Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Kepiluan yang terpendam


__ADS_3

Dengan kecepatan tinggi, Jamal mengendarai motor menuju rumah sakit tempat Mela dan anaknya yang meski enggak dia akui dirawat.


Dia tidak peduli dengan teriakan para tetangga dan orang yang mengenalnya yang memanggilnya. Hanya satu yang ingin Jamal lakukan, yaitu bertemu dengan Mela.


Sampai di rumah sakit, dia berjalan cepat menuju ruangan tempat Mela. Di sana hanya ada mamanya dan juga ibu Mela, entah kemana orang yang lain pergi, Jamal masa bodoh.


"Astaghfirullahalazim, Jamal.. kenapa muka kamu? Itu bibir juga... Ya Allah kamu habis berantem?" Tanya mama Jamal yang langsung mendekati dan memeriksa wajah anaknya.


Jamal diam. Dia menepis tangan mamanya dan merangsek masuk ke kamar rawat Mela. Mendengar pintu kamar terbuka, membuat Mela melihat ke arah pintu. Dia terkejut melihat Jamal datang dengan keadaan semprawut.


"Mas.." Panggil Mela pelan. Jamal berjalan mendekati Mela, sorot mata Jamal terlihat tidak ramah. Dia seakan ingin menarik paksa Mela dari tempat tidurnya.


"Kamu tahu, aku tadi didatengin mantanmu!" Ucap Jamal masih dengan berdiri dan menatap tajam ke arah Mela. Mela takut dengan sorot mata yang Jamal arahkan untuknya, dia enggak suka tatapan itu.


"Dia dateng bareng temennya yang sama udiknya kayak dia!" Lanjut Jamal. Mela enggak menjawab perkataan suaminya. Dia masih mendengar dan memilih diam, dia ingin mengetahui apa yang ingin suaminya itu sampaikan.


"Aku kasih tahu ke mantan kesayanganmu itu kalau anaknya udah lahir!" Jamal melengos saat tangan Mela yang masih terpasang selang infus ingin meraih tangannya.


"Mas.. tapi Bela anak kamu mas, Bela anak kita." Mela berusaha meyakinkan Jamal, lagi-lagi tangan Jamal menepis gerakan Mela yang ingin meraih tangannya. Dia enggak mau bersentuhan dengan perempuan di depannya ini.


"Hahaha.. Bela,, Bela,, bahkan kamu menamai anak itu dengan gabungan namamu dan nama manusia sialan itu!! Tapi, masih bilang kalau dia anakku? Kamu waras apa udah beneran gila??" Jamal kembali melotot, matanya ingin keluar saat ini.


"Mas,, kamu salah sangka! Bela itu kan nama yang mama kamu pilihkan buat anak kita. Kalau kamu mempermasalahkan tentang nama itu, kita bisa menggantinya, mama kamu dulu bilang jika anak ini perempuan dia ingin sekali cucunya bernama Bela. Kamu kenapa berpikir sejauh itu dan menganggap Bela adalah singkatan namaku dan.. dia."


Seringai sinis itu muncul. Jamal benci saat istrinya mengingat tentang Beni.


"Dia? Siapa? Oowh mantan kesayanganmu itu?! Enggak usah bawa-bawa mama di sini. Kamu aja enggak pernah hormati dia, sok-sokan mau sembunyi di balik nama mama."


"Mas aku-"

__ADS_1


Belum selesai Mela bicara. Jari telunjuk Jamal terarah ke bibirnya sendiri, mengisyaratkan Mela untuk berhenti bicara. Mela diam. Dia meneteskan air mata.


"Kamu.. Semua gara-gara kamu!! Andai kamu membuang kenangan tentang mantanmu itu semua enggak bakal kayak gini! Ragamu bersamaku tapi hatimu mengagungkan namanya! Suami macam apa aku ini, selalu di bandingkan dengan mantan kekasih dari istrinya sendiri? Aku selingkuh karena kamu yang maksa! Aku cuek karena kamu yang enggak peka! Kamu bikin aku seperti orang bodoh! Aku ingat dengan jelas,,, kuping ini belum tuli sampai kamu dengan jelas memanggil nama mantan sialanmu itu saat kita melakukannya!"


Jamal berbalik melihat ke arah jendela. Pikirannya menerawang jauh pada malam dirinya mengambil kesucian Mela. Hal itu sangat salah karena dia melakukan sebelum Mela sah menjadi istrinya. Tapi, godaan itu enggak bisa dia hindari. Sampai terjadilah malam yang Jamal akan ingat seumur hidupnya sebagai malam belah duren terburuk sepanjang sejarah percintaan. Dengan nafas tak beraturan, Mela yang entah menikmati atau apa, malah menyebut nama Beni saat memperoleh puncaknya.


Hati Beni sakit saat dia tahu bukan dia yang Mela sayang saat itu. Tapi, dia udah mengambil sesuatu yang paling berharga dari seorang wanita. Dia akan bertanggung jawab. Jamal enggak akan lepas tangan. Dia berpikir, mungkin dengan dia bertanggung jawab perlahan-lahan hati Mela akan bisa menerimanya.


Tapi, setelah menikah pun, Mela enggak berubah. Dia malah lebih sering melamun dan berdiam diri, mama Jamal sering menegur dan mengajak ngobrol Mela karena menganggap menantunya itu belum terbiasa berada di rumah mereka. Yang sesungguhnya, Mela merindukan saat-saat bersama dengan Beni.


"Mas..-" Kembali Jamal menatap ke arah Mela.


"Kenapa? Ingat dengan malam itu? Malam kedua setelah sekian lama kamu baru mau aku sentuh lagi? Dengan bangga kamu bandingkan gimana hebatnya rasa ciumannya dan aku! Aku suamimu! Bajing_an!! Kamu pikir aku enggak punya hati, sampai bercanda saja harus membandingkan apapun tentang dirinya dan aku? Mela.. aku lelaki Mel, harga diriku tinggi, seenaknya kamu anggap hatiku tempat sampah yang hanya kamu jadikan tempat pembuangan rasa kesalmu."


Jamal melihat Mela yang mulai terisak dalam tangisnya.


"Puncaknya malam itu, aku sengaja mengajak Risma pulang. Bermesraan dengannya di depan matamu agar kamu juga tahu gimana sakitnya jadi aku, dan kamu nampar aku! Bilang kalau aku bejat, enggak punya hati, dan parahnya kamu masih saja bandingkan aku dengan Beni mantanmu! Aaaaggrrh!! Otakku seakan mau meledak! Selalu saja Beni, Beni, Beni dan Beni!! Kamu bilang apa malam itu? 'Kalau aku nikah sama mas Beni, dia enggak akan selingkuh seperti tindakan bejat yang kamu lakukan' itu kan kata-katamu??"


Panjang lebar Jamal meluapkan apa yang dia rasa. Sesekali dia mengepalkan tangannya. Mencoba meredam rasa sesak itu yang membuat dirinya bisa kalap dan mencekik Mela saat ini juga.


"Semua orang berpikir kamu yang paling menderita, tanpa mau menelisik dan mengerti bagaimana dengan aku? Udah.. cukup.. sampai di sini batasku! Aku udah enggak bisa jalani pernikahan ini kedepannya denganmu."


"Mas aku enggak mau, mas anak kita baru lahir mas.. kamu jangan kayak gini-"


"Diem Mela!!! Kurang sabar apa aku sama kamu? Aku enggak bisa terus-terusan hidup dengan wanita yang hatinya mencintai orang lain."


Jamal mendekati Mela.


"Asal kamu tahu.. tadi aku udah ngasih dia pelajaran yang bisa ngirim dia langsung ke alam baka!"

__ADS_1


Mela merinding mendengar ucapan Jamal.


"Mas.. kamu apain mas Beni? Mas jangan berbuat yang enggak-enggak.."


"Berbuat yang enggak-enggak itu yang seperti apa?? Kamu terlambat bilang semua ini, setelah rasa sakit hatiku memuncak kamu baru sadar akan hadirku! Tapi, enggak apa-apa.. Karena setelah ini aku akan menghilang, menghilang jauh ninggalin kamu dan enggak bakal ganggu kamu lagi! Aku lepasin kamu! Kamu bebas sekarang!!"


Jamal berjalan menjauh dari ranjang pasien yang dipakai Mela. Meski Mela terus memanggilnya, dia enggak mau menoleh sedikitpun. Mela memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur yang lumayan tinggi itu, berharap bisa mengejar Jamal. Tapi, fisiknya masih terlalu lemah. Dia jatuh dengan selang infus sedikit tercabut dari tangannya. Darah mengalir saat itu juga.


Mendengar keributan yang terjadi, ibu Mela berlari ke dalam kamar. Dan terkejut melihat kondisi anaknya.


Sedangkan Jamal, mamanya mengikuti anaknya itu setelah mendapat pesan dari tetangganya kalau terjadi keributan di rumahnya, mama Jamal ingin menanyakan keributan apa yang terjadi.


Tapi, Jamal enggan bercerita. Dia memilih pamit, dengan alasan ingin membereskan masalah di rumah dulu. Tanpa banyak bertanya mama Jamal menyetujui niatan anaknya.


Di tempat lain di waktu yang sama.


Mbak Lulu sedang duduk di depan bangku yang ada di depan ruang rawat inap tempat Beni dirawat. Dia enggak sendiri, seorang dokter duduk di sebelahnya.


"Lu..." panggil dokter itu dengan memandang intens ke arah mbak Lulu.


Mbak Lulu hanya menoleh saja tanpa bersuara.


"Apa kabar Lu," Dokter itu masih berusaha membuka obrolan dengan mbak Lulu.


"Maaf pak Ardiaz.. pasien di kamar nomer lima belas mengalami kejang dan tadi sempat muntah. Saya diminta untuk memberi tahu pak Ardiaz untuk segera memeriksa keadaan pasien!" Seorang perawat berlari dan mengatakan maksudnya mendatangi dokter yang sekarang kita ketahui bernama Ardiaz itu. Ehem.. kayak kenal nama itu ya gaess? Udah diem aja gaess!


"Lu.. bentar ya, kamu masih di sini kan? jangan pergi dulu, entar aku balik ke sini lagi!"


Dengan tergesa-gesa dokter Ardiaz berjalan mengikuti perawat tadi. Mbak Lulu hanya diam. Masih diam, dia berdiri dan kembali masuk ke ruangan dimana adiknya sekarang sedang berbaring, tapi terlihat dia udah bisa bercanda dengan ketiga temannya dan.. Mbak Lulu baru memperhatikan Shela. Karena saking siyoknya tadi, mbak Lulu sampai lupa bertegur sapa dengan perempuan manis yang ada di samping Parto.

__ADS_1


__ADS_2