
"La.. sini duduk dulu," Ibu menyingkirkan ember di atas meja yang tadi Shela suguhkan untuk tante Rodiyah.
"Kalau ibu minta aku ngasih uang sama orang tadi, maaf buk.. aku enggak bisa." Shela mengambil ember itu dan menaruh lagi ke dapur.
Mengelap meja yang basah karena cipratan air dari ember, Shela masih diliputi rasa marah yang teramat sangat.
Yang benar aja, puluhan tahun tanpa kabar, enggak ingat jika masih punya anak yang dia tinggalkan di desa demi mengejar cintanya di kota, dan sekarang saat sakit dia mengutus istri kesayangannya untuk meminta uang untuk menyambung biaya berobatnya. Luar biasa sekali orang seperti ini, haruskah Shela berbelas kasih pada orang seperti ini? Ini lah yang Shela pikirkan. Sakit hati itu udah melekat bertahun-tahun. Akan sangat sulit menghilangkan luka yang ayahnya goreskan.
"La.. ibu tahu apa yang kamu rasakan nduk, ibu juga bukan malaikat yang ndak punya rasa marah, kecewa atau sakit hati..."
Mendengar apa yang ibu ucapkan tanpa mendengar kelanjutannya perkataan ibu, Shela bisa menebak kemana arah pembicaraan ibu.
"Buk.. mungkin saat ini ibu sudah memaafkan ayah. Tapi, Shela enggak buk! Shela enggak bisa. Bagi Shela orang itu udah enggak ada! Shela enggak akan lupa saat orang itu menutup pintu rumah majikannya keras-keras saat kita ingin bertemu dengannya. Membuat kita hampir pergi dari rumah ini! Puluhan tahun bukan waktu yang sebentar buk. Dia enggak mikir kita bisa makan apa enggak, dia enggak mikir gimana kelanjutan pendidikan anaknya. Enggak.. dia enggak mikirin itu, dia hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Lalu sekarang apa aku harus kasihan sama dia? Jawabannya enggak buk!"
Shela enggak bisa menahan air matanya, jatuh begitu saja tanpa bisa dia kontrol.
"Bagaimanapun dia ayah kamu La," Ibu berusaha melunakan hati putrinya.
"Dan harusnya dia juga mikir, bagaimanapun juga aku masih anaknya! Dia bisa segampang itu membuang aku, menganggap aku bukan siapa-siapa, kenapa aku enggak bisa? Aku bahkan bisa lakuin lebih dari itu buk! Sebelum orang itu meninggal aja aku udah lebih dulu anggap dia udah mati."
"Apa ibu mau merawat orang yang bukan siapa-siapa buat ibu? tinggal satu rumah di sini? Kalau iya, aku adalah orang paling kecewa di sini buk!" Shela berdiri ingin meninggalkan ruang tamu.
"Duduk dulu nduk," Perintah ibu.
Kembali duduk, Shela marah bukan sama ibunya, tapi rasa mangkel (emosi) itu belum bisa dia redam.
"Dengerin ibu dulu bisa nduk?" Tanya ibu mengusap punggung tangan anaknya.
__ADS_1
"La.. di agama kita ndak mengenal karma ya nduk. Apa yang ayahmu dapatkan saat ini bukan serta merta dipandang sebagai karma dari perbuatannya di masa sebelumnya. Sebab, hal itu bersifat ghaib atau hanya Allah SWT saja yang mengetahui. Dan ibu ndak bilang ibu mau tinggal satu atap dengan ayahmu. Ibu dan ayahmu sudah pisahan.. bukan muhrim, bukan hal baik jika kami tinggal satu atap."
"Jadi.. jika nanti benar ayahmu di bawa ke sini, ibu akan membereskan rumah alm. nenekmu untuk ayahmu tinggali. Kamu keberatan?"
Ibu memandang Shela, tentu saja Shela masih keberatan. Yang Shela mau, dirinya serta ibunya enggak berurusan lagi dengan orang yang secara biologis adalah ayahnya itu.
"Ujung-ujungnya kita juga yang harus ngurus dia kan buk? Ya Allah buk.. apa ibuk enggak ingat gimana orang itu dan istrinya memperlakukan kita?"
Ibu membuang nafas pelan, anaknya ini sangat keras kepala.
"Ingat nduk, ya udah.. kamu makan dulu ya. Pasti kamu belum makan kan?" Tersenyum meski dipaksakan. Seakan mencoba membujuk hati putrinya agar bisa sedikit melunak.
Shela hanya mengangguk. Meninggalkan ruang tamu. Ingin rasanya dia membatah perkataan ibunya tapi, dia tidak mau membuat ibunya makin sedih. Dengan kedatangan perempuan jadi-jadian tadi aja pasti udah membuat batin ibu terluka, apalagi harus ditambah dengan berdebat dengan dirinya.
...----------------...
"Iya pak." Jawab Parto mantap.
"Kenapa mendadak ngomongnya, kamu ndak bikin pacarmu isi duluan kan?" Giliran emak yang bertanya. Dengan sorot mata tajam setajam silet!
"Astaghfirullahalazim mak.. ya enggak lah mak." Parto langsung menyangkal tebakan yang menjurus ke tuduhan itu.
"Maklumin To, emak kan biasa nonton pilem azab illahi.. gaulnya sama mbak Sri juga, ya wajar kalau mikirnya terlalu jauh. Kadang mendahului kita cara berpikirnya,"
Bapak nyengir aja saat emak melotot ke arah bapak.
"Jadi ini kamu maunya lamar pacarmu dulu ya? Enggak langsung diajak nikah aja? Oiya To, pacarmu itu namanya siapa?" Bapak bertanya, kali ini beliau mengambil singkong goreng yang tadi batal dicomot.
__ADS_1
"Bapak ini piye to, masa ndak tahu nama pacarnya Parto! Iya To, nama pacarmu siapa ya, emak juga ndak tahu lho ini.."
Mendengar celoteh emak, bapak seakan ingin tepok jidat orang se RT. Namun beliau urungkan.
"Bukannya dulu Shela udah pernah memperkenalkan diri ya mak? Emak lupa?" Parto tenang sekarang, niatnya untuk melamar Shela sepertinya akan mulus kek pantat bayi.
"Yang emak ingat cuma bapak aja, iya kan mak?" Terlalu PD pak bapak.
"Itu kan udah lama To, ya maklum kalau emak lupa! Lagian bapak ini ndak mau ingetin mak malah ngeledek terus!"
"Gitu aja terus mak, salahin aja bapak. Bapak ini kok dari dulu ndak pernah bener. Pokoknya salah aja di mata emak." Bapak pura-pura mengsad.
Setelah merasa apa yang dia sampaikan bisa diterima orang tuanya, Parto pamit menuju dapur. Mau makan dia. Ternyata di sana ada Indah yang sedang goreng tahu isi tapi di sambi main hp.
"Awas kobong kui! Selot suwe edan kowe mesam-mesem dewe ngono iku!" (Awas gosong itu! Makin lama gila kamu senyum-senyum sendiri kek gitu!)
Indah kaget. Dia langsung melihat ke arah penggorengan. Semua oke. Enggak ada yang hangus kok.
"Cieee yang mau lamaran.." Indah tersenyum sambil mengedipkan matanya.
"Cieee yang hampir gila!" Parto mengambil nasi dia taruh di piring.
"Heh mas, itu kamu ambil nasi kok Portugal gitu!" Indah geleng-geleng kepala.
"Apa? Ini beras dari Portugal? Jauh amat, tumben emak beli beras impor" Parto melihat lagi ke dalam mejikom. Sama aja kok nasinya, enggak ada beda kek nasi yang biasa dia makan.
"Bukan itu Sarjono!!! Portugal itu singkatan, porsi tukang gali hahaha..." pas Indah sedang tertawa ngakak, Parto ambil tahu isi yang udah matang dan dijejelin ke mulut Indah.
__ADS_1
Bisa ditebak, Indah langsung mencak-mencak karena ulah absurd kakaknya.