Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Menguji Kesabaran


__ADS_3

Shela turun dari motor, setelah mereka sampai di rumahnya. Parto langsung mengeluarkan hp yang ada di saku celana. mencari nomer Beni atau Seno yang bisa dihubungi untuk menjemputnya pulang, karena enggak mungkin juga Parto jalan kaki dari sini sampai rumahnya.


"Kamu masuk ya La.. aku tak langsung pulang, istirahat yang cukup. Kamu pesti capek banget hari ini." Parto melihat Shela yang masih berdiri, diam mematung di sampingnya membuat dia mengerutkan kening.


"Kenapa La? Kamu pusing lagi? mau aku antar masuk ke dalam?" Masih enggak mendapatkan respon. Parto bingung ini kalau enggak di depan rumah Shela, Parto bakal nekat gendong Shela memasuki rumah. Seperti yang dia lakukan tadi di kediaman pak Agus.


"Kenapa..?" satu kata itu membuat Parto makin bingung. Ayolah La Shela.. Parto ni bukan cenayang atau sejenisnya yang bisa baca pikiran kamu. Dia juga enggak bisa selalu peka dengan keadaan kamu kan? Ngomongnya kok secuil-secuil gitu. Gemes ya Thor? Hooh!


"Apanya yang kenapa?" Giliran Parto yang menanyakan pertanyaan kepada Shela. Shela enggak jawab, dia malah bermaksud membuka jaket Parto dan mengembalikan kepada pemiliknya.


"Jangan dilepas.. kamu pakai aja. Ayo aku anterin kamu sampai dalam rumah, kamu masih kuat jalan?" Seperhatian itu kamu To.. Lha iya. Parto kan emang baik gaess.


Shela hanya mengangguk.


"Aku ada di belakangmu La, kamu masuk gih.."


Parto benar-benar diuji kesabarannya. Menghadapi Shela yang mode reog lebih horor daripada kena amukan emak sewaktu dirinya pulang tengah malam, karena lupa waktu saat nongkrong bersama Beni dan Seno. Dulu sebelum bertemu dengan Shela.. Parto menganggap Indah, adiknya itu adalah cewek paling cerewet yang diutus peri biru buat morat-maritin hidupnya. Ternyata anggapan Parto salah kaprah, setelah dia bertemu dengan cewek se emejing Shela.


Dia yang belum pernah sekalipun berpacaran dipaksa untuk peka dengan apapun kemauan Shela tanpa Shela berucap atau mengungkapkan dia ingin apa. Terus digembleng dengan kata-kata mutiara yang selalu keluar saat Shela sedang emosi. Membuat Parto menjadi lebih sabar sekarang. Sabar menghadapi egonya cewek bar-bar itu tentunya.


"Sampai dalam kamu istirahat ya, aku di sini aja. Aku tak telepon temanku biar nyamperin aku di sini."

__ADS_1


"Masuk aja.."


Aku kok lebih seneng kalau kamu jutek sama aku sih La, kamu yang kayak gini bikin aku serba salah. Huufft.. sabar To sabar.


Parto hanya mengangguk. Dia jadi ikut males ngomong. Kan Othor mimut ini udah bilang.. BT itu nular, see.. terbukti kan?


"Assalamualaikum.. buk.." Shela mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Tak lama, pintu rumah terbuka. Ibu membukakan pintu, terlihat beliau masih memakai mukena. Bisa dipastikan ibunda Shela baru selesai sholat.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarrokatuh, Nduk.. kamu kok anter kue lama banget. Ibu khawatir, mana hp kamu ndak bisa dihubungi. Ayo masuk Nduk," Ibu berkata sambil menggandeng tangan anak perempuannya. Beliau benar-benar cemas. Takut terjadi apa-apa kepada Shela, anak semata wayangnya.


"Lho Mas.. kok bengong aja, ayo to kamu juga ikut masuk. Ndak baik dayoh (tamu) kok di luar!" Imbuh ibunda Shela saat melihat Parto hanya diam mematung di samping pintu rumah.


"Injih Budhe,"


"Duduk dulu Mas, ibu tak kebelakang bikin teh ya.. Shela kok ya langsung masuk kamar iki kepiye,"


"Budhe.. mboten usah (enggak usah). Aku tak langsung pamit pulang saja, Dek Shela biar istirahat. Dia pesti capek banget Budhe."


Parto enggak berniat menceritakan kejadian tadi sore di rumah pak Agus yang membuat Shela pingsan.


"Kenapa Mas? Kelian berantem ya? Udah pada gede.. kalau ada masalah diselesaikan baik-baik. Jangan diem-dieman ya.."

__ADS_1


Ibunda Shela duduk di dekat Parto.


"Mas To.. ibu kasih tahu ya, Mas Parto ini satu-satunya laki-laki yang berani berkunjung kesini. Shela belum pernah ngajak pria manapun main ke rumah. Bukan ibu yang ngelarang, hanya Shela ini anaknya susah bergaul. Dengan siapa saja.. temannya saja enggak lebih dari lima jari ibu ini. Ya, karena Shela anaknya tertutup. Apa-apa disimpan sendiri, dipendam sendiri, sama ibu saja dia juga jarang cerita. Makanya waktu pertama kali Mas Parto ini kesini ibu senang sekali, akhirnya anak ibu itu bisa punya teman. Punya sandaran hati, padahal sebelumnya dia enggak pernah cerita aneh-aneh kalau lagi dekat sama seseorang."


"Tapi Budhe.. waktu pertama kali aku datang kesini itu kami belum saling kenal. Aku saja baru tahu nama dek Shela juga waktu Budhe menegur dek Shela waktu itu.."


Keduanya larut dalam obrolan tentang Shela. Tanpa mereka sadari sebenarnya Shela juga mendengarkan perbincangan mereka. Ya pasti denger orang saat ini Shela sedang berdiri di sisi samping ruang tamu, tangannya membawa nampan berisi dua cangkir teh buatannya. Mungkin teh itu Shela buat untuk othor yang imut ini satunya lagi, boleh lah buat kamu.. iya kamuu. Dah jan digagas hahaha.


"Iya, ibu tahu kok.. orang Shela juga bilang kalau dia enggak kenal kamu waktu itu Mas. Yang bikin ibu seneng, karena setelah kejadian mandi telur waktu itu, Mas To jadi main kesini lagi dan lagi.. Mas To pasti orangnya sabar banget ya? Ngadepin Shela itu kudu orang yang sabar, ibu enggak pernah manjain Shela Mas.. tapi, ya memang sifatnya seperti itu. Dia keras kepala, ibu sendiri kadang gemes sama anak itu. Kalau ngomong kayak sepur (kereta) panjang ndak ada ujungnya.."


Parto tersenyum. Memang iya, Shela memang seperti itu. Saat akan meneruskan obrolan mereka, Shela muncul. Kedua orang yang ada di ruang tamu itu menjadi diam. Shela juga ternyata belum melepas jaket kepunyaan Parto. Parto memperhatikan raut muka Shela, nampak lebih fresh daripada sebelumnya.


"Nduk.. ajak Masmu makan ya, ibu tak kedalam dulu. Mau nyetaplesin kardus buat pesanan besok. Jadi anak gadis jangan galak-galak. Masmu itu pasti loro ati (sakit hati) nek mok prenguti wae (kalo kamu cemberutin terus)."


Shela menghela nafas beratnya. Dia hanya mengangguk saja menjawab perkataan ibunya. Tanda mengiyakan.


"Kamu sakit hati ya sama aku?" Tanya Shela saat dia melihat Parto yang menunduk sambil memainkan hpnya.


Parto menggeleng sambil tersenyum. Dia enggak berkata apapun. Mode males ngomong on.


"Kok diem aja.. kamu pesti benci banget sama aku, ya kan?"

__ADS_1


"Jawaban apa yang mau kamu denger dari aku?"


__ADS_2