
Beni dan Parto mencari Seno. Orang itu benar-benar enggak pakai logikanya. Hujan selebat ini malah pergi entah kemana, tapi Parto yakin Seno akan menemui Indah.
Beni mencari Seno ke rumahnya, dan Parto pulang ke rumah orang tuanya memastikan Seno ada di sana. Tapi, setelah perjalanan cukup memakan waktu.. Seno ternyata enggak ada di rumahnya.
"To.. kamu ke sini sendiri?" Tanya bapak yang sedang menikmati wedang kopi buatan emak.
"Njih pak, hmm Seno tadi ke sini ndak pak?" Tanya Parto setelah menaruh mantelnya di pojok kursi teras. Biar enggak membasahi lantai rumah orang tuanya.
"Kamu ini lucu, nganten anyar bukannya cari anget-angetan sama istrimu malah main hujan-hujanan nyari penyakit!" Bapak sedikit tersenyum.
"Bukan nyari penyakit pak.. aku nyari Seno ini." Parto mengambil kopi yang baru saja bapak taruh di meja.
"Enak ya To..?" Bapak melihat kelakuan anaknya ini kok makin absurd aja abis nikah.
"Enak pak.. minta dikit buat angetin badan," Kata Parto nyengir.
"Itu bukan dikit To, emang kamu abisin semua gitu kok.. emak di dapur itu, minta bikinin lagi sana!" Parto mengangguk.
Berjalan menuju dapur, tapi malah berbelok ke kamar Indah.
"Ngapain kamu?" Indah di kagetkan dengan suara kakaknya yang tanpa salam langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Eh.. mas To ke sini? Mbak Shela mana?" Indah buru-buru menghapus air matanya. Berusaha menyembunyikan kesedihan dengan menanyakan Shela.
"Kamu nangis?" Parto duduk di samping adiknya.
__ADS_1
Indah enggak menjawab.
"Ada apa?" Parto masih mencoba mencari tahu alasan Indah bersedih, apa mungkin Indah sudah tahu jika mamaknya Seno enggak setuju dengan hubungan mereka?
"Mas To ke sini sama mbak Shela?" Indah menjawab pertanyaan dengan balik bertanya. Parto tahu, ada sesuatu yang enggak beres.
"Enggak.. Dia di rumah," Parto mengalah, Indah masih diam. Indah cengeng, manja, dan dia sering menyembunyikan apapun yang dia rasakan.
"Aku masih masmu, jangan mikir setelah aku nikah kamu enggak mau berbagi cerita atau masalahmu ke aku! kalau ada apa-apa mbok ya ngomong." Parto mengambil ponselnya, dia mengirimkan pesan untuk istrinya kalau dia masih ada di rumah emak. Shela membalas, hanya emot tangan tanda ok aja! Simpel amat!
Ini kalau udah kayak gini pasti Shela ngambek, rasanya kok pengen jadi Boboiboy bisa jadi lima orang sekaligus di satu waktu! Buat nyari Seno, buat hibur Indah, terus buat nyamperin Shela yang lagi ngambek kayak sekarang ini. Sisanya yang dua biji biar ngopi santuy di tempat mbok Yuni!
Emejing sekali pikiran Parto ini. Sungguh pemikiran yang hanya dia aja yang punya. Saat lagi serius kayak gini masih bisa bayangin cosplay jadi Boboiboy!
"Kelian putus?" Tanya Parto pura-pura enggak tahu.
"Aku yang minta putus, mas.. ibunya mas Seno enggak suka sama aku, aku enggak mau mas Seno jadi durhaka karena ngelawan ibunya." Indah menunjukan wa dari nomer yang diberi nama ibu mas Seno.
Parto membaca chat itu, intinya ibu Seno meminta Indah untuk meninggalkan Seno. Karena meski dilanjutkan hubungan mereka juga akan menemui jalan buntu. Hanya akan membuat hati mereka lebih sakit saat perpisahan itu diulur terlalu lama. Dan Indah menyetujuinya,
"Kamu udah bicarain ini sama Seno?" Tanya Parto menaruh kembali ponsel adiknya di atas bantal.
"Enggak.. aku enggak berani ketemu mas Seno mas." Indah menyeka air matanya.
"Kamu sayang sama Seno?" Pertanyaan macam apa ini? Bisa enggak tanya yang lain aja?
__ADS_1
"Aku sayang dia, tapi aku enggak mau dia jadi anak durhaka mas.. aku enggak mau mas Seno ngelawan orang tuanya. Kalau aku sama mas Seno enggak jodoh, aku akan doain jodoh yang baik dan terbaik buat dia... Bisa buat dia bahagia, bisa buat orang tuanya bangga dengan pilihannya nanti," Mencoba berkata dalam isak tangisnya. Membuat Parto enggak tega.
"Nangis aja, enggak apa-apa.. aku ada buat kamu! Kamu masih kecil juga, jalan kamu ke arah pernikahan masih jauh.. Enggak usah mikir yang berat-berat! Apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya, kalau jodohmu itu Seno pasti ada jalan untuk kelian bersama." Parto mengusap kepala adiknya.
Dia dikagetkan suara ponselnya yang berdering karena panggilan masuk.
"Iya Ben? Kenapa?" Parto terdiam.
"Iya.." Parto langsung mematikan teleponnya.
Belum juga memasukan ponselnya ke saku celana, ponselnya berdering lagi. Kali ini Shela yang menelepon.
"Waalaikumsalam La.. iya, iya La iya nan-" Belum selesai Parto bicara, dari seberang sana udah langsung mematikan telepon. Makin mumet lah Parto.
"Ndah.. aku tak jemput mbakmu dulu ya, besok aku ke sini lagi. Inget enggak usah mikir macem-macem.. kalau ada apa-apa bilang aja sama aku!" Indah mengangguk aja. Mau jawab apa lagi, saat ini dia lagi kena tsunami hati!
Parto berjalan cepat menuju luar rumah.
"To.. mana kopi bapak?" Langkahnya terhenti, dia lupa kalau tadi disuruh bapaknya bilang ke emak untuk membuatkan kopi.
"Ya Allah pak.. maaf pak lali aku(lupa aku)! Pak aku muleh disek njih.. Shela ngamuk. Maaaaaaak... Emaaaak.. bapak njaluk kopi!" (Pak aku pulang dulu ya.. Shela ngamuk. Maaaaaaak.. Emaaaaak.. bapak minta kopi!)
"Jabang bayi! Mok kiro iki alas opo To?! Yo wes ati-ati! Kandani kok.. Nganten anyar ki mok yo golek anget-angetan, lha kowe malah seneng golek penyakit! Delokno tekan ngomah pesti disawat wajan bojomu!" (Jabang bayi! Kamu kira ini hutan apa To?! Ya udah hati-hati! Dibilangin kok.. Pengantin baru itu harusnya cari yang hangat-hangat, lha kamu malah senang cari penyakit! Lihat aja nyampe rumah pasti dilempar wajan istrimu!)
Parto nyengir aja tanpa menjawab perkataan bapaknya. Bukan Shela yang dia takutkan tapi ancamannya! Dia enggak mau membuat dongkraknya berkarat karena kurang pelumas! Hah? Yang enggak ngerti jangan tanya othor!
__ADS_1