Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Maaf Aku Lancang


__ADS_3

Seno kembali dengan membawa tisu dan handuk kecil. Tapi, saat dia akan menyerahkan benda tadi kepada Shela, dia dibuat terkejut oleh perban dadakan yang terpasang di kaki Parto.


"Lho Shel.. kamu pake baju kamu buat nutup luka Parto?" Tanya Seno yang harusnya dia sendiri udah tahu jawaban dari pertanyaannya.


"Iya." Jawab Shela sekenanya.


"La.. duduk sini, jangan jongkok terus di situ. Maaf ya udah bikin baju kamu rusak gara-gara aku.." Parto menarik tangan Shela. Shela menuruti keinginan Parto yang menyuruh dirinya untuk duduk di samping Parto.


"To, aku tak beresin kayu-kayu di sana itu. Biar enggak kena orang lagi,"


"Dek kamu di sini aja, enggak usah ke sana. Banyak paku, aku enggak mau kamu kena paku juga kayak kakakmu." Tambah Seno sambil menaruh handuk kecil yang tadi dia bawa di lehernya. Udah mirip abang becak ye kan?


"Aku mau mindahin pot-pot itu aja ah mas, mbak Shela maaf aku tinggal sebentar ya mbak." Indah berjalan ke arah Seno yang sekarang melempar senyum untuknya. Ya, begitu lah jika dua orang bucin bertemu selalu ada hal yang membuat mereka ingin bersama.


Shela menatap peluh yang menetes di wajah Parto. Dengan sisa cardigan miliknya tadi, Shela mengelap keringat itu agar tidak mengalir mengenai mata Parto.


Tangan Shela terhenti saat Parto memeganginya.


"Kamu kenapa ceroboh banget? Dulu tanganmu kena beling, sekarang kakimu kena paku. Kamu merasa jadi adik angkatnya master Limbad? Besok mau cuba makan bara api?" Pertanyaan Shela malah membuat Parto mengulas senyum di bibirnya.


"Kamu tahu, dulu tetanggaku ada yang kena paku juga. Sama kayak kamu.. karena enggak cepet-cepet dapat pertolongan kaki orang itu infeksi. Tetanggaku itu akhirnya enggak punya kaki karena musti di amputasi." Dengan muka serius Shela menjelaskan bagaimana tetangganya kehilangan kaki.


"Kamu yang bener La?" Parto yang tadinya merasa Shela hanya bercanda jadi ikut parno eh iya kan istilahnya parno? itu lho rasa takut yang berlebihan.


"Iya bener! Pulang dari rumah sakit itu kaki di bikin sop sama istri tetanggaku itu!" Mata Parto membulat. Bisa-bisanya cewek ini cerita hal di luar nalar seperti itu.


"La.. emang kamu mau bikin sop dari kakiku? Kalau kamu se ngebet itu ya udah,,, potong aja potong! Ambil golok sana La.." Parto menunjukan muka memelas.

__ADS_1


Shela langsung ngakak karena ekspresi yang ditunjukan oleh Parto dinilai sangat lucu.


"Makanya lain kali hati-hati! Paku itu kan pasti udah karatan, bisa tetanus kamu!"


Parto masih menggenggam tangan Shela. Udah jadi hobi baru Parto saat bertemu dengan cewek bergelar nini kunti itu, hal wajib yang musti dia lakukan.


Beni kembali dari perjalanan suci mencari sesuatu yang bisa menyembuhkan luka Parto. Dari kejauhan Beni nampak memarkirkan motor. Beni melihat ada dua kubu yang terpisah. Satu kubu ada di bawah pohon rambutan, dan yang lain ada di samping rumah embah Parto.


Demi apapun, aku pengen Wanda ada di sini. Aku berasa kek orang paling ngenes sejagat enteh saat ini. Semua yang baca curahan hatiku pasti ngakak, seorang Beni cowok paling keren di nopel ini bisa dijadiin kambing congek kek gini.


"Udah mendingan To? Kayaknya kok mending aku pulang aja ini, mau diterusin juga percuma. Kelian asyik 'iya-iya' sama kapel kelian masing-masing." Beni berucap sambil meletakan plastik putih berisi kotak P3K.


Beni duduk tanpa dipersilahkan siapapun. Sepertinya dia mulai kebingungan, antara mau tetap di sana atau pergi aja.


"Kamu dateng-dateng kok sensi amat to Ben, kenapa? Maturnuwun ya udah mau nolong aku, istirahat dulu Ben. Itu mereka berdua ya ngopo malah ribut sendiri di sana." Parto menatap ke arah Indah dan Seno yang asik tertawa cekikikan seperti orang kesurupan.


"To, aku tak pulang aja ya?! Udah kelar kan ini? Besok tinggal minta tukang mu buat ngerjain ini semua." Beni menatap ke arah Parto. Yang sesekali meringis, mungkin luka yang paku itu timbulkan cukup dalam sampai Parto aja enggak bisa menutupi ekspresi kesakitan yang dia rasakan.


Shela enggak menjawab ucapan Beni, hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara tapi, malah menatap ke arah Parto. Sorot matanya seolah bertanya 'kowe rapopo?" (kamu enggak apa-apa?)


"Iya Ben. Pokonya maturnuwun banget yo! Kamu hati-hati."


Saat melihat Beni meninggalkan lokasi, Seno dan Indah juga latah pamit pulang. Indah beralasan ingin mandi, badannya gerah banget karena memang cuaca lagi panas-panasnya. Sedang Seno, dia bagian ngikut Indah aja! Hah? Apa? Ngikut mandi? Enggak maksudnya ikut ninggalin lokasi rumah emahnya Parto lah.


Tinggal Parto dan Shela di sana. Di bawah pohon rambutan mereka berteduh dari teriknya sinar matahari siang ini.


"Kamu mau pulang juga La?" Tanya Parto memecah kebisuan.

__ADS_1


"Nanti aja. Kenapa? Kamu mau aku pulang aja?"


Shela mengerucutkan bibirnya. Membuat Parto gemas. Hal yang jarang Shela lakuin.


"Kamu kalau kayak gitu kok imut banget La,"


Parto menarik Shela makin merapat ke arahnya. Parto merasakan detak jantungnya seperti orang yang lari maraton. Sangat cepat. Dipandangnya gadis yang berhasil bertahta di hati dan pikirannya itu. Begitu cantik. Tak ada yang memungkiri kecantikan gadis dua puluh satu tahun itu.


"La... aku sayang kamu," Ucap Parto berbisik di telinga Shela.


Shela diam. Rasanya hal ini pernah terjadi, pikir Shela.


Digerakan tangan Parto untuk menyentuh pipi kanan Shela. Mengelusnya lembut. Hal yang belum pernah Parto lakukan, dia mencium kening Shela.


"Maaf aku lancang..." Ucap Parto sambil masih memegang pipi Shela yang masih diam.


Mata Parto mulai bergerak melihat ke arah bibir tipis, kecil dan selalu membuat Parto gemas saat berbicara.


Mata Shela terpejam merasakan sentuhan tangan Parto beralih ke tengkuknya.


...----------------...


Eaaaaaa digantung lagi setelah dua abad 🤣


Ini gimana ceritanya wahai othor yang kekurangan kewarasa?????


🤣🤣🤣 Ya ceritanya to be continue gaess...

__ADS_1


Tebak apa yang bakal Shela dan Parto lakukan?


Enggak mau nebak? enggak apa-apa sih 🤣🤣🚶🚶🚶


__ADS_2