
Setelah menyeberang jalan, Parto segera berlari menghampiri Shela.
"Kamu dari tadi di sini?" Tanya Parto yang dijawab lirikan mata elang oleh Shela.
"Dia Ralina temenku, kamu kenal kan? Keponakan pak Agus. Aku enggak ada apa-apa sama dia." Imbuhnya mencoba membuat Shela enggak manyun lagi.
"Kamu jangan paksa aku nyium kamu di pinggir jalan kayak gini, bibirmu itu udah jadi candu buatku." Parto tetep aja ngecipris.
"To!"
"Dalem.."
"Denger ini baik-baik.. aku paling enggak suka perselingkuhan, baik itu langsung atau enggak langsung. Di dunia ini enggak ada yang namanya teman akrab antara perempuan dan laki-laki. Diantara salah satu pihak pasti ada yang memendam perasaan. Dan itu pasti!" Shela menatap ke seberang jalan.
"Dan lagi, aku kasih tahu dulu sama kamu. Aku itu seorang yang pencemburu, apa yang udah jadi milikku, enggak bakal aku mau berbagi dengan orang lain. Apapun itu! Termasuk kamu! Jangan pernah lagi tersenyum seperti tadi kepada perempuan lain!! Kamu paham??" Menunjuk dada kiri Parto dengan jarinya.
"Aaach.." Parto seperti kesakitan.
"Apa? Kenapa?" Shela mengamati Parto, yang memegang kembali dadanya yang dia sentuh tadi.
"Perasaan yang dulu sakit di sebelah kanan." Shela mengerutkan keningnya.
"Iya La.. yang kanan emang sakit, tapi yang kiri lebih nyut-nyutan karena kamu bilang aku milikmu." Parto tersenyum sumringah.
"Dasar gila! Udah pulang sana!" Perintah Shela.
"La.. kamu juga harus tahu.. segila apapun aku, hanya satu cewek yang bisa membuat aku segila ini! Memikirkan tentang dia sampai enggak ingat waktu. Siang, malam, hanya dia yang membuat aku makin mendambanya. Karena dia aku bisa di titik ini. Membuktikan diri agar pantas saat menjadi pendampingnya. Demi dia aku kerja pontang-panting sampai enggak mikir lambung udah diisi atau belum, tenggorokan udah dilewati air apa belum.. semua itu hanya demi satu orang. Dan itu kamu.. Sabhah Shanum Roshela." Parto menggenggam jemari tangan Shela.
"Aku bukan tipe laki-laki 'satu untuk semua'. Buatku cukup kamu, enggak pernah terlintas di pikiranku untuk menggeser tempatmu dari hatiku. Kita semua punya kekurangan La, dan aku harap dengan hadirnya kamu di hidupku bisa membuat kekuranganku menjadi kekuatan untukku. Kita itu aku dan kamu, bukan orang lain." Parto menangkup kedua pipi gadisnya. Membuat atmosfer di sekeliling mereka makin panas karena pancaran cinta yang mereka luapkan. Emang bisa gitu? Anggap aja bisa!
"Mendapatkan kamu adalah anugerah buatku La.. Aku dulu pesimis apakah rasaku bisa terbalaskan, tapi Alhamdulillah-"
__ADS_1
"Kamu mau drama Romeo dan Juliet di pinggir jalan?" Perkataan Parto yang belum selesai dipotong oleh Shela.
"La.." Panggil Parto, Shela hanya menaikan alisnya.
'Opo kurang leh ku ngerteni karepmu
Aku yo wes ora ngelirik liyane
Nek kangen ngomong kangen
Ra sah tukaran ae
Mbok dieman-eman hubungane
Uwong sing tak tresnani
Tak gawe sandaran ati
Jajal ra sah percoyo
Nek terimo kabar ko njobo
Aku kerjo, nguripimu
Nggo makmurne atimu'
Cuilan lagu itu membuat Shela langsung tersenyum. Ya, Parto dengan suara pas-pasan ala kadarnya menyanyi untuknya di pinggir jalan.
"Tadi harusnya kamu bawa gitar." Belum hilang senyum itu di wajah manis Shela.
"Aku mok kon ngamen?" (Aku disuruh ngamen?) Parto ikut senang karena bisa meluluhkan hati Shela yang sempat mangkel (gedeg) karena rasa cemburunya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, semua kejadian di sisi jalan tadi diperhatikan oleh sepasang mata. Ralina masih ada di depan toko baju, setelah membayar es dawet, dan menyaksikan sendiri betapa Parto sangat menyayangi Shela, dia langsung pergi meninggalkan lokasi itu.
Parto.. bukan lelaki tampan seperti oppa dari negeri ginseng, tapi dia punya daya tarik tersendiri yang membuat kaum hawa melihat ke arahnya. Sifatnya ramah, cenderung mengalah, selalu menghindari perdebatan yang memicu pertengkaran, bukan hanya itu.. dia juga rajin. Untuk lelaki dewasa seumurannya, dia tetap membantu bapaknya mencari rumput alias ngarit guna memenuhi pakan ternak kepunyaan bapaknya. Meski dia sendiri sudah disibukan oleh pekerjaannya di bengkel.
"Eh.. La, aku lupa belum bayar es dawet tadi. Bentar ya, bentar.. jangan kemana-mana dulu, atau kamu mau ke sana? Ngadem dulu?" Parto bertanya siapa tahu setelah marah-marah Shela butuh pendinginan agar lebih fresh.
"Emoh! (Enggak mau) Aku mau pulang." Shela melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
"Masih ngambek?" Tanya Parto memastikan.
Shela tak menjawab. Hanya menggeleng. Huuuft masih ngambek ternyata. Pikir Parto.
"Jangan ngambek terus, aku bingung balikin moodmu biar seneng lagi dengan cara apa. Jujur aja La.. Pacaran sama kamu membuatku terlatih untuk lebih sabar, lebih peka, dan menghargai arti hubungan kita. Aku sayang kamu tanpa syarat." Parto memakaikan topinya untuk Shela. Membuat gadis itu makin ngeblush.
"Balikin moodku? Kamu mau lakuin apa emang?" Shela bertanya dengan tersenyum.
"Aku enggak ngerti.. Aku juga bingung harus gimana? Maaf kalau aku bikin kamu kesel karena lihat aku ngobrol sama Ralina." Hmm polos sekali kamu To.
"Biasanya kamu pinter bikin aku maafin kamu, kenapa sekarang bingung?"
Parto memikirkan sesuatu. Apa yang Shela maksud? Otaknya enggak konek sama sekali.
"Jangan ngasih kode yang sulit aku pecahin La.. aku bukan Albert Einstein yang punya IQ dewa." Tiba-tiba pikirannya merantau jauh menuju kejadian malam sebelum dia kecelakaan, tepat di rumah Shela waktu itu.
"Jangan nackal La, ini di pinggir jalan.. masih siang juga. Tunggu sepuluh hari lagi, aku bakal bikin moodmu up nyampe ke awang-awang!"
Shela tertawa mendengar penuturan Parto. Sebelum mereka berpisah dengan arah tujuan rumah masing-masing, Parto menyempatkan diri mencium kening kekasihnya itu.
"Eaaaaa yang disuruh pulang bawa belanjaan malah pacaran di pinggir jalan! Jangan bikin aku iri mas! Dosa kamu!" Indah tiba-tiba muncul dari arah belakang. Parto enggak tahu jika adik dan emaknya udah datang lagi dengan seabrek belanjaan.
Parto yang kaget karena kemunculan kedua orang yang juga sangat berharga di hidupnya itu sampai bingung mau ngomong apa. Dia hanya tersenyum sambil mengusap tengkuknya.
__ADS_1