
Hari pernikahan Mela dan Jamal pun tiba. Beni benar-benar datang ke acara penting bagi mantannya itu. Dia mencoba biasa saja, berjalan ke pelaminan dan memberi ucapan selamat kepada Mela dan Jamal yang sekarang sudah sah menjadi suami istri.
Lalu kemana Seno dan Parto? Apa mereka juga datang di pernikahan Mela? Tentu saja. Bahkan ide untuk datang ke pesta pernikahan Mela itu di cetuskan oleh Seno. Dia ingin Mela enggak besar kepala karena sudah memporak-porandakan hati sahabat itu. Beni berdandan sekeren mungkin, untuk menunjukan kepada Mela kalau tanpa dia Beni akan selalu baik-baik saja. Dan karena tampilan berbeda yang Beni tunjukan ini, membuat Mela sesekali mencuri pandang ke arah mantannya tersebut.
Yang namanya di desa, acara pesta apapun pasti tidak komplit dan meriah kalau enggak ada orkes tunggalnya. Bahasa kerennya dangdutan. Tak terkecuali di hajatan pernikahan Mela, dia nanggap dangdut agar acara resepsinya meriah.
"Ben, jangan plonga-plongo gitu lah.. Biasa aja. Lihat tu Parto sedari tadi nyelep (ngemil) aja kerjaannya. Coba cuek kayak Parto gitu,"
Beni melihat Parto, dia masih ngemilin ampyang, mendut, gemblong, dan entah apa lagi nama makanan yang tersedia di depannya. Enggak malu apa Parto itu? Jelas enggak. Uang lima puluh ribu yang dia keluarkan untuk buoh (ngasih amplop) ke Mela harus di bayar sebanding dengan apa yang dia peroleh di pesta itu. Dia enggak mau rugi. Kalau perlu buah pisang setandan yang ada di kanan dan kiri pintu masuk rumah mempelai itu bakal dia bawa pulang.
"To.. kamu ini laper apa gragas (rakus)? Nyelep aja dari tadi.." Ucap Seno yang malah mengikuti jejak Parto. Iya dia ikut ngemil kacang kulit, mayan abis tiga bungkus.
"Heleh.. rupamu, kalau sok jaim di sini aku yang rugi. Lagian itu klotaan (kulit) kacang di bawahmu juga udah kayak susoh (sarang) tikus gitu kok. Mumpung gratis Sen, kalau enggak di makan mubazir"
Seno tertawa mendengar perkataan Parto. Parto melihat ke arah Beni. Itu orang kok ngowoh aja sedari tadi.
"Ben.. kamu mikirin apa?" Tanya Parto.
"Mikir.. nanti malem Mela bakal ml," Jawaban asal Beni membuat Parto terbatuk-batuk karena keselek air mineral yang dia minum sesaat setelah bertanya kepada Beni.
"Asyem.. aku sampe keselek ini, kamu kok makin enggak waras to Ben. Sen kamu kok malah ngakak sih.. Semprul kelian ini,"
Beni hanya mesem melihat kekonyolan Parto.
"Nyanyi yok.." ajak Beni bangkit dari kursinya.
Seno dan Parto melihat Beni yang berjalan ke arah para pemain orkes tunggal itu hanya melongo. Mereka enggak menyangka Beni bakal seberani itu.
"Sen.. itu Beni mau ngerusuh? Aduuh aku kok mau pulang aja ini rasanya, malu kalau nanti kita di usir keluar sama keluarga Mela gara-gara Beni. Eh tapi ntar lah, aku aja belum nyicipi prasmanannya.."
__ADS_1
"Pikiranmu makanan aja To, ya kita lihat aja Beni mau ngapain.. Kalau sampai bikin rusuh ya uwes, aku sebagai temen hanya bisa membantu sebisaku. Bantuin ngerusuh juga maksudnya,"
Parto tertawa mendengar penuturan Seno. Saat Parto memandang ke arah pintu masuk yang di dekorasi dengan sangat cantik karena banyak bunga-bunga dan tanaman hias lainnya, matanya melotot karena melihat sosok yang sangat dia kenal. Si Kunti.
Astaghfirullah kok dia bisa kesini, aiih dia pesti temennya Mela. Pantes aja selama ini kunti itu enggak waras lha wong kumpulnya sama lampir kang drama kok.
Parto pura-pura enggak melihat kehadiran Shela. Dia enggak mau adu debat di sini. Dua kali mereka bertemu dan dua-duanya selalu ribut. Kalau sampai ribut di sini pasti bakal bikin dia malu semalu malunya.
Sedangkan Beni, dia berjalan mendekati para pemain musik di depan pelaminan dan membisikkan sesuatu ke mc orkes dangdut itu. Mendapat anggukan dari mc tersebut, Beni tersenyum tipis. Mela yang melihat hal itu sedikit cemas dengan apa yang akan Beni lakukan, pasalnya para tetangga dan teman-teman Mela yang hadir di acara pernikahannya sebagian besar tahu siapa Beni. Mantan yang baru saja dia putuskannya.
"Sen.. kamu lihat cewek pakai batik yang baru masuk itu, itu yang berjalan ke pelaminan nyalamin Mela sama Sujamal itu..." Parto menunjuk Shela yang sedang berjalan anggun menyalami kedua mempelai dengan dagunya. Memberi tahu kepada Seno, ada kunti yang datang di acara tersebut.
Seno mengikuti arah yang di tunjuk Parto. Dia manggut-manggut saja saat melihat gadis yang Parto maksud.
"Kenopo? ayu ngono.. inceranmu to? (kenapa? cantik gitu.. targetmu ya?)"
Seno tertawa mendengar perkataan Parto. Fokus mereka teralihkan saat mendengar suara Beni. Ya, Beni nyumbang lagu di acara itu ternyata. Tanpa sungkan dan malu, Beni melantunkan lagu 'aku rela' versi akustik.
"Njiiir kui Beni malah bikin Mela kepedean nyanyi lagu itu. Harusnya jangan lagu itu yang di pilih.." Ucap Parto yang melihat Beni masih perform.
"Tu lihat To Mela melongo," Seno melihat Mela yang sedari tadi pandangannya tak lepas dari Beni yang sedang bernyanyi.
"Wah.. edian kui wedokan siji iku, sandinge ono bojone wae kok matane delok mantane (wah.. gile tu perempuan satu itu, sampingnya ada suaminya aja kok matanya lihat mantannya)" Parto ikut memperhatikan Mela yang ternyata benar kata Seno, dia ngowoh melihat Beni nyanyi.
"Ya biarin aja To, semoga Mela enggak nyesel udah menyia-nyiakan Beni,"
Lagu selesai, pujian datang dari banyaknya tamu yang hadir karena suara merdu Beni dan juga kelogowoannya (keikhlasannya) melepas Mela.
Saat berjalan menuju kursi tamu, berniat kembali berkumpul bersama kedua temannya, Beni tanpa sengaja menabrak Shela. Shela yang baru menyelesaikan sesi foto-foto bersama kedua mempelai tadi baru saja turun dari pelaminan.
__ADS_1
"Maaf Mbak.." Kata Beni karena dia tidak sengaja bersenggolan dengan Shela.
"Matamu kemana ya? Bisa-bisanya jalan asal melenggang enggak lihat ada orang di depanmu. Main tubruk aja,"
Emosi lagi, Shela ini kapan sih muncul enggak bawa emosinya?
"Sepurone Mbak.. Serius aku minta maaf,"
Parto yang melihat kejadian itu seperti melihat dejavu. Dia juga pernah mengalami hal serupa.. juga dengan cewek yang sama, Shela.
Seno yang tidak ingin terjadi keributan berlanjut di pesta Mela dan membuat temannya menjadi tontonan para tamu undangan segera menghampiri Beni dan Shela, Parto yang tadinya enggan berdiri dari kursinya akhirnya ikut menghampiri kedua temannya.
Iki nek enggak demi kamu Ben aku ogah ketemu kunti itu lagi, tempur ya tempur udah.
"Mbak.. temenku ini enggak sengaja, kamu juga enggak ada yang luka kan. Daripada ribut dan jadi tontonan mending saling memaafkan aja. Ben.. Kita langsung pulang aja" Ucap Seno menghampiri Beni dan Shela.
"Enggak apa-apa gimana aku malu lho ini jatuh kek tadi, di lihat banyak orang lagi"
Parto tahu urusan ini bakal panjang, dua kali dia bertemu Shela selalu berdebat dan Shela selalu enggak mau ngalah. Meski Shela yang salah dia akan tetap ngoceh merasa paling benar.
Karena itu Parto langsung berjalan menuju arah Shela dan menarik tangan gadis itu berjalan menjauh dari tempat Beni dan Seno berdiri.
"Heeh kamu.. apa-apaan ini? Lepasin! Denger enggak? Budeg ya? Lepasin tangan aku!"
Shela teriak berusaha melepaskan genggaman tangan Parto dari tangannya. Para tamu yang melihat kejadian itu saling bertanya ada apa sebenarnya. Sesaat kemudian Shela terdiam karena ucapan Parto yang membuat matanya melotot seketika.
Penampilan Beni saat datang di acara pernikahan Mela😌.
__ADS_1