Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Haruskah Berakhir?


__ADS_3

Sayang, aku ingin berbicara kepadamu


Tentang apa yang tengah aku rasakan


Ada apa? Ada apa? Katakanlah semuanya


Ku kan dengarkan, duhai cintaku


Bila nanti orang tuamu tak meridhoi dengan


Apa yang kurasakan padamu


Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya


Begitu pun orang tuaku


Kau takkan tinggalkanku


Takkan pernah, sayangku


Janjimu, janjiku untukmu


Takkan ada yang pisahkan kita


Sekalipun kau telah tiada


Akan kupastikan


Ku kan memeluk, menciummu di surga


Jangan kau pergi tinggalkan aku


Bawa aku ke mana kau mau


Janjiku padamu

__ADS_1


Jiwa dan ragaku, mati pun ku mau


"Matiin lagunya!" Seno memandang kesal dengan musik yang terputar otomatis di ponsel Beni. Beni yang tadi mengantuk karena kurang tidur jadi melebarkan lagi matanya karena protes dari Seno.


"Apa?" Tanya Beni enggak ngerti.


"Itu lagunya matiin! Nyindir banget!" Orang kok sensian. Lagu salah apa cuba dikata nyindir dia?


"Iya.. iya.. Orang kalau frustasi kok apa aja bisa dimusuhi ya?" Beni tersenyum sambil mematikan musik mp3 nya yang masih menyala.


"Jangan mancing lah Ben, aku lagi malas debat." Seno berganti pakaian setelah mandi.


"Aku enggak mandi lah. Males!" Seru Beni.


"Kamu mandi enggak mandi juga wujudmu kek gitu-gitu aja." Seno memakai kaos hitam di depan Beni.


"Kalau kamu yang nyolot ke aku, aku biasa aja lho Sen.. Kamu dulu enggak kayak gini. Bener deh, sebelum pacaran sama Indah emosimu stabil, meski diledekin kek apa juga paling banter kamu bilang njir atau bang_ke, saiki sitik-sitik nesu! (sekarang dikit-dikit marah!). Udah kayak cewek lagi pms aja!" Beni melewati Seno yang masih berdiri, dia ingin mandi. Biar kegantengannya terpampang nyata terpancar seantero desa Wekaweka.


Seno memikirkan lagi perkataan temannya, apa iya dia sekarang jadi moodien kayak cewek lagi pms?


"Assalamualaikum," Parto melepas helmnya. Mungkin dia ngebut nyampe bisa cepet sampai rumah Seno.


"Enggak.. ke rumah ibumu sekarang aja yok, langitnya mendung banget, takutnya malah keburu hujan." Jawab Parto, padahal dia gasspol motornya agar cepet nyampe rumah Seno.


"Iya paling nanti turun hujan, orang Beni biasa enggak mandi ini mau mandi," Lagi-lagi Beni yang jadi sasaran.


"Kenapa? Aku mandi salah enggak mandi makin salah.. Aslinya tanpa mandipun aku udah ganteng dari benihnya," Beni yang selesai melakukan mandi kilatnya langsung keluar dari kamar mandi tanpa baju.


"Sen, pinjem bajumu. Bajuku jatuh di bak mandimu tadi, belum aku ambil.. Nanti ambilin ya, sekalian cuciin hahaha" Beni melenggang menuju kamar Seno menuju lemari dan mengambil sehelai baju.


"Ora waras cah kae!" (Enggak waras bocah itu!) Seno memakai jaket, mengambil helm dan siap meluncur.


Dengan menggunakan motor masing-masing, mereka bertiga menuju rumah orang tua Seno. Tak hanya Seno yang debaran jantungnya makin kencang, Parto juga demikian. Harus menyiapkan beberapa pack tisu dan pundaknya untuk Indah jika perpisahan adalah jalan terakhir yang menjadi akhir kisah Seno dan adiknya.


"Ngapain ke sini?" Sambutan tidak ramah langsung keluar dari mulut ibunya Seno yang sedang mengambil jemuran baju di depan rumah.

__ADS_1


"Assalamualaikum buk..." Seno memberi salam. Mendekati ibunya yang masih malas melihat muka anaknya sendiri.


"Waalaikumsalam." Ketus sekali mamaknya Seno ini.


Seno mengambil jemuran yang ada di tangan ibunya. Membantu beliau memasukan jemuran ke dalam rumah.


"To, Ben, masuk.. mau hujan ini jangan di luar." Ibu Seno memanggil kedua pemuda yang sudah beliau kenal sangat lama sebagai teman akrab putranya.


"Buk... Aku mau bicara sama ibu," Langkah perempuan paruh baya ini terhenti saat akan menuju dapur untuk membuatkan kopi guna disuguhkan kepada teman putranya.


"Ngomong ya ngomong aja, udah gede ini, udah pinter bantah! Dulu masih kecil ndak bisa ngomong aku yang ngajari kamu ngomong, sekarang udah pinter ngomong sendiri.. ucapan ibumu ini ndak kamu gubris!" Mulai deh emosinya.


"Ibu tahu.. aku sayang sama Indah buk, aku enggak bisa kalau harus pisah sama dia." Seno langsung ke inti pembicaraan.


"Iya, cuma Indah yang kamu pikirin, cuma dia yang kamu sayang! Lalu aku ini apa Seno? Wanita tua ini hanya punya satu anak, dan anaknya pun ndak mikirin perasaan wanita tua ini! Silahkan kamu berbuat semaumu, anggap saja ibumu udah ndak ada!" Air mata itu mengalir. Ibu Seno sedih, dia merasa anaknya tidak memikirkan perasaannya dan bertindak sesuka hati menuruti egonya.


"Enggak gitu buk.. Ibu tetep orang tuaku, orang tua yang aku sayangi, lebih dari apapun.. Bahkan jika ibu minta nyawaku juga akan aku berikan, buk.. aku harus gimana.. ini terlalu sulit buatku," Seno tak kuasa menahan kesedihannya, Parto dan Beni ikut merasakan atmosfer mendung di hati Seno.


"Apa pernah aku minta nyawamu hah? Kalau ngomong dipikir Seno! Kamu anakku satu-satunya, orang tua mana yang ndak seneng punya anak yang berbakti dan nurut sama orang tua? Aku cuma mau kamu dengerin aku Seno, nurut sama aku! Perempuan bukan Indah saja, apa kamu mau aku atau bapakmu mati kalau kamu lanjutin hubunganmu sama Indah?"


Guyuran hujan di luar sana tak bisa membuat adem hati ibu Seno.


"Bulek, tanggal lahir atau weton seseorang kan bukan kita yang nentuin, semua itu udah digariskan SangPencipta. Seno dan Indah juga enggak tahu jika penanggalan mereka di hitungan Jawa bisa mempengaruhi hubungan mereka. Membuat mereka sulit melangkah ke hubungan yang lebih serius, sebagai orang tua yang lebih tahu tentang hitungan Jawa apa enggak ada solusi untuk anak bulek ini?" Parto mencoba mencari solusi dengan bicara dengan mamaknya Seno.


"Ndak ada! Kalau mereka lanjut nikah hanya akan menyakiti semua orang! Membuat orang tuanya mati perlahan karena mikirin dia!" Huuuft ini orang pasti abis makan sambel petir. Ngomongnya dar der banget!


"To.. Bulek ndak benci Indah, sama sekali ndak ada rasa benci di hati bulek buat adikmu! Bulek anggap adikmu itu udah seperti anak bulek sendiri, sejak masih sekolah, Indah sering main ke sini.. bulek juga pernah berharap Indah bisa jadi mantu bulek, jadi istri Seno. Tapi, mbahnya Seno, bilang neptu(hari lahir) mereka itu ndak jodoh.. Mau dipaksa nikah pasti akan sering cekcok! Akan ada kematian di antara salah satu keluarga, musibah yang terus-menerus, sampai nanti terjadi perpisahan.."


"To kamu baru saja menikah, pasti juga tahu.. saat mencari tanggal pernikahanmu harus melewati banyak proses, salah satunya hitungan Jawa yang menentukan lanjut tidaknya hubungan kelian, kamu tahu itu kan?" Lanjut ibu Seno menggebu-gebu.


Angel gaess angel.. Beni sampai geleng kepala dan memegang pelipisnya. Sedangkan Parto kesulitan menelan salivanya, dia juga mau ngomong apa kalau kayak gini.


"Ibu mau aku nikah dengan siapa?" Ucapan Seno membuat Parto dan Beni terkejut. Apa Seno akan manut (nurut) ibunya. Berpisah dengan Indah?


Seno berjalan mendekati ibunya.

__ADS_1


"Buk.. beri waktu buatku berpikir, aku pulang dulu buk.. Ibu jaga kesehatan ya, sampaikan salamku sama bapak," Seno mencium tangan ibunya. Ibu hanya menangis. Melihat anaknya yang tidak mau berhenti berjalan dibawah guyuran hujan.


"Sen.. Seno..!!" Panggilan Beni dan Parto enggak digagas Seno. Motornya melesat jauh ditelan pekatnya malam dan guyuran hujan.


__ADS_2