
Dengarkanlah di sepanjang malam aku berdoa,
Bersujud dan lalu aku meminta..
Semoga kita bersama,,
Dengarkanlah di sepanjang malam aku berdoa,
Cintaku untukmu selalu terjaga dan
aku pasti setia..
"Kenapa mukamu kek kambing minta di sembelih si Ben, aku kok sepet liatnya! Kamu tahu.. Orang yang moodnya jelek.. nyebarin aura negatif yang kuat! Aku udah buktiin kebenarannya, dari tadi aku ikut gabut di sini gegara kamu!" Parto bosan. Dari tadi dia dan Beni ada di depan minimarket tanpa memasukinya, tanpa ada niat sedikitpun untuk berbelanja, lah terus ngapain? Beni lagi ngintai seseorang. Siapa? Adit lah.. masa Othor!
"Aku kan ngajak kamu karena Seno enggak bisa, dia masih ada kerjaan sama adekmu! Tu orang sekarang kerjaaannya ngeratain jalan depan rumahmu.. saben hari ada aja alasan buat nyatroni Indah! Gile bener.. tahu gitu dulu aku ogah bantuin dia nembak adikmu! Lagian tadi kamu bilang iya iya aja.. Saiki protes,!"
"Iyo Ben.. aku juga nyesel lho bantuin Seno, apaan masa Indah yang baru netes kemarin sore udah dapet pacar, lha aku sampe lumutan ini tangan belum laku juga! Kan suwe banget.. Dimana letak keadilan!"
Kedua jomblo ini saling mencurahkan isi hati karena kesal dengan keadaan.
"Lebih gedeg lagi sama itu orang berdua aku Ben, geli banget lihatnya.. nyanyi-nyanyi di tempat umum kayak gitu! Biar apa? pamer! mending suaranya bagus..!" Parto menunjuk dengan dagu dua orang pasangan bucin yang duduk di depan kursi minimarket. Merasa risih dengan kelakuan mereka yang terang-terangan pacaran di tempat umum.
__ADS_1
"Wuelek (jelek) ngono yo To, jadi ceweknya kok enggak muntah ya? Kalau aku pesti blokean! (muntah)" Beni ikutan julid.
Sebenarnya apa salah kedua orang di sana itu sampai-sampai Beni dan Parto mengghibah mereka? Enggak ada yang salah sih. Untuk kedua pasangan bucin tadi, dimanapun tempatnya mereka bisa menunjukkan kemesraan mereka. Pamer lah ceritanya. Pamer sama siapa? Ya sama jomblowers kek Beni dan Parto itu. Lihat.. mereka berhasil bikin Beni dan Parto gerah sendiri?
"Dia nyanyi apa sih Ben?"
"Lha mbuh.. (tak tahu), yang salah bukan lagunya To.. Tapi yang nyanyiin itu, keliatan banget dia spesies anaconda! Sekali dapet mangsa langsung di untel-untel (dibelit), terus di caplok utuh-utuh.!" Keduanya tertawa, mereka itu kenapa malah suka gunem (ngomongin) orang!
Lagian Beni sama Parto ngapain sih pake nongkrong di depan minimarket.. kek enggak ada tempat lain aja!? Tadinya, Beni ngajak Seno ke lokasi kejadian dimana Adit membuat malu Wanda, di rumah makan lesehan sebelah minimarket ini. Enggak mau ribut.. tenang aja, di sini enggak ada adegan adu panco kok. Beni cuma mau ngasih tau arti kata 'malu' yang sesungguhnya itu kek apa.
Tapi, ternyata Seno enggak bisa. Indah lagi enggak enak badan, Seno lebih memilih menemani Indah di rumah daripada ikut gabut bareng Beni. Jadi, Parto adalah pilihan keduanya setelah Seno menolaknya. Lah emang tahu bentukan Adit itu kayak apa? Woo ya tahu.. Beni banyak kenalan, tanya info tentang Adit ke si A, si B, dapet deh info tentang Adit. Lagian di desa se ublek itu pesti gampang menemukan manusia minus ukhluk kek Adit ini.
"Ben aku kok haus ini.. tak beli minum dulu ya, kamu nitip apa?" Parto turun dari motornya membuka jaket dan menaruh asal di atas motor.
Parto memasuki minimarket, mengambil minuman dingin di tempatnya berada. Enggak perlu di jelaskan juga kan ada berapa jenis minuman yang ada di lemari pendingin itu? Iya, enggak usah. Kelian semua bisa bayangin sendiri kan?
"Dua puluh lima ribu Mas," ucap kasir itu sambil menatap lekat ke arah Parto yang belum menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan.
"Mas Parto ya?" Parto langsung mendongakan kepala melihat siapa yang memanggil dirinya.
" Iya, hmm bentar... kamu keponakan pak Agus ya?"
__ADS_1
Ralina tersenyum manis saat Parto langsung mengingatnya. Parto juga ikut tersenyum karena enggak menyangka bisa bertemu Ralina di sini.
"Kerja di sini ya Mbak.."
"Jangan Mbak lah manggilnya Mas.."
Parto sedikit menaikan alisnya, Lha mau dipanggil apa cuba,
"Panggil Ralina aja, Mas Parto.. " Seperti tahu apa yang dipikirkan Parto, Ralina kembali bersuara.
"Heh Mas, Mbak.. kalau mau kenalan di tempat lain aja! Aku buru-buru ini..!" Ralina dikagetkan dengan suara salah satu pembeli yang ternyata antri menunggu belanjaannya di total. Parto juga ikut merasa enggak enak karena ditegur pembeli lain.
Parto memberi isyarat kepada Ralina, kalau dia berada di luar minimarket tempatnya bekerja. Dan Ralina tersenyum mengiyakan.
Beni yang melihat kejadian tepe-tepe ala kadarnya dari luar kaca minimarket itu tersenyum, ternyata Parto sekarang sepemes itu (famous).
"Kamu ini mau kenalan sama cewek kok enggak lihat sikon, ya auto disemprot orang hahaha" Beni menerima satu botol minuman kaleng yang katanya bisa mengembalikan ion tubuh itu. Cuba aja itu minuman bisa mengembalikan dia kembali ke sisi kita, pesti makin laris itu ya? Timpuk aja othornya timpuk!
"Aku udah kenal sama dia kok Ben, dia keponakan pak Agus.. manis ya Ben orangnya?" Parto tersenyum sambil meneguk minuman yang baru dia beli.
"Iya manis, kamu naksir?"
__ADS_1
"Enggak.. belum lebih tepatnya hahaha"
Beni ikut tertawa, tapi tawa Beni berhenti saat melihat target operasi menampakan batang hidungnya.