Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Pulang


__ADS_3

Ini salah, harusnya aku bisa lebih ngontrol diri. Ini salah!


Parto mengusap wajahnya kasar. Dia sedang berperang dengan batinnya. Duduk agak menjaga jarak, membuat Shela ikut menetralkan debaran jantungnya. Apa yang


mereka lakukan? Berciuman, hanya saja dibumbui unsur nackal oleh tangan Parto. Emang tangannya ngapain? Mencoba mendaki gunung yang harusnya belum boleh dia jamah. Harus banget ditulis secara detail?


"Maaf La.." Parto menunduk. Dia benar-benar menyesali apa yang baru saja dia lakukan.


"Aku ke kamar dulu ya, mau ganti baju." Kata Shela beranjak membawanya ponsel Parto.


Ini bahaya, kalau aku terus-terusan di sini bisa terjadi khilaf yang lain. Dan aku enggak mau sampai itu terjadi!


"La.. Aku pulang ya?" Parto meminta ijin dulu sebelum memutuskan untuk pulang. Padahal hujan malah turun makin deras, dan mungkin tidak ada niatan untuk berhenti malam ini.


Tidak ada jawaban. Parto membuka pintu depan, langsung disambut dengan angin yang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Ngapain buka pintu segala? Cari penyakit hah?" Dari arah dapur Shela datang membawa dua cangkir jahe hangat.


"Yang cari penyakit itu kalau aku masih ada di sini La. Aku minta maaf, aku-"


"Duduk!" Potong Shela menghentikan kalimat penyesalan yang akan Parto buat sepanjang mungkin. Mengalahkan panjangnya kisah cintamu yang muter-muter aja dengan si dia, hahaha.


Parto duduk, memilih jarak aman dengan berada di hadapan Shela. Posisi duduk di samping Shela akan membuat malam ini terasa penuh dosa untuk kedua insan manusia itu.

__ADS_1


"Aku aja biasa kok To, apa sih kamu ini... Hujan deras kayak gini kamu mau pulang? Kalau di jalan kenapa-napa gimana? Mikir sampai situ enggak?"


Kamu biasa aja La? Bikin aku terkoneksi nyampe ubun-ubun kamu bilang biasa aja? Apa aku yang minim pengalaman di sini?


"Kenapa diem aja?" Shela kok kek emak-emak yang ngomelin anaknya ya?!


"Mau ngomong apa? Tadi aku minta maaf juga kamu bilang biasa aja. La.. aku lelaki dewasa, yang kamu pasti tahu dengan kondisi rumah enggak ada penerangan kayak gini, kita yang hanya berdua, ditambah suasana yang... kamu tahu lah, semua itu bisa bikin sesuatu di dasar sana bangkit!"


"Bagus dong. Artinya kamu enggak impo_ten!"


Parto hanya bisa berkedip saja. Enggak tahu mau ngomong apa. Kok sesantai itu sih La, yang baca pen nyekik kamu rasanya ini.. yang nulis pen nangis rasanya!


"La.. bentar lagi kita nikah, jangan uji aku sekarang bisa kan?" Memelas banget dia gaess.


"Iya La... iya.. aku yang salah, La.. ini kalau hujan masih kayak gini terus gimana aku pulangnya?" Parto mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ya nginep lah, ribet amat hidupmu itu!"


Aku ribet? Kamu ngentengin masalah La.. kalau aku nginep di sini malam ini, kita enggak jadi nikah tiga bulan lagi tapi besok pagi bisa langsung di suruh ijab sama warga sini!


"Kamu siap jadi istriku besok hmm?" Parto bertanya ingin tahu jawaban apa yang akan Shela berikan.


"Kenapa emangnya?" Balik bertanya.

__ADS_1


"Jaga-jaga siapa tahu besok aku dimintai pertanggung jawaban karena udah nginep di rumahmu. Cuma kamu sama aku, mau jelasin kalau kita enggak ngapa-ngapain juga enggak bakal ada yang percaya." Menyeruput wedang jahe buatan Shela.


"Oowh.. kirain kenapa, nikah ya nikah aja. Apa susahnya?" Cueknya Shela udah diambang batas cewek normal pada umumnya.


Akhirnya setelah ngobrol enggak tentu arah, Shela memejamkan matanya. Dia tertidur. Parto yang melihat hal itu hanya tersenyum kagum. Gadisnya ini emang unik. Cuek tapi tetep perhatian, jutek tapi tetap manis. Di awal pertemuan mereka, mungkin Parto berharap tidak lagi bertemu dengan gadis yang dia juluki Miss C itu tapi, setelah mengenal dekat dengan Shela, Parto malah menyerahkan hatinya untuk gadis yang sekarang dia gendong manja ala pilem India menuju kamarnya.


Menyelimuti Shela dengan selimut tebal yang ada di ranjang, mengusap pelan kening pujaan hati, setelah itu Parto segera meninggalkan kamar Shela. Sebelumnya dia menaruh ponselnya untuk penerangan selama tuan putri itu tertidur.


Parto memutuskan untuk pulang. Dia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk berkendara, hampir larut malam dan hujan yang tak kunjung reda. Tapi, Parto enggak mau membuat Shela dan ibunda Shela terkena masalah jika dia nekat nginep di rumah itu. Belum saatnya. Itulah yang Parto pikirkan.


Maaf La.. aku pulang dulu, maaf belum bisa nemenin tidurmu malam ini,


Jalanan sepi, gelap, dan licin. Enggak mati lampu aja, jalan menuju desa Parto udah gelap karena memang jarang lampu jalan yang menerangi jalan desa itu, apalagi sekarang.


Minimnya pencahayaan dan genangan air karena banyaknya lubang di jalan membuat Parto kehilangan keseimbangan saat nyetang. Motor yang Parto pakai terpelanting ke sisi kanan jalan. Jadi Parto jatuh dari motor? Iya.


Saat dia baru berdiri dan melangkah menghampiri motor ayam kesayangan yang tergeletak, dari arah belakang ada motor lain tanpa lampu penerangan yang menyala langsung menyambar tubuhnya.


Udah jatuh tertabrak pula. Itulah gambaran yang tepat untuk kondisi Parto saat ini, kepala terbentur batu dan tangan yang penuh goresan karena mencium jalan berkerikil tajam sampai dua kali. Dan yang bikin kebangetan, yang nabrak malah main nyelonong aja, tanpa memperdulikan nasib orang yang dia tabrak.


Gimana keadaan Parto? Apa dia pingsan di tengah hujan? Atau dia keturunan Gatotkaca yang punya otot kawat tulang besi yang masih bisa tahan goncangan meski udah dua kali tumbang?


Temukan jawabannya di ujung jempol othor!!

__ADS_1


__ADS_2