Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Hmm Indah Hmm


__ADS_3

"Aku.." Ucap Beni enteng.


"Heh manusia tudung saji, pake otakmu kalau ngomong, kamu kan lagi dalam misi balikan sama Wawan, nanti bisa abis kamu disembelih sama dia kalau neko-neko godain si Memet!" Parto memprotes ide konyol Beni.


"Wawan? Memet? Njiiir To.. Kamu juga sama enggak warasnya! ini karena omonganmu, di mata publik aku kek doyan sama yang berpedang lho!" Parto malah ngakak menanggapi perkataan Beni.


"Terus piye? setahuku ya gitu kok.. Alihkan fokus Maesaroh biar enggak ngejar-ngejar Seno lagi dengan pancingan cowok lain! Cewek mana yang nolak pesonaku hah? Buta kali kalau emang ada," imbuh Beni.


"Ish ish ish tak sadar diri, kamu tanya cewek mana yang nolak pesonamu? Lah itu si Mela, hahaha modyaro! Gayamu segunung, PD mu ra kiro-kiro. Sadar kawan, bangunlah dari tidurmu! Hahaha." Giliran Parto yang ngakak karena bisa ngece (mengejek) Beni.


"Lha iku Mela salah satu dari orang buta itu To, kamu ngakaknya kek puas banget ya?!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya setelah obrolan panjang unfaedah itu, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Tiba di rumah pukul 22.30, ternyata di rumah Indah masih terjaga. Dia masih menonton tv.


"Ngopo kok durung turu? (Kenapa kok belum tidur?) Tanya Parto yang melihat Indah masih memandang televisi, Parto mengamati wajah adiknya. Terlihat sembab, mungkin habis menangis. Bukan mungkin Mas To tapi, emang Indah habis nangis lah.


"Takoni ra mok jawab, mulo cah cilik kui oda usah sok-sokan dolanan cinta-cintaan.. loro dewe to dadine! (Ditanyain enggak dijawab, makanya anak kecil itu enggak usah sok-sokan main cinta-cintaan.. sakit sendiri kan jadinya!)


Indah mendengus. Dari ucapan kakaknya, dia yakin Seno pasti menceritakan masalah mereka kepada Parto.

__ADS_1


"Mas Seno ngadu apa?" Indah berucap tanpa memandang Parto.


Emang Indah lagi nonton apa sih kok sampai spaneng banget? Di tv enggak memperlihatkan acara apapun, sedari tadi hanya iklan yang muncul. Iklan sabun, iklan obat gosok, iklan cat tembok, bahkan iklan alat cukur juga ada. Pokoknya segala macam jenis produk berseliweran untuk di iklankan di tipi itu. Kok enggak penting amat Thor penjelasanmu..?! Lah kan biar kelian para reader budiman enggak susah payah bayangin Indah lagi nonton apaan. Hmm.. salah lagi kan si othor jonthor ini.


"Ngadu apa?" Parto duduk di sebelah Indah.


"Ndah tak kasih tahu ya.. aku emang belum pernah pacaran, tapi aku tahu gimana sayangnya Seno sama kamu. Dia tulus sama kamu. Kan aku udah wanti-wanti kamu jangan main-main sama hati tapi, wejangan ku mok anggep angin lalu." Imbuh Parto.


"Jaga selagi ada, jangan sesali setelah pergi! Ingat itu Ndah!" Ucapan Parto ini membuat Indah kembali menitikkan air matanya.


"Mas.. aku bingung, aku sayang sama Mas Seno.. tapi, aku enggak bisa lihat dia dideketin cewek lain!" Akhirnya Indah mau buka suara.


"Ndah.. kamu boleh cemburu tapi, bisa kan jangan cemburu buta? Kamu denger dulu penjelasan Seno. Kamu yang enggak mau Seno dideketin cewek lain ya jangan kasih kesempatan cewek itu deketin Seno. Lha ini malah kamu ngasih jalan selebar-lebarnya buat cewek itu hancurin hubungan kelian dengan memutuskan tali silaturahmi antara kamu dan Seno. Kamu kok dudulnya melebihi si Efa, Efa aja pinter lho. Kalau Efa lagi suka sama mainan atau boneka tapi, dia enggak mau mainan itu dipinjam orang lain, Efa bakal taruh mainan itu di kamarnya. Di simpan biar enggak ada yang ambil mainan itu. Lah kamu? Enggak pengen Seno dideketin cewek lain kok malah buat keputusan mutusin Seno!" Panjang lebar Parto memberi nasihat buat Indah.


"Terus aku harus gimana Mas?" Tanya Indah setelah mencerna apa yang dikatakan Parto semua benar. Iya, dia emang bodoh. Melepaskan sesuatu yang penting demi orang yang enggak penting. Itu goblok banget sih.


"Kalau kamu sayang sama Seno ya bilang! Jangan gantungin perasaan orang, udah gitu turunin tu ego kamu! Dewasalah, aku mau tidur lah.. kamu kalau mau begadang ya silahkan.. tapi inget, besok bangun sebelum adzan subuh!" Parto berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Mas To.." Panggil Indah saat kakaknya itu sudah memutar pegangan pintu,


"Hmm opo?"


"Maturnuwun," Indah mematikan tipi. Berjalan ke kamarnya setelah melihat kakaknya hanya mengangguk menanggapi ucapan terimakasihnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Shela memikirkan ucapan Parto kemarin malam yang bilang akan bertanggung jawab. Dia tersenyum mengingat betapa konyolnya manusia bernama Parto itu.


Waktu itu, setelah berucap akan bertanggung jawab kepada Shela, Parto gelagapan. Ibu Shela pun sama bingungnya mendengar perkataan Parto.


"Kamu mau tanggung jawab tentang apa Mas?" Tanya Ibunda Shela dengan muka serius. Ya, ibu Shela sudah berfikir ke arah yang 'iya-iya'.


"Anu.. itu, Bu.. itu.. aku,," Parto benar-benar menjadi bodoh seketika.


"Iya,, piye Mas? kok malah gugup gitu.. Itu di minum dulu tehnya," Meski penasaran, ibu Shela enggak mau membuat Parto merasa dihakimi.


"Bu.. aku ingin minta ijin untuk dekat sama dek Shela, ingin bertanggung jawab kepada dek Shela.. mengganti hari-hari dia yang sebelumnya selalu marah, sedih, jengkel, dan hal enggak ngenakin lainnya ketika bertemu denganku. Aku ingin mengganti hari-hari itu menjadi hari yang lebih menyenangkan.. itu Bu maksud aku.."


Setelah mendengar ucapan Parto, ibu Shela tersenyum. Dia hanya mengangguk tanda mengizinkan permintaan Parto.


Shela hanya diam.. entahlah hatinya masih belum bisa merasakan hadirnya Parto. Hanya saja dia mulai tertarik dengan sikap Parto yang sabar menghadapinya.


Setelah mengungkapkan niatnya itu Parto ijin pulang dari kediaman Shela, tanpa Parto tahu.. Beni sudah menunggunya di bawah pohon mangga dekat rumah Shela. Dan hal yang membuat Beni melongo itu terjadi, Shela mencium tangan Parto saat akan pulang, Beni sampai mengerjapkan matanya berulang kali.


Lho kok bisa Beni nemuin Parto? Apa gunanya mulut bila enggak digunakan.. Malu bertanya sesat di jalan! Makanya jangan malu-malu tanya sama orang biar enggak jadi sesat.


Bukan hal sulit bagi Beni menemukan dimana Parto berada, tempat mereka tinggal masih termasuk desa kecil. Hanya dengan modal tanya sana-sini Beni bisa melacak dimana Parto berada.

__ADS_1


Haruskah aku buka hati buat kamu To? Tapi, aku takut kamu kayak Ayahku atau teman-temanku yang pergi menjauh saat aku sudah nyaman dan tergantung sama kamu. Aku buat tembok di hatiku tapi, seenaknya kamu datang dan morat-maritin tembok itu.. awas aja kalau kata 'tanggung jawabmu' itu hanya sekedar isapan jempol. Ku bakar kau idup-idup!


__ADS_2