Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Pasutri Bucin part 2


__ADS_3

Parto dan Shela saat ini udah ada di rumah emaknya. Shela membantu emak menggoreng singkong di dapur karena hari mulai gelap saat mereka tiba di kediaman pak Suprapto. Mereka memilih waktu sore hari untuk berkunjung ke sana bukan tanpa alasan.. semua itu untuk mengelabuhi pandangan mata orang lain terutama ke arah leher Parto.


"Mas.. lehermu kenapa?" Indah yang memperhatikan kakaknya yang baru sehari berstatus suami orang, dia menjadi sangat kepo.


"Kenapa emang?" Parto tersenyum pura-pura enggak ngerti dengan apa yang ditanyakan Indah.


"Itu lho itu.. kok merah-merah gitu kenapa?" Indah sampai menunjuk ke arah tanda merah yang dimaksud.


"Digigit mbakmu," jawab Parto singkat. Membuat Indah melongo tak percaya.


"Hah?" Indah belum konek.


"Apanya yang hah?" Parto balik bertanya.


Indah berpikir, kenapa kakaknya mau-mau aja digigit istrinya sampai kayak gitu. Sedangkan kalau bercanda dengannya aja, ditoel dikit pasti kakaknya itu langsung mencak-mencak.


"Kok enggak bales?" Indah melihat mbak Shela nya yang baru saja menyuguhkan kopi untuk suaminya.


"Bales apa Ndah?" Shela duduk di sebelah Parto.


"Udah.. kamu aja yang enggak tahu Ndah." Parto makin melebarkan senyumnya.


"Apa sih mas?" Shela ikutan kepo.


"Itu mbak.. leher mas To merah-merah, masa mas To bilang lehernya digigit mbak La!" Ucap Indah tanpa dosa.


Shela langsung membesarkan kedua manik matanya. Bisa-bisanya suaminya itu ngomong kayak gitu.

__ADS_1


"Jawab tuh.. Bener kan omonganku tadi,," Parto masih aja tersenyum senang. Dia mengambil kopi hasil ciptaan istrinya.


"Oowh itu.. Semalam masmu minta dikerokin Ndah, belum kelar ngasih kerokan di lehernya, dia udah nyerah.. katanya enggak kuat." Ucapan Shela berhasil membuat Parto menyemburkan kopi yang belum sempat dia telan.


"Ooowh.. Iya mbak.. mas To emang enggak betah kalau dikerokin. Makanya dia jarang minta kerok emak," Manggut-manggut seolah ikut membenarkan apa yang dikatakan kakak iparnya.


Indah masuk ke dalam kamarnya, mengambil ponselnya yang berbunyi. Tinggal pasangan pengantin baru itu yang ada di ruang tamu.


"Kamu bilang aku nyerah? Enggak kuat? Kamu ini nantang aku apa gimana?" Parto meremas jemari tangan istrinya.


"Hahaha.. kan emang iya mas, baru dikasih dua cupangan di leher aja udah bilang eeuh eeuh mulu," Shela ini.. hmmmm...


"La.. Ngomong eeuh nya jangan di sini" Ucap Parto sambil mengusap kasar wajahnya.


Shela hanya tertawa melihat suaminya yang menahan diri agar enggak melakukan tindakan yang iya-iya seperti semalam.


"La.. kita pulang aja yuk, kepalaku nyut-nyutan.." Parto memegang pelipisnya.


"Pinter!" Dan keduanya tertawa.


Malam, waktu menunjukan pukul 19.30 Parto pamit dari rumah emak. Kembali ke rumahnya, rumah yang dulunya Parto tempati seorang diri. Emak dan bapak tahu, sebagai pasangan pengantin baru.. akan lebih nyaman jika tinggal terpisah dengan orang tua. Kegiatan mengeksplor pasangan masing-masing akan lebih bebas tanpa perlu menahan diri. Tanpa takut ada yang mendengar lenguhan atau decitan ranjang mereka, itulah sebabnya emak mengiyakan saja saat Parto dan Shela pamit pulang. Apalagi beliau sempat melihat bekas gigitan mantunya di leher putranya, hmm emak hanya bisa geleng kepala.


"Kalau capek tidur aja, ini udah malem banget." Parto melihat Shela yang langsung duduk memejamkan mata saat tiba di rumah mereka.


"Boleh?" Tanya Shela mengerling manja.


"Boleh lah.. kenapa tanya? Aku bikinin wedang jahe dulu buat kamu," Parto beranjak menuju dapur. Tapi, langkahnya terhenti oleh ucapan Shela..

__ADS_1


"Bikin wedang jahe buat apa?"


"Biar badan kamu anget.. Enggak masuk angin, kamu pasti capek banget dari seminggu ini.. dari persiapan pernikahan kita sampai puncaknya tadi malam.."


"Oowh angetin badan?! Kenapa musti bikin wedang jahe kalau kamu aja bisa bikin aku anget?" Otomatis Parto diam di tempat. Menghampiri istrinya yang masih duduk di sofa panjang dengan menaikan kedua kakinya di sana.


"Bilang sekali lagi.." Ucap Parto mepetin istrinya yang hanya tersenyum saat berhasil membuat singanya bangun.


"Ayo ke kamar.. aku angetin di sana..." Parto langsung menggendong Shela yang pasrah dengan perlakuan suaminya.


...----------------...


Adzan subuh terdengar.. Parto bangun duluan, melihat istrinya yang masih pulas. Parto tentu tahu, hal tak senonoh apa yang dia lakukan kepada istrinya sampai si pemilik hatinya itu masih terlelap dengan mata lentik yang terpejam.


Setelah ritual mandi dan wudhu, Parto segera melakukan sholat subuh.. Sudah mencoba membangunkan Shela sebelumnya tapi, sepertinya Shela benar-benar capek. Menjawab panggilannya aja enggak. Akhirnya Parto sholat tanpa makmumnya.


"Maaas.." Ucap Shela yang merasakan rambutnya dibelai oleh suaminya yang sudah memakai pakaian lengkap, ya iya kan abis sholat. Nangkring lagi ke ranjang.. mau bangunin Shela dengan caranya.


"Pagi sayang.." Parto beralih mengusap pipi istrinya. Dengan gerakan lembut usapan itu beralih ke telinga Shela.


"Pagi? Aku aja baru tidur sebentar.. masa udah pagi?" Shela mengedipkan mata lentiknya.


"Anggap aja masih malam.. mau tidur lagi apa mau ditidurin lagi?" Parto tersenyum, gemas melihat Shela yang bisa secantik ini meski baru bangun tidur.


"Kamu enggak capek mas.. semalem udah abis-abisan tenagaku hadapi kamu, masa kamu enggak pegel.. ya seenggaknya lemes kek aku?!" Shela masih setia pada posisi berbaringnya.


"Capekku luntur liat kamu puas karenaku.."

__ADS_1


"Nackal.." Shela memeluk pinggang suaminya dengan posisi miring. Parto meladeni istrinya yang masih ingin bermanja-manja dengannya.


Enak ya gaess.. nikah itu indah banget.. Melihatnya bangun dari tidurnya, melihat dia membuka mata, melihat dia tersenyum hanya untukmu, pelukan dan ciuman yang halal dan hanya buat kamu itu emejing banget! Iya enggak?


__ADS_2