
Setelah kejadian tabrak bibir secara tidak sengaja itu, Parto berniat meminta maaf, tentu bukan sekarang karena Parto yakin ini bukan waktu yang tepat.
Mencoba memejamkan mata, tapi bayangan saat bibirnya bersenggolan dengan bibir Shela membuat Parto tak tenang. Hanya sepersekian detik tapi efeknya membuat dia gelisah seperti ini.
Parto mengambil hpnya yang dia letakkan di meja, udah seharian dia enggak megang hp. Jempolnya langsung menuju ke galeri. Dimana dia menyimpan foto Shela,
Apa aku udah gila.. gila karena nyampe sekarang masih menyimpan fotomu? Gila karena di pikiranku sekarang ini penuh dengan kamu. Maafin aku jika aku selalu buat kamu marah, setiap kita ketemu. Aku udah putusin.. mau kayak apa kamu menghindari ku, aku batek fokus sama kamu.
Akhirnya malam itu Parto lewati dengan tidur sambil mendekap hp yang ada foto Shela di dalamnya.
Waktu cepat bergulir, tidak terasa sudah seminggu lebih Parto dan Shela enggak ketemu. Keduanya mempunyai kesibukan masing-masing. Parto yang bekerja jadi supir di tempat pak Agus, dan Shela yang makin sering berseliweran di jalan karena pesanan kue dan snack ibunya yang makin banyak peminat.
Parto selesai bekerja, dia memarkirkan mobil pak Agus di tempatnya. Dimana? jangan tanya.. letak mobil terparkir pada umumnya itu ya di garasi. Mau diletakan di hatimu othor yakin enggak bakal muat.
"To..kamu jangan langsung pulang, ini Efa ulang tahun.. Kamu di sini aja dulu."
Pak Agus memanggil Parto yang terlihat berjalan mendekati motornya.
"Nuwunsewu pak, aku enggak enak sama Efa.. lha wong tamunya aja anak-anak SD semua kok. Aku tak langsung pulang saja njih.."
"Lha kamu ini, jadi orang kok selalu saja ewohan (enggak enakan). Itu ada Ralina juga di dalam.. kamu bisa ngobrol-ngobrol sama dia,"
Parto berpikir sejenak, saat dia belum memutuskan untuk menyetujui kemauan pak Agus untuk tetap di rumahnya dan merayakan ulang tahun anaknya.. Parto malah ditarik untuk ikut beliau masuk ke dalam rumah.
"Enggak usah banyak mikir.. kamu makan aja dulu, Lin.. ajak Parto ngobrol ya, aku tak ke depan lagi." ucap pak Agus saat keduanya sudah berada di dalam rumah. Ralina hanya mengangguk saja menjawab perkataan pak Agus.
"Mas Parto abis pulang kerja ya?" Ralina langsung membuka obrolan saat melihat Parto yang pasif hanya diam saja.
"Iya Lin, maaf ya kalau bau.. ini tadi mau langsung pulang tapi, om mu malah nyuruh aku masuk sini. Aku enggak PD lho iki.."
__ADS_1
Ralina tersenyum.
"Aku kan enggak mempermasalahkan baunya Mas, lagian juga enggak bau kok.. hahaha"
Parto ikut tersenyum karena ternyata Ralina orangnya welcome. Enggak pilih-pilih kawan.
"Ni Mas,, diminum dulu, pasti haus kan? capek kan?" Parto menerima sebotol air mineral dingin yang Ralina ambil dari kulkas.
"Ya Allah malah ngerepotin kamu, maturnuwun Lin," Ralina tersenyum mendengar ucapan terimakasih Parto.
Saat Parto meminum air pemberian Ralina, tiba-tiba dia dikagetkan oleh Efa yang menubruknya dari belakang. Anak itu sedang bermain 'kejar daku kau ku jitak'.. maaf bukan itu, Efa sedang kejar-kejaran dengan teman-temannya. Alhasil, air itu tumpah membasahi baju dan celananya.
"Ya Allah Mas.. minumnya sampai tumpah gitu. Iieh Efa, jangan lari-lari di dalem rumah dek! Lihat ini Om Parto bajunya basah gara-gara kamu!"
"Eh.. enggak apa-apa Lin, jangan dibentak Efa nya. Nanti dia takut, nangis.. kesian kan lagi ulang tahunnya ini."
Efa enggak gagas percakapan kedua manusia dewasa itu, dia masih saja sibuk main lari kesana-kemari. Masih kecil wajar main kejar-kejaran, lari-larian, lain cerita kalau sudah besar.. main lari dari tanggung jawab. Udah bikin orang baper terus ngilang, rasanya pen tak hiiiih. Okey lupakan bagian ini.
"Mas.. maaf Mas.. aku enggak sengaja, ini balonnya kok berserakan kayak gini tho," Ralina malu. Dia langsung menjaga jarak dari Parto dengan memundurkan langkahnya.
"Iya enggak apa-apa Lin, namanya juga pesta ulang tahun anak kecil ya pasti banyak balon lah.." Parto menjawab sekedarnya saja.
Pandangan Parto tertuju pada gadis yang berjalan menuju pintu rumah pak Agus.
Shela? Itu Shela?
Meski dari arah belakang, Parto mulai mengenali postur tubuh Shela. Dia bergegas menghampiri gadis jutek itu. Dia bermaksud untuk meminta maaf untuk kejadian seminggu yang lalu.
"La.." Panggil Parto yang sedikit berlari agar bisa menyusul Shela.
__ADS_1
Shela berhenti. Dia menghadap ke belakang, melihat ke arah Parto memanggilnya.
"La.. Aku minta maaf, waktu itu aku.." Ucapan Parto terhenti dengan kode telapak tangan Shela yang di arahkan ke muka Parto. Memberi tahu agar Parto 'stop' bicara.
Masih terdiam dengan posisi yang sama, keduanya belum ada yang memulai pembicaraan.
"Mas Parto.. enggak mau ganti baju aja? Pakai baju om gitu..?" Ralina mengikuti Parto keluar. Dia tidak tahu kalau di luar ada reog yang siap ngamuk.
"Enggak Lin.." ucap Parto singkat.
"La.. aku perlu ngomong sama kamu, jangan kayak gini.. aku minta maaf!" Ralina bingung ini sebenarnya ada apa. Parto enggak ingin Shela makin benci dan muak melihat dirinya. Karena itu, dia ingin menjelaskan kalau diapun syok setelah kejadian waktu itu.
"Maaf? Apa maaf mu berguna? Apa maaf mu bisa balikin ciuman pertamaku? Dari awal ya.. dari awal aku udah punya feeling kamu itu cowok enggak baik! Iya kamu! Kamu yang terus-terusan ganggu aku, muncul dimanapun saat aku kesulitan. Aku tahu itu cuma modusmu! Modus buat deketin cewek tapi, maaf.. modus mu itu enggak ngefek buat aku! Enggak sama sekali!"
Shela menarik nafas. Dia kesal. Sangat kesal.
"Mbak.. kamu pacarnya dia? kalau bukan atau belum.. aku saranin jauh-jauh dari dia! Dia ini tampangnya aja yang sok polos tapi sebenarnya punya niat enggak baik! Aku udah buktiin sendiri.. Aku rugi berkali-kali lipat karena berurusan dengan cowok demit satu ini. Daripada Mbak nyesel nantinya, mending jauhin dia sekarang. Dan lagi.."
Ucapan Shela terhenti, saat ini Parto menarik tangan Shela, memeluknya dengan erat. Seperti sedang menyalurkan perasaan rindu. Bukan hanya Shela yang terkejut.. Ralina juga ikut melongo karena ulah Parto.
"Diam La.. kamu inget kejadian ini? ini kedua kalinya aku meluk kamu. Aku enggak punya cara lain buat bikin kamu diem, maaf kalau kamu enggak nyaman dengan ini.. bukan kamu saja yang merasa senggolan bibir kita waktu itu adalah ciuman pertama. Karena aku juga enggak pernah lakuin itu sebelumnya, aku enggak se bar-bar itu.. aku enggak se liar yang kamu kira.. La.. dari awal kita ketemu, selalu aja ada hal yang bikin kita berantem. Maaf untuk semua hal itu.. aku minta maaf," Ucapan Parto yang seperti berbisik di telinga Shela membuat hati Shela bergetar.
Entah mengapa tiba-tiba Shela menjatuhkan air matanya. Dia enggak pernah di peluk lelaki, selain ayahnya. Dan, hal itu juga sudah sangat lama. Ayah.. Shela langsung menangis sesenggukan di pelukan Parto saat mengingat sosok itu.
Parto yang enggak mengerti kenapa Shela malah menangis, langsung melepaskan pelukannya. Shela yang masih saja menangis, makin membuat Parto kebingungan.
"La.. La.. dengerin aku, kalau hadirku buat kamu sesedih ini.. aku pergi La.. aku minta maaf, mulai sekarang.. dimanapun aku melihat kamu, aku akan pergi.. biar kamu enggak sedih kayak sekarang ini. Udah La jangan nangis, aku anter kamu pulang? Untuk yang terakhir kalinya.. aku enggak bisa lihat kamu kayak gini."
"Pergi? Kenapa semua orang suka datang dan pergi sesuka hati? Kenapa? Aku benci kamu To.. Aku bener-bener benci kamu.." Shela mengusap air matanya berusaha menata hati agar kembali kuat. Shela.. dia hanya seorang gadis yang sok tangguh. Sok kuat, dengan semua sifat keras kepala dan egonya sebenarnya dia menyimpan banyak luka di hatinya.
__ADS_1
"Lalu.. aku harus gimana La?"