Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Patah Lagi


__ADS_3

Merasa sudah tahu jawaban atas pertanyaannya, Beni pamit pulang. Saat berpamitan dengan orang tua Wanda, Beni hampir menitikan air mata. Seakan malam itu adalah malam terakhir buat Beni bisa berkunjung di kediaman mereka.


"Ngene yo le.. Ojo sedih, ojo susah.. selumrahe wae, nek pancen Wanda kui garise dadi jodohmu, pesti petuk dalane kowe karo dekne nyanding." (Gini ya le.. jangan sedih, jangan susah.. sewajarnya aja, kalau emang Wanjda itu digariskan menjadi jodohmu, pesti ketemu jalannya kamu dan dia bersama.)


Ucapan dari ibu Wanda seperti hanya melintas saja di pendengaran Beni. Yang nyatanya, dia hanya menanggapi perkataan beliau dengan senyum yang dipaksakan.


Diliputi perasaan yang berkecamuk di dada, Beni melajukan motor secepat yang dia bisa. Dia ingin segera meninggalkan rumah Wanda, dia ingin menjauh dan pergi. Beni memang seorang yang sering bergonta-ganti pacar tapi, tetap saja patah hati itu adalah suatu yang menyakitkan.


Dia acuhkan dering telepon yang berkali-kali dia dengar. Dia bisa menebak siapa yang menghubunginya. Kenapa musti begini? Saat dia memantapkan hati untuk serius pada Wanda, kenapa malah Wanda yang menjadikan hati mungilnya itu ibarat layangan. Yang bebas di tarik ulur sesuka hati.


Beni tentu kecewa, tapi dia sadar diri.. dia juga enggak bisa nahan Wanda untuk meraih keinginannya. Dia ingin melarang saat Wanda mengutarakan niatnya ingin kembali bekerja di kota tapi, dia siapa? Tunangan bukan, suami juga bukan, hanya pacar. Pacar juga baru beberapa bulan jadian. Saat hatinya ingin menahan kepergian Wanda, tapi logikanya berjalan, menahan Wanda tanpa kejelasan status juga enggak ada gunanya. Di situ Beni merasa ada pergolakan batin yang mampu untuk membuat seorang Beni down.


Sampai di warung mbok Yuni, di sana masih ada Seno yang terlihat sibuk memainkan hpnya. Sudah bisa ditebak siapa gerangan di balik layar yang membuat Seno sesibuk itu.


Seno agak terkejut dengan cara Beni membawa motor, ada yang enggak baik-baik saja. Itu pikir Seno.


"Ben, udah nganter Wanda nya?" Tanya Seno saat Beni sudah duduk di kursi panjang di dekatnya.


"Uwes" Jawab Beni singkat.


Seno memasukan ponselnya ke saku celana. Mengamati Beni, yang meski hpnya berbunyi terus-menerus tapi enggak dia pedulikan.


"Kowe kenopo?" (Kamu kenapa?)


Dan saat itu, Beni menceritakan akhir kisahnya dengan Wanda. Gadis yang dua kali memutuskannya karena alasan ingin bekerja di kota. Beni sesekali menarik nafas beratnya. Dengan menyelipkan sebatang rokok di bibir, dia seakan sedang memberi semangat untuk dirinya sendiri.


Mendengar cerita Beni, Seno merasakan nyesek juga. Mereka memang konyol dan somplak tapi, rasa simpati mereka untuk satu sama lain itu tinggi.

__ADS_1


"Sen... angkat teleponnya, bilang aku udah sampai rumah. Aku enggak mau berubah pikiran dan menahannya tetap di sini kalau aku denger suaranya," Beni menyerahkan hp miliknya.


Seno mengangguk mengiyakan.


Wanda: Beben... ya Allah kenapa baru angkat teleponku? Kamu enggak apa-apa kan? Ben... bukan kamu aja yang terluka di sini, Ben.. aku minta maaf.. Ben-


Seno: Wanda, ini Seno, Beni udah nyampe rumah.


Wanda: (Diem sesaat) Mas Seno, Beben enggak apa-apa kan?


Seno: Dia baik, kelihatannya..


Mendengar penuturan Seno, Wanda memutuskan untuk mengakhiri telepon tersebut.


Seno memberikan kembali ponsel itu kepada pemiliknya. Tanpa berkata, Beni kembali memasukan benda tipis itu ke dalam saku celana.


"Kowe muleho.. aku sik pingin nek kene," (Kamu pulang aja.. aku masih kepingin di sini)


Seno tentu enggak membiarkan temannya larut dalam kesedihan sendirian, dia membujuk Beni agar mau pulang bersamanya. Sebelumnya Seno sudah mengirimkan pesan untuk Mbak Lulu agar enggak cemas mencari keberadaan Beni, dia menyampaikan kalau Beni akan menginap di rumahnya.


Hal itu sudah biasa Beni lakukan, sehingga Mbak Lulu enggak begitu khawatir saat Seno mengabari dirinya kalau adik laki-lakinya itu bersama dengan Seno.


"Ni minum dulu," Seno melemparkan satu kaleng minuman berkarbonasi kepada Beni, saat keduanya sudah sampai di rumah Seno.


"Tenangin pikiranmu, kamu yang tahu hatimu, sakitnya kayak apa, gimana nyembuhinnya, cuma kamu. Aku enggak mau mengguruimu karena emang aku bukan guru." Seno menambahkan perkataannya.


"Guru modelan rupamu muridnya bisa gendeng bersertifikat SNI." Ucap Beni asal.

__ADS_1


Seno ngakak, Beni membuka tutup kaleng minuman tadi dan meneguknya sampai habis.


"Ben.. misalnya Wanda nanti balik lagi ke sini, ngajak kamu rujuk, kamu bakal balikan lagi enggak sama dia?"


"Iki ati Sen, dudu WC umum sing sak penake dewe wonge iso plebu methu." (Ini hati Sen, bukan WC umum yang dia sesuka hati bisa keluar masuk.)


Mendengar hal itu, sudah bisa dipastikan nama Wanda akan tergeser dan hilang selamanya dari hati Beni. Hanya bagaimana dan seperti apa caranya itu yang Beni sendiri belum tahu.


"Besok enggak kerja kan? Ke rumah Parto ya, bantu-bantu di sana." Ajak Seno kepada Beni.


"Iya." Beni memposisikan dirinya rebahan di sofa, matanya dia pejamkan. Bayangan Wanda malah muncul dan membuat dirinya makin enggak tenang. Dengan bantal yang ada di sisi kirinya dia geser untuk menutupi mukanya. Berharap bayangan Wanda segera pergi dengan cara seperti itu. Tapi, sia-sia. Dia kembali duduk, Seno yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala.


"Kepalaku pusing Sen, aku keluar ya mau cari obat!"


"Enggak. Arep mletre kowe? (Mau mabok kamu?). Pengen obat apa kamu? Karbol? Baaygon? Apa syanida? Aku cariin, kamu enggak usah kemana-mana!"


Beni mengacak rambutnya, kepalanya seakan enggak bisa diajak berpikir waras saat ini. Patah hati membuatnya sedikit gila. Atau mungkin emang udah gila.


Untung saja Beni mempunyai teman yang peduli dan perhatian saat dia jatuh seperti ini, waktu menunjukan pukul 02.00, karena kelelahan dan efek ngantuk juga Seno tidur dengan posisi duduk di kursi ruang tamu. Sedangkan Beni, dia enggak bisa tidur untuk memejamkan mata saja terasa sulit. Karena saat mata itu terpejam sosok Wanda dengan senyum khasnya selalu muncul di pelupuk mata.


Beni berjalan keluar rumah Seno, dengan menuntun sepeda motornya agar saat di nyalakan tidak menggangu si empunya rumah. Setelah dirasa jarak antara dia ambil ancang-ancang untuk menghidupkan motor dan rumah Seno cukup jauh, dia akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.


Entah kemana dia akan pergi, yang pasti hanya berdiam diri saja enggak bisa membuat dirinya mengurangi rasa sakit itu.


Tiba di jalan raya, yang lumayan jauh dari desanya, mata Beni menangkap sosok yang berjalan sendiri dengan kaki terpincang-pincang.


Saat melambatkan laju motornya, Beni merasa mengenal sosok itu.

__ADS_1


Kira- kira dia siapa ya gaess?


__ADS_2