Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Terpuruk


__ADS_3

Seperti lirik lagu..


Semakin ku menyayangimu,


semakin ku harus


melepas mu dari hidupku


Tak ingin lukai hatimu


lebih dari ini, kita tak mungkin terus bersama..


Itulah yang dirasakan Seno saat ini. Entah keputusannya ini bener atau salah, yang dia tahu dia enggak akan menyakiti hati ibunya dengan terus mempertahankan Indah di sisinya. Dia juga berharap Indah bisa menerima semua ini dengan hati lapang.


Malam mulai menyelimuti desa Wekaweka, malam Minggu kelabu, putus dengan Indah membuat Seno abai akan kesehatannya. Dari kemarin, tidak ada makanan atau minuman yang lewat di tenggorokannya.


Mengingat tangis Indah tadi pagi membuat Seno enggak minat melakukan apapun. Dia ada di teras rumahnya, menatap kosong pada halaman rumahnya yang sengaja tidak dinyalakan lampunya. Gelap, hanya bunyi jangkrik dan beberapa kunang-kunang yang sesekali terbang menunjukan keindahan sinarnya.


"Indah..." Panggil Seno, meski dia tahu gadis yang dia sebut namanya enggak bisa mendengar panggilannya dia tetap menyuarakan nama pemilik hatinya itu.


Ponselnya berbunyi, dia malas untuk sekedar melihat siapa yang menghubunginya. Beberapa kali ponselnya berdering, dia tetap membiarkan panggilan yang masuk ke nomernya. Sampai akhirnya ponselnya mati karena kehabisan daya.


Sengaja hujan-hujanan kemarin malam membuat dirinya demam, nyeri di sekujur tubuhnya. Tapi, hal itu tidak dia indahkan. Bahkan lebih menyiksa diri dengan enggak memberi nutrisi pada tubuhnya. Matanya terpejam, pikirannya melayang ke beberapa bulan yang lalu saat dia menjanjikan akan melamar Indah dan menjadikan Indah miliknya seutuhnya. Tapi, sekarang kenangan itu terasa menyakitkan.. Janji yang tidak bisa dia tepati, membuat dia merasa jadi seorang pecundang sejati.


Seno memegang dadanya, apa sesakit ini juga yang kamu rasakan Ndah.. Kalau iya, aku ingin mengambil semua rasa sakit ini untukku sendiri.. Tanpa membebani mu dengan rasa yang tertinggal. Kalau ada kata lain yang lebih tinggi dari kata maaf, akan aku ucapkan jutaan kali kepada mu..


"Ndah.. Maaf..." Seno berdiri dengan sempoyongan. Mengambil kunci motor yang masih melekat di tempatnya, saat dia akan masuk rumah.. terdengar suara motor Beni yang semakin mendekat.


"Sen, kamu di rumah kan? Ini rumah kenapa gelap banget? Kamu belum beli token listrik ya? Makanya listriknya dimatiin sama PLTU!" Beni mendekati Seno yang kembali duduk di teras.

__ADS_1


"PLN!" Seru Seru membenarkan ucapan Beni.


"Eh iya.. hahaha aku lupa Sen, Oiya Sen.. kamu udah makan?" Beni membawakan Seno nasi goreng dan martabak yang dia beli sebelum berkunjung ke rumah Seno.


"Udah." Seno memegang kepalanya. Rasanya kepalanya makin berputar aja sekarang ini.


"Sen, aku nyalain lampunya ya.. Gelap banget gini, aku takut ditemenin makan kuntilanak lho ,"


Seno enggak menjawab. Beni beranjak ke dalam rumah Seno untuk menghidupkan semua lampu yang ada di sana. Membuat rumah itu terang, nampak lah Seno yang saat ini duduk memejamkan matanya.


"Sen, kamu kenapa?" Tanya Beni khawatir.


"Apa?" Masih dengan memejamkan mata.


Beni menyentuh tangan Seno untuk memastikan temannya itu baik-baik aja, Beni agak terkejut karena suhu badan Seno yang di atas rata-rata!


"Sen.. aku juga pernah di posisimu, patah hati, remuk semua rasa jeroan.. jangankan buat makan, minum aja kalau enggak aku paksa enggak bakal ketelen.. Aku inget, masih punya ibu dan mbak Lulu yang butuh aku! Ada kamu dan Parto yang selalu nguatin aku. Kamu harus bangkit Sen.. Apa gunanya kamu bubaran sama Indah kalau hanya buat kamu makin gila kayak gini? Kamu nyiksa dirimu sendiri tahu enggak! Apa ibumu juga seneng kalau kamu terpuruk kayak gini?" Beni berusaha membuat Seno sadar jika menyiksa diri bukan solusi! Patah hati enggak akan sembuh dengan membuat lambung menjerit atau tenggorokan kering bagai gurun Sahara!


"Aku ngantuk Ben.." Seno seperti bodoh amat dengan ucapan Beni.


"Tidur aja! Tapi makan dulu!" Perintah Beni.


"Iya nanti," Seno memejamkan mata kembali, masih di teras. Membuat Beni kesal sendiri karena temannya itu jadi keras kepala.


"Mau tidur di sini?" Beni bertanya, tahu kalau sebenarnya Seno malas bicara saat ini.


Seno mencoba bangkit dari duduknya, berjalan menuju dalam rumah meski langkahnya terasa berat. Matanya terasa panas saat terbuka, tapi dia enggak ingin tumbang di depan Beni. Setelah tiba di kursi kayu panjang yang ada di ruang tamu, dia langsung merebahkan tubuhnya di sana.. badannya menggigil.


Beni ikut masuk ke dalam rumah.. melihat Seno yang seperti sekarang ini, seperti bukan Seno yang dia kenal. Miris!

__ADS_1


"Kamu sakit Sen, minum obat dulu! Cowok kok lemah!" Beni menghubungi nomer seseorang. Saat sambungan telepon terhubung, Beni to do point menyampaikan apa maksudnya menelepon orang ini.


"Kamu bisa ke sini enggak Ndah? Seno mau bunuh diri! Aku jemput kamu aja! Oke!"


Mendengar Beni menyebut nama Indah, Seno langsung membuka matanya.


"Ben.. Enggak usah macem-macem lah, bunuh diri apa? Enggak usah ngarang.. Ini udah malam Ben, kamu nyuruh Indah ke sini malah bikin aku sakit tahu enggak.." Seno berjalan terhuyung, mengambil ponselnya yang mati karena kehabisan daya!


"Si_alan!" Maki Seno, saat tahu ponselnya enggak bisa nyala.


"Pinjem hpmu!" Seno menghampiri Beni yang duduk santai sambil makan nasi goreng yang tadi dia bawa.


"Makan dulu nih!" Perintah Beni.


"Hp mu mana?" Seno sedikit membentak.


"Kenapa?" Beni cuek aja.


"Ini udah malam Ben.. Jangan minta Indah ke sini.. Kesian dia," Seno memelankan suaranya. Rasanya tenaganya udah abis saat ini.


"Aku yang nanti jemput dia kok, aku juga yang nanti anterin dia nyampe rumahnya! Aku minta dia ke sini biar dia lihat, selemah apa cowok yang dia sayangi!"


"Oke lah aku jemput Indah dulu, kamu mau ngapain aja di sini silahkan!" Beni membuang bungkus nasi goreng yang sudah kosong tanpa sisa!


"Kalau kamu masih bisa mikir waras, makan dulu! Atau kamu mau nunjukin selemah apa kamu sekarang ini? Itu terserah kamu sendiri Sen.."


Seno berusaha menahan Beni, tapi Beni lebih dulu membuka pintu rumah Seno.


Maaf brother.. aku bohong soal mau jemput Indah. Aku enggak ada cara lain biar kamu mau makan dan ngisi perut mu!

__ADS_1


__ADS_2