
"Kamu kenapa berpikir aku akan menerima lamaran mu? Aku tanya sama kamu, apa hubunganmu denganku? Pacar? teman? sahabat? bukan! Kamu hanya goresan masa lalu, kamu catat itu! Kamu hanya mantan, dan mantan harus dibuang ke tempat yang seharusnya! Bukan disimpan untuk dikenang, bukan diingat karena akan membuat luka makin menganga! Hiduplah dengan duniamu sendiri, jangan ganggu aku. Aku udah melupakan mu sejak lama, bahkan jauh sebelum kamu kembali!"
Lulu menarik tangannya dari genggaman Ardiaz.
"Jadi begitu.." Ardiaz memandang mata sendu itu.
"Kamu nolak aku?" Ucapnya kembali.
"Iya! Harusnya kamu paham, mau kamu kembali atau enggak, bagiku kamu udah enggak berarti lagi!"
Lulu mengatakan dengan penuh ketegasan. Dia enggak mau lelaki di sampingnya ini berbuat seenaknya terus.
"Kamu yakin?" Tanya Ardiaz.
"Iya! Udah sekarang sana pulang!"
"Tapi aku enggak mau, aku udah bilang tadi.. aku enggak menerima penolakan. Jadi mau kamu bersedia atau enggak aku akan tetap akan jadiin kamu istriku! Kamu ngomong panjang lebar kayak tadi malah bikin aku makin yakin,.. yakin kalau kamu masih sayang sama aku, menunggu aku kembali, menggenggam tanganmu, dan menjadikan kamu milikku seutuhnya. Bukankah seperti itu Ameena Merluna??"
Lulu kesal. Meski dia sudah bicara panjang lebar kali tinggi enggak menggoyahkan niat Ardiaz sedikitpun untuk melanjutkan hubungan mereka. Kebisuan Lulu membuat Ardiaz tersenyum senang,
"Jadilah gadis penurut Lu, karena meski kamu melawan pun aku tahu bagaimana cara menjinakanmu."
"Aku yakin saat ini jantungmu sedang berdetak sangat kencang, melihat diriku di sini membuat hati kecilmu bahagia, tanganmu yang dari tadi terus kamu kepalkan seperti itu pasti sedang menahan diri untuk enggak memelukku dalam dekapanmu. Kamu manis sekali," Imbuh Ardiaz.
__ADS_1
"Terserah kamu aja mau mikir kayak apa, sepertinya memang saraf di otakmu udah pada putus. Aku heran bagaimana orang sepertimu bisa jadi dokter,"
Memang tidak mudah untuk Lulu bisa menerima Ardiaz kembali di kehidupannya, ada banyak hal yang dia khawatirkan. Salah satunya adalah tentang orang tua Ardiaz, dulu mereka dengan terang-terangan menolak hubungannya dengan Ardiaz. Alasannya karena Lulu dirasa tidak cocok mendampingi putra mereka.
Hal lain, dia merasa belum yakin dengan Ardiaz
dan semua rasa serta janji yang Ardiaz bualkan untuknya. Bualan? iya, setidaknya itulah yang Lulu pikirkan.
Meski tempo hari bibir mereka pernah bersilaturahmi tapi, itu bukan tolak ukur untuk bisa meyakinkan hati Lulu. Lha mau gimana, orang Ardiaz mode maksa kok.
"Aku kok betah di sini, nginep boleh kan ya?" Makin ngawur ternyata pak dokter satu ini.
"Boleh, tidur di atas pohon kelapa aja sana kalau mau nginep di sini!" Jawab Lulu ketus. Lulu menggeser duduknya menjauh dari Ardiaz, dia menjaga jarak aman saja. Takut setan di pikiran lelaki berkacamata itu kembali beraksi dengan kenekatannya.
"Kenapa kamu beda banget sama Lulu yang dulu, dulu Merluna ku adalah gadis pemalu dan penurut, sekarang kok judes banget.. apa kamu enggak kangen saat-saat kita bersama? Kita udah lama enggak ketemu lho Lu,"
"Lu.. kok tiba-tiba dadaku sakit ya.. aduuuh, Lu.. tolong.." Ardiaz memegang dada kirinya. Meringis seperti menahan sakit.
Lulu yang tadinya masih malas melihat ke arah lelaki itu dan membiarkan saja apapun tindakan unfaedah yang Ardiaz lakukan menjadi sedikit khawatir.
"Kamu kenapa?" Tanya Lulu mendekati lelaki yang sekarang memejamkan mata dan meremas dadanya, dada Ardiaz sendiri gaess. Lulu ketakutan. Dia takut Ardiaz kena serangan jantung..
"Hei.. Ardiaz! Kamu jangan bercanda,"
__ADS_1
Lulu mengambilkan air di gelas dan membantu Ardiaz untuk meminumnya. Tapi, Ardiaz malah memegang tangan Lulu, membuka matanya yang tadi terus terpejam.
"Aku sayang kamu! Boleh ngasih minumnya lewat bibir kamu aja enggak?" Senyum itu membuat Lulu menyiramkan air di gelas yang dia pegang ke muka Ardiaz.
"Minggat sana!! Aku benci kamu!! Jangan pernah bercanda tentang penyakit jantung, demi apapun aku benci kamu!! Aku benci kamu Ardiaz!"
Lulu berlari ke arah kamarnya, tapi gerakannya terhenti oleh tarikan tangan Ardiaz yang cepat. Karena tarikan yang kuat membuat Lulu jatuh di pelukan Ardiaz.
"Maaf.. aku minta maaf.."
Pelukan itu dia eratkan, merasa bersalah dan terlalu berlebihan saat bercanda. Tapi, Ardiaz hanya ingin mendapatkan perhatian Lulu, dan mungkin cara yang dia gunakan terlalu over jadinya bikin Lulu malah ilfeel.
"Kamu enggak mikir umur apa? Jangan bercanda seperti itu!! Lepasin!" Semakin berontak, maka semakin erat pula pelukan itu mendekap tubuh Lulu.
"Ehem.." deheman seseorang mengagetkan LuLu apalagi Ardiaz. jarak mereka langsung terpisah.
"Ibu.." Lulu berlari menghampiri ibunya yang datang dengan belanjaan seabrek. Ardiaz pun melakukan hal yang sama, dia meraih tangan calon mertuanya itu dan salim sebagai tanda hormatnya.
"Mas'e niki sinten njih?" (Masnya ini siapa ya?)
Kok Ibu Lulu dan Beni enggak kenal sama Ardiaz, padahal kan dulu Lulu udah empat tahun pacaran dengan Ardiaz. Jadi meski mereka pacaran selama itu, Ardiaz belum pernah sekalipun berkunjung ke rumah Lulu. Lulu selalu melarang, dia minder dengan status ekonomi yang jauh berbeda antara keduanya. Dan demi menunjukan keseriusan Ardiaz, sebelum dia pergi melanjutkan pendidikannya untuk mendapatkan gelar dokter, dia mengajak Lulu untuk diperkenalkan kepada kedua orang tuanya. Tapi, siapa sangka niatnya dulu untuk membuat Lulu dan keluarganya dekat, justru membawa hubungan mereka ke jurang perpisahan.
Lulu pergi tanpa mau menceritakan apa yang membuatnya sampai ingin mengakhiri kisah mereka. Dia juga enggan mendengarkan apapun perkataan Ardiaz waktu itu. Dan akhirnya, mereka harus merelakan hubungan yang telah lama mereka jalin harus luluh lantak karena kesalahpahaman.
__ADS_1
"Bu.. Kulo Ardiaz, calon garwanipun dek Merluna." (Bu.. Saya Ardiaz, calon suaminya dek Merluna.)
Ibu Lulu melongo, beliau langsung menjatuhkan tas belanjaan yang masih dipegang. Tak jauh beda dengan Lulu, dia juga kaget dengan keberanian atau lebih tepat disebut kekonyolan Ardiaz.