
Dua minggu setelah Seno yang tiba-tiba drop dengan kondisi fisik juga mentalnya, berpengaruh juga dengan Indah. Bukan sakit, hanya dia menjadi pemurung.
Selama itu juga keluarga dan para kakak Indah memberi support kepadanya. Selama satu minggu dirawat di rumah sakit yang terletak di kota, Beni dan Parto juga sering bolak-balik menjenguk temannya itu. Bagi mereka, Seno bukan sekedar teman atau sahabat tapi mereka sudah terikat secara batin seperti saudara.
"Jadi.. Seno beneran mau lamaran sama cewek yang dijodohkan dengannya?" Tanya Beni sambil menghembuskan asap karbohidrat yang diciptakan dari rokok yang dia nyalakan.
"Iya," Ucap Parto singkat.
Saat ini Beni dan Parto ada di warung mbok Yuni. Sudah sangat lama mereka tidak berkunjung ke tempat favorit mereka ini. Kesibukan dan juga status membuat acara ngumpul ngopi di warung langganan untuk berhutang kopi atau rokok ini menjadi berkurang.
"Seno kok lama-lama kayak robot, nurut banget disetirin mamaknya. Aku merasa setelah putus dari Indah dia jadi beda." Beni berkomentar lagi.
"Iya," Jawab Parto membenarkan. Beni melihat ke arah Parto,
"Kamu ngomong iya sekali lagi aku siram pake kopi!" Beni mematikan rokoknya.
"Ya abis mau bilang apa, nyatanya emang omonganmu semua bener kok!"
"Mamaknya Seno kok bisa tega gitu kenapa ya To? Dia juga udah tahu kalau Seno hanya cinta sama Indah kok ya tega misahin mereka,"
"Bagi orang-orang seperti ibunya Seno itu ya Ben, sulit membuat pikirannya terbuka tentang hal yang belum pasti terjadi. Ya misalnya ramalan, primbon, weton dan sebagainya itu. Mungkin Seno punya cara sendiri buat bikin ibunya sadar bahwa apa yang beliau percayai itu hanya mitos." Parto menerima kopi yang disodorkan oleh mbok Yuni.
"Gini ya Ben, To... Mungkin sudah jarang orang sekarang yang menggunakan hitungan Jawa untuk menentukan suatu hal seperti pernikahan, arah rumah dan membangun rumah. Membeli hewan ternak juga jaman dulu harus menggunakan hitungan primbon juga, memulai bercocok tanam, atau melakukan kegiatan apapun yang dianggap menguntungkan harus disertai hal demikian," Terang mbok Yuni ikut bergabung dengan obrolan mereka.
"Haah mbuh lah mbok, aku pribadi enggak sependapat sama hal semacam itu. Tapi, kalau ibuku ngelarang aku menikah dengan pilihanku misalnya, beliau harus punya alasan yang jelas dan masuk akal. Aku bukan mau jadi anak durhaka, bercita-cita ke sana pun enggak.. tapi, semua harus dijelaskan dengan nalar. Intinya, aku akan terima kalau alasan ibuku melarang ku menikah dengan wanita pilihanku kalau hal itu masuk akal." Beni berandai jika dia yang ada di posisi Seno.
__ADS_1
"Ben, Seno mau ke sini katanya.." Parto membaca pesan dari Seno. Menyampaikannya kepada Beni.
"Wooh tumben, bagus lah.. dia ini kok sekarang lebih sibuk dari kamu yang udah punya istri ya To. Kamu aja punya istri masih bisa nongkrong sama aku di sini kok,"
"Kan dia mau lamaran Ben, abis sakit juga.. Ya wajar kalau sibuk. Waktu buat ngumpul sama kita berkurang,"
Beni hanya manggut-manggut membenarkan perkataan Parto. Dua puluh menit mereka ngobrol, akhirnya Seno datang juga.
Seno terlihat makin kurus, ternyata masalah hati bisa berimbas ke fisik. Buktinya Seno yang dulu emang cungkring terlihat makin mirip jerangkong saat ini. Apa itu jerangkong? Tengkorak hidup!
"Assalamualaikum.." Seno duduk di samping Parto,
"Waalaikumsalam.." Parto dan Beni menjawab bersamaan.
"Capek Sen?" Tanya Beni melihat Seno seperti kurang tidur.
"Huum tahu," Beni mengangguk.
"Kalian tahu aku mau lamaran sama siapa?" Seno bertanya kembali.
"Enggak. Netijen belum kasih info ke aku sama siapa kamu mau ka_win!" Lagi-lagi Beni yang menjawab pertanyaan Seno.
"Virza." Ucap Seno singkat.
Beni dan Parto kaget. Virza kan anak pak RW desa sebelah yang dulu ngebet minta pertanggungjawaban Beni karena dia menganggap Beni adalah Bambang, mantan pacarnya.
__ADS_1
"Waduh.. Ternyata kamu dijodohin sama mbak Bambang itu? Kesihaaaaan..." Beni geleng-geleng kepala.
"Kamu enggak nolak Sen?" Tanya Parto menatap Seno.
"Enggak. Tapi, Virza yang nolak mati-matian. Dia enggak mau dijodohin sama aku.." Terang Seno.
"Lah.. Kisah cintamu rumit sekali nak," Beni mengambil rokok di depannya. Mulai membakar ujung rokok itu saat sudah dia selipkan di antara bibirnya.
"Kok dia nolak kenapa? Enggak cinta apa gimana? Atau masih berharap Beni tanggung jawab sama dia?" Tanya Parto tertarik dengan cerita Seno.
"Lambemu To, kok jadi bawa-bawa aku.. Virza tahunya aku udah nikah. Aku juga enggak pernah ketemu dia lagi, terakhir waktu beli buah di pinggir jalan dulu.." Beni memprotes.
"Aku bilang ke dia.. Aku udah hamilin cewek karena kekhilafan ku, karena perjodohan itu, aku enggak bisa tanggung jawab dengan perbuatan yang aku lakuin. Aku harus ninggalin cewek yang udah aku hamilin demi nurutin keinginan orang tuaku menikahinya. Dia kaget! Sampai nampar aku waktu keluargaku datang ke rumahnya pertama kali. Ibuku syok karena aku bilang kayak gitu.." Seno enteng saja menjawab pertanyaan dari kedua temannya.
"Buset! Kamu hamilin siapa? Indah?" Beni membelalakan matanya. Parto sampai menaruh kembali kopi yang mau dia minum.
"Maunya sih gitu, tapi itu cuma caraku batalin perjodohan dan rencana ibu yang makin buat aku tertekan.. Aku capek.. Aku pengen bebas kayak dulu, tapi aku juga enggak mau bikin ibu kecewa," Seno mengambil rokok di depan Beni tapi, langsung disambar oleh Parto.
"Maunya sih gitu? Heeeeh!! Ku cekik kau berani jamah Indah sebelum sah!!" Kata Parto ketus. Ya lah.. Di depan matanya, dia dengar ada orang mau hamilin adiknya, cari mati??!
"Abis sakit, enggak usah macem-macem.. Masih mending kamu enggak jadi bablas kemarin!" Lanjutnya.
"Lalu kelanjutannya gimana? Kamu jadi lamaran sama Virza apa enggak?" Giliran Parto yang bertanya.
"Aku pengennya enggak jadi, Virza minta aku tanggung jawab sama cewek yang aku hamilin. Masalahnya aku enggak pernah tanam saham di sembarangan tempat. Ibu bilang aku sudah gila karena Indah. Nyatanya memang begitu, aku hampir mati karena enggak bisa bersama dengan Indah." Seno memutar kembali kenangan saat dia memutuskan untuk berpisah dengan Indah.
__ADS_1
"Virza lihat aku aja kayak risih, dia mikir aku benar-benar hamilin orang." Lanjut Seno.
"Jadi gimana To? Kamu punya ide buat bantu teman kita yang emang udah gila ini?" Beni bertanya pada Parto yang malah menarik nafas dalam. Parto ikut pusing karena kisah cinta Seno ini.