satu di dunia, kasihan kalau ada copy'annya bisa membludak pasien di rumah sakit karena keluhan darah tinggi.


"Mbak.. Tak kasih tahu ya, Disono noh.. di pabriknya sono tempat motor ini di buat., mereka, para pekerjanya enggak mungkin bikin motor tipe ini cuma sebiji buat Mbak seorang. Jangan merasa hanya Mbak saja yang punya motor kayak gini. Jangan mikir juga Mbaknya itu istimewa dan spesial sampai-sampai bisa punya motor model ini sendiri. Banyak orang yang bisa beli motor kayak gini Mbak. Dari tadi tak sabar-sabarin kok ya ngelunjak. Ngegass mulu."


Parto mulai kesal. terpancing emosinya gara-gara Shela yang terus-terusan ngotot kalau motor yang dia duduki tadi adalah kepunyaannya. Shela juga enggak mau ngalah.

__ADS_1


"Lha terus kalau ini bukan motorku, kamu sembunyiin dimana motorku? Aku inget tadi aku parkirnya disini kok! kamu umpetin dimana hah?"


Shela.. meski akhirnya dia menyadari kalau dirinya keliru tapi egonya melarang dia untuk meminta maaf. Dia tetap enggak mau di salahkan.


Parto tersenyum mengejek.


"Sekarang baru sadar kalau sampeyan keliru? Ngapain aku ngumpetin motormu? motormu itu bukan upil yang bisa nyelip di hidungku. Lihat di sana, apa perlu aku bawa kesini saja motormu itu Mbak?" Parto menunjuk ke arah motor Shela terparkir. Shela enggak menjawab perkataan Parto. Hanya berjalan ke arah yang Parto tunjuk saja.


"Piye mbak? kontakmu bisa masuk to? cocok to?" Tanya Parto yang melihat Shela sudah menghidupkan motornya.


"Berisik kamu! Apa? mau ngeledek aku? jangan nyebelin ya kamu.. aku tahu kok kalau kamu yang sengaja pindahin letak motorku, biar aku nyapa kamu.. iya kan?"


"Gusti.. baru sekali ini aku ketemu orang kayak kamu Mbak, Mbak nya ini suka ngemil cabe rawit ya? pedes banget kalau ngomong!"


Parto tak habis pikir dengan Shela. Kok ada orang yang senyebelin ini, dulu emaknya Shela itu nyidam apa sampai bisa punya anak se emejing itu.


"Dari tadi manggil Mbak Mbak Mbak mulu, kamu merasa lebih muda dari aku hah?"


Asli aku pengen ambil adukan semen terus tak teplokin ke mulutnya. Tiap dia ngomong kok enggak pernah enak di dengernya.


"Kamu mau aku panggil apa? Kunti? Dek? atau namamu aja.. Shela?"


Shela melotot seketika.


Dia tahu darimana kalau namaku Shela. Dia pasti orang enggak bener. Bisa aja dia dukun. Kek gini aku di suruh ibu minta maaf ke dia kalau ketemu, iieh jangan harap.



Shela yang merasa selalu benar dengan semua sabdanya 😌



Mas Parto yang selalu salah di mata Shela. Lain kali pindah ke hidung aja Mas, bersanding sama upil di sana😂

__ADS_1


__ADS_2