
Beni saat ini diberi pilihan hati yang membuatnya galau. Wanda datang kembali ke kehidupannya, menawarkan kisah baru rasa lama dan berharap Beni bisa menerimanya kembali. Jujur saja, dalam hati mungilnya masih terselip nama Wanda di sana. Entah kenapa dia tidak bisa menggeser nama Wanda seperti dia melupakan kisahnya dengan Mela.
Yang membuat dia galau adalah sekarang dia juga dekat dengan Virza. Belum ke tahap pacaran, hanya saja mereka cukup akrab sekarang ini. Setiap hari bertukar kabar, menjalin komunikasi dari berbagai macam aplikasi onlen yang tersedia di ponsel mereka masing-masing.
Sore itu, Beni mengajak Virza ketemu. Memilih antara mantan terindah dan gebetan baru yang sulit ditaklukkan itu sulit! Entahlah, sesulit apa tapi yang pasti hal itu bisa membuat Beni galau.
Saat dia bertanya kepada Seno dan Parto, kedua temen lucknutnya ini malah menyarankan mengambil dua-duanya! Ancen lucknut mereka! Beni emang playboy.. tapi, itu dulu. Dia ingin menjadi Beni yang berbeda dengan cap playboy yang sering melekat pada dirinya.
"Ngapain ngajak ketemu di sini Ben?" Mereka ada di obyek wisata yang ada di sekitar desa mereka. Sebuah danau berwarna biru dengan banyak bunga yang mengelilingi danau itu, beberapa gazebo berdiri untuk tempat bersantai para pengunjung yang ingin beristirahat melepas lelah.
"Lha kamu tak tanyain mau ketemu di mana bilang terserah terserah mulu, giliran diajak ke sini salah lagi aku kayaknya. Oiya lupa aku cowok, cowok emang selalu salah di mata ceweknya!" Beni melepas topinya.
"Ngarep! Ceweknya siapa hmmmm? Aku free kok!" Wah kode keras Ben!
Beni bukan amatir di bidang ini, dia tahu apa yang harus dia lakukan saat seorang cewek memberi kode macam itu!
"Vir.." Panggil Beni.
"Opo?" Virza melihat ke arah Beni.
"Aku mau tanya sama kamu, ini misalnya kamu ditempatin di posisi yang musti balikan sama mantan atau menjalin hubungan baru sama orang lain yang bikin kamu nyaman, kamu pilih mana?" Beni menatap Virza, ingin tahu jawaban apa yang akan gadis itu berikan.
"Mantan ya mantan aja, aku enggak pernah minat melihat ke belakang sih Ben. Mantan, selalu punya tempat di hati tapi bukan untuk menetap di sana. Kenangan bersama mantan pasti kadang muncul tapi bukan untuk diingat terus menerus. Move on itu harus! Kalau seseorang yang punya julukan mantan punya efek sedahsyat itu di hati sampai enggak bisa digeser orang lain, ya jangan jadikan dia mantan! Simpel kan Ben?" Virza menyampaikan pendapatnya.
"Gitu ya..." Beni tersenyum karena udah dikasih siraman qolbu oleh Virza.
"Kenapa? Kamu mau balikan sama mantanmu?" Giliran Virza yang bertanya.
"Enggak tahu, bisa iya bisa enggak.. tergantung kamu.." Beni menatap danau biru di depan mereka.
"Kok aku? Maksudnya gimana?" Virza bingung.
"Kalau sekarang aku nembak kamu dan kamu terima ya aku enggak jadi balikan sama si mantan itu Vir.." Beni nyengir.
"Ya salam... kamu jadiin aku ban serep?! Maaf ya Ben, mending kamu ceburin diri ke danau itu aja! Kita emang dekat tapi bukan berarti kamu bisa jadiin aku serepan di hatimu!" Virza agak kesal.
"Kamu mau aku nyebur sana? Demi apa? Kamu tahu.. aku enggak bisa berenang." Beni bersungguh-sungguh.
"Demi buktiin kalau aku bukan serepan di hatimu!" Virza bercanda. Tapi, Beni menanggapi hal itu dengan serius.
"Danau itu dalem enggak ya Vir?" Beni bergidik.
"Kalau misal aku enggak muncul lagi, kamu yang nyesel lho," Virza mengerutkan keningnya. Ini orang mau apa? Batin Virza.
"Heeeeh kamu mau apa? Enggak usah aneh-aneh! Udah mau malem ini, kita pulang aja yuk lah," Virza menarik tangan Beni agar menjauh dari bibir danau. Dia enggak mau disebut sebagai penyebab seseorang bunuh diri nantinya!
__ADS_1
"Virza-"
"Bebeeeen.. Ben.. Bebeeeen kamu di sini juga!!"
Momen penembakan (mengungkapkan perasaan) yang harusnya membuat Beni menanggalkan status jomblonya ambyar karena Wanda meneriaki namanya udah seperti meneriaki maling jemuran aja. Virza otomatis melihat ke arah perempuan yang datang menghampiri mereka tersebut, menghampiri Beni lebih tepatnya!
"Nda.." Beni bingung mau ngomong apa.
"Beben tadi aku telepon kamu, tapi nomer mu enggak aktif." Wanda tersenyum tanpa memperdulikan sosok Virza di dekat mereka.
Ya mati orang sengaja aku matiin kok!
"Owh aku ngerti sekarang, dia mantanmu Ben?" Virza bertanya dengan sedikit senyum sinis di wajahnya.
Wanda melihat ke arah Virza.
"Dia siapa Beben?" Wanda bertanya dengan sangat kepo.
Tolong siapapun telepon Doraemon, bilang ke dia, suruh paketin satu biji pintu kemana saja buat ku! Sekarang!
Enggak menunggu jawaban, Virza beranjak pergi. Meninggalkan Beni dalam kegalauannya. Meninggalkan dia bersama Wanda,
"Virza hei.. Kamu mau kemana?" Beni berteriak tapi, enggak digubris!
"Nda.. Kamu tadi ke sini sama siapa?" Beni bertanya pada Wanda yang masih bengong.
"Sendiri,"
"Kamu bisa pulang sendiri juga kan ya? Nda.. maaf aku ada urusan penting. Maaf ya Nda.." Beni mantap mengejar Virza! Meninggalkan Wanda dengan hati teriris. Apa seperti ini yang Beni rasakan waktu dia pergi meninggalkannya demi cita-citanya meniti karir di kota. Sakit banget!
Wanda tidak bisa mencegah kepergian Beben. Dia hanya bisa melihat bayangan lelaki yang ada di hatinya itu pergi semakin menjauh dari pandangannya.
Aku yang terlalu PD karena menganggap posisiku di hatimu enggak ada yang bisa gantiin Ben.. Aku yang salah karena udah ninggalin kamu, sekarang.. kamu udah membuka hati untuk yang lain sedangkan aku masih di sini menanti seseorang yang bisa membuatku melupakanmu!
Virza sampai di rumahnya! Kenapa dia bisa semarah ini? Harusnya dia enggak nunjukin kalau dia cemburu tadi! Cemburu? Apa iya dia cemburu sama Wanda? Virza menepis anggapan yang dia ciptakan sendiri.
Pukul 20.15, sepi! Kemana ayah dan ibunya? Virza mengambil ponselnya. Membuka pesan yang masuk, memberitahu bahwa ayah dan ibunya menghadiri hajatan di kampung sebelah. Selain itu Virza juga melihat beberapa panggilan telepon dari nomer Beni. Virza masa bodoh! Dia menaruh ponselnya di meja. Rasanya capek sekali. Deru motor yang Virza kenal mengagetkannya saat akan memejamkan mata.
Beni. Mau apa dia ke sini? Pasti mau pamer karena udah balikan sama mantannya! Awas aja kalau sampai dia bener-bener pamer hal itu padanya, dia akan ambil air panas dari dispenser dan menyiramkannya ke arah Beni! Sadis? Ya mben!!
"Za.. Virza..! Assalamualaikum," Pintu terbuka, Virza melihat Beni dengan tatapan malas.
"Waalaikumsalam!" Jutek kali lah kau Za!
"Boleh masuk?"
__ADS_1
Enggak di jawab. Pintu dibiarkan terbuka lebar, yang artinya Beni dipersilahkan masuk oleh pemilik rumah.
"Aku ke sini mau bilang-"
"Stop! Enggak usah pamer! Aku tahu kalian balikan kan??!" Udah sensi duluan.
Beni tersenyum. "Enggak. Aku ke sini mau bilang.. Aku enggak bisa pacaran sama kamu, tapi aku pengen kamu mau jadi istriku! Kita nikah ya?!" Hah? Virza bengong. Apa-apaan dia ini!
"Kamu nembak aku?" Virza bertanya.
"Enggak.. Aku ngelamar kamu lebih tepatnya! Kita pacaran kalau udah nikah aja, gimana kamu mau kan?" Beni emang syedeng!
"Tapi maaf aku enggak bawa cincin atau kalung buat kamu, aku cuma bawa hati dan raga yang berjanji akan selalu menjadikan kamu satu-satunya di hidupku!" Lanjutnya.
"Kamu tadi ke sini mabok dulu ya?" Virza masih enggak percaya dengan ucapan Beni.
Beni mengeluarkan ponsel, dompet dan kunci motornya. "Ini.. aku cuma bawa ini, kamu bawa aja sebagai jaminan aku bakal ke sini buat lamar kamu secara resmi." Ada ya orang kayak Beni?
Virza tersenyum. "Kalau mau gila jangan di sini, ini rumahku bukan tempat penampungan orang gila!"
Keduanya tersenyum. Beni tahu meski enggak menjawab secara langsung, tidak mengiyakan lamarannya yang mode slengean itu.. dia yakin saat ini Virza telah menerimanya.
"Bawa nih, aku enggak butuh.. emang kamu mau pulang jalan kaki?"
"Bagaimana kalau aku nginep aja di sini?" Usul Beni asal mangap!
"Jangan mimpi!"
Mereka tertawa. Mengobrol panjang lebar, sampai waktu menunjukan pukul 22.00, sudah sangat malam. Beni melihat Virza dengan jarak sedekat ini membuat nalurinya sebagai player muncul. Diperhatikan bibir tipis itu. Me_sum!
"Kenapa lihatnya ke bibir mulu?" Enggak bisa menjawab, Beni hanya tersenyum aja. Emang ya.. jangan biarkan lelaki dan perempuan ada dalam satu ruangan karena yang ke tiga pastilah kak Diaz eh maaf yang ke tiga pastilah setan!
Meraka melakukan 'adu mulut' dengan santuy. Bahkan sekarang Virza mendominasi permainan ini, Beni sampai kagum dengan keahlian gadis ini dalam olah bibir yang mereka lakukan.
"Bentar..." Suara Beni serak. Pandangan mengejek ditunjukan Virza. Beni meminta jeda karena sesuatu yang lain dari tubuhnya memberontak tak karuan. Berdiri tegak memberi hormat untuk si penakluk hatinya saat ini.
Beni enggak mau dianggap lemah karena senyum mengejek yang ditunjukan Virza, kembali melakukan 'adu mulut' sesi kedua, Beni yang hampir menguasai medan dikagetkan oleh suara ketukan pintu. Keduanya kaget!
"Ehm..." Deheman ayah membuat Virza menjauh dari Beni. Ternyata kedua orang tua Virza sudah pulang! Kapan sampainya, kok mereka enggak denger suara mobil yang dikendarai ayahnya Virza?!
"Za.. Ibu mau bicara sama kamu," Virza menunduk, malu semalu-malunya. Mengikuti ibunya yang berjalan memasuki rumah menuju kamar pribadi Virza.
Dan saat Virza masuk ke dalam kamar, Beni yang duduk di ruang tamu bersama dengan pak RW yang tak lain adalah bapaknya Virza, langsung mengutarakan niatnya ingin melamar Virza.
"Mas.. Jangan obral janji, cukup buktikan!" Tantang ayah Virza membuat Beni berbinar karena langsung dapat lampu hijau dari calon mertua.
__ADS_1