
Beberapa hari setelah kepulangannya dari klinik, Parto melanjutkan aktivitasnya. Membuka bengkel dan memperbaiki motor yang pelanggan percayakan kepadanya. Dia sangat bersemangat karena sebentar lagi impiannya benar-benar terwujud. Impian apa? Menikahi Shela tentunya.
Semalam emak dan bapak berkunjung ke rumah calon besannya untuk membicarakan pernikahan Parto dan Shela yang dipercepat. Ibunda Shela menyambut hal itu dengan baik. Lagipula ibunda Shela sudah melihat sendiri sedekat apa hubungan anaknya dengan Parto. Sebagai orang tua, rasa khawatir itu pasti ada. Takut kalau anaknya melakukan kekhilafan yang mengakibatkan penyesalan dan dosa di mata agama.
Saat orang tua Parto datang ke rumah Shela, Parto sendiri tidak ikut. Bapak melarangnya ikut, karena tanpa Parto pun kedua keluarga itu bisa menentukan tanggal pernikahan anak-anak mereka. Malah kalau Parto ikut bisa enggak kelar-kelar nantinya ya kan? Ingat waktu acara lamaran mereka.. sehabis acara lamaran saja Parto enggak langsung pulang bersama rombongan keluarganya. Dia malah tetap stay di rumah Shela untuk menghibur kekasihnya itu.
"Weh kerjamu srempengan (giat) men brother.. masih masa pemulihan mok ya dilemesin ototnya." Beni duduk di dekat Seno yang juga baru tiba di bengkel Parto. Sekarang tempat nongkrong favorit mereka adalah rumah Parto. Depan rumah dia sulap menjadi bengkel, sekarang jadi tempat favorit warga sekitar sana. Selain ramah, harga servis kendaraan mereka di bengkel Parto pastilah lebih murah daripada ke tempat suku cadang resmi motor mereka.
Pedagang keliling juga suka mangkal di samping bengkel Parto karena ramai. Jadi, tak ayal banyak ciwi-ciwi (cewek-cewek) atau bocah cilik yang kadang jajan atau sekedar berteduh di bawah pohon rambutan. Ayunan yang dulu rusak tak terurus kini sudah diperbaiki dan jadi tempat bermain anak-anak dekat rumah Parto.
"Aku kalau ke sini kok pasti penuh bengkelmu To, ada aja orang yang mau memperbaiki motor. Masa rusaknya bisa barengan gitu ya.." Beni mengamati bengkel yang bau oli itu.
"Iya ya Ben. Kalau ke sini ada aja motor rusak atau sekedar mau nyuci motor di sini. Emang mereka pemalas banget ya nyampe motor kotor aja harus orang lain yang nyuciin?" Seno makan pentol dengan santuy.
"Kalau mereka mau nyuci sendiri ya enggak bakal ke sini lah Sen." Beni yang menjawab. Parto diem aja. Fokus memperbaiki motor pelanggan yang rusak.
"To.. jadi kamu kapan nikahnya, kata dek Indah mau dimajuin acaranya!?"
"Dua minggu lagi." Singkat, padat, jelas.
"Wuuuiih edaaan bentar lagi belah ketupat eiuuy!" Seno bersorak gembira.
"Apaan belah ketupat? Belah duren kali Sen," Protes Beni.
"Belah duren mah udah umum, enak belah ketupat hahahaha.. lagian dek Indah enggak doyan duren jadi aku ikutan anti sama buah berduri itu!" Sekali bucin tetep aja bucin!
__ADS_1
"To, ada oli bekas?" Tanya Beni nampak serius.
"Tuh di pojokan!" Tunjuk Parto.
"Buat apa?" Sambungnya.
"Mau tak kasih ke Seno, biar diminum sama dia! Kurang cairan keknya dia itu... Lama-lama kok makin enggak waras!"
Parto bisa ngakak juga karena ucapan Beni. Seno yang menjadi bahan ejekan karena saking bucinnya sama Indah sih bodo amat.
"Dia ini berdedikasi tinggi lho Ben sama Indah, aku sama Shela aja biasa kok. Ya sewajarnya aja lah, enggak sebucin dia sama si cengeng yang manja itu." Beni nyengir mendengar penuturan Parto.
"Ya beda lah To.. Shela tuh modelan bar-bar, anti mainstream, enggak ada manis-manisnya, medeni (nyeremin) udah gitu sengak banget, kalau Indahku kan beda... Udah lucu, periang, ngangenin, bikin aku gemes terus pokoknya!" Cari mati dia ngomong kayak gini.
"Ben.. ambilin bensin aja Ben!" Ujar Parto.
"Kamu bawa korek kan? Aku mau nyiram mulut Seno pakai bensin, kamu yang lempar koreknya! Kita bakar aja dia!!" Beni tertawa ngakak. Sedang Seno, dia komat-kamit enggak jelas.
"To.. kamu harus tahu, Indah itu cinta pol sama aku.. kamu mau adikmu itu menjanda sebelum nikah sama aku. Tega-teganya punya niatan pen bakar aku lho?!" Seno pede sekali pemirsa.
"Masih ada Beni. Ngapain mikirin kamu. Tiap ke sini cuma mandorin aja, udah ku coret kamu dari daftar adik ipar. Ben.. silahkan kalau mau deketin Indah." Parto membuat Seno gelagapan. Bisa-bisanya nyuruh Beni deketin Indah.
Beni tertawa.
"Akhirnya aku dapet lampu ijo juga nih... Siap Mas To, aku sih yes, pepet Indah satu minggu. Aku yakin bakal bikin dia lupain makhluk bernama Seno ini. Hahaha" Beni senang melihat kekhawatiran di wajah Seno.
__ADS_1
"Heeeh.. Kelian ini ngaco! Mana boleh kayak gitu, Ben.. serius kamu mau deketin Indah? kita musuhan aja lah! Kesel aku lama-lama!" Mulai uring-uringan.
"Kan kan... Udah kayak bocah aja hahaha. Tadi bilangnya Indah cinta pol sama kamu, baru digertak gitu aja udah sewot aja sih."
Lagi asyik ngobrol, Beni dikagetkan dengan bunyi ponselnya yang berdering.
"Tuh angkat!" Seno memilih keluar dari pembicaraan tentang Indah. Beni menatap terkejut saat melihat nomer yang menghubunginya. Meski tidak dia simpan, tapi Beni hafal di luar kepala nomer perempuan yang sudah bersuami itu.
"Sopo Ben?" Tanya Parto yang melihat Beni memasukan kembali ponselnya ke saku celana tanpa menghiraukan panggilan yang masih berlangsung.
"Mela" Jawab Beni singkat.
"Kamu masih simpen nomer dia?" Tanya Seno.
"Enggak. Udah lama aku hapus nomernya tapi, aku hafal nomernya." Jelas Beni.
"Sampai hafal nomer mantan? Kamu enggak ada kerjaan lain apa nyampe nomer mantan aja mok hafalin?" Seno protes.
"Bukan gitu Ponariii!!! Dulu.. aku beli kartu perdana kapelan (couple) sama dia. Beda satu angka aja di belakang nomer perdanaku dan dia. Tanpa aku kasih nama juga bakal paham kalau dia yang telepon karena nomer kami hampir mirip." Terang Beni.
"Itu sih dodolnya kamu! Segala beli nomer kapelan hahaha. Kayaknya dia mau CLBK sama kamu. Bakal jadi bapaknya Jamila beneran nih eaaaa hahaha" Parto hanya tersenyum mendengar Seno yang mode julid.
"Tapi maaf ya Sen, daripada jadi bapaknya Jamila.. aku lebih bersemangat buat jadi bapak dari anak-anakku sama Indah nanti! Pasti bakal imut-imut banget deh anakku sama Indah, aku keren, ganteng, mempesona. Nah Indah cuby, manis, kiyut gitu.. aaah makin bersemangat aku mepetin Indah. Indah.. come to papa baby...!!"
Parto terbahak-bahak karena keaburdtan Beni dan Seno.
__ADS_1
"Bang_ke!!! Minggat sana!! Lucknut!!" Untaian kata-kata mutiara dari Seno makin menambah kegembiraan di hati Parto hari ini.