
Parto, Seno dan Beni saat ini berada di empang belakang rumah Seno. Ketiganya saling berbagi cerita tentang kegiatan mereka akhir-akhir ini. Parto yang mulai merintis usahanya mendirikan bengkel di depan rumah barunya dibuat keteteran karena ternyata baru beberapa minggu di buka aja udah membawa banyak pelanggan. Ada saja yang mendatangi bengkel kecil miliknya untuk sekedar ganti oli atau mencuci motor di sana.
Beni, yang disibukan dengan acara persiapan pernikahan kakaknya yang hampir mendekati hari H membuat dirinya semakin tidak ada waktu untuk sekedar leyeh-leyeh bareng kedua kawannya. Baru sekarang dia bisa melipir dari kesibukannya.
Kalau Seno, biasa lah kesibukan dia tuh ya itu-itu aja. Flat banget dia. Bangun tidur, berangkat kerja, sibuk sama Indah, kadang nyatroni Indah ke rumahnya, saat libur dia juga tak sungkan membantu Parto di bengkelnya. Bantu doa aja maksudnya. Dia ke bengkel Parto juga paling numpang neduh sambil nyendol dawet. Sungguh calon adik ipar lucknut pemirsah. Saat Parto sibuk nyuciin motor pelanggan, dia mandorin aja di samping Parto, manusia jenis apa Seno ini sebenarnya. Entahlah.. tanyakan aja sendiri. Tapi, yang pasti rakyat mengsad tidak ada yang suka sama karakter Seno, lho lho kenapa? Ya tak tahu, yang nulis juga bingung gaess.. padahal Seno ini kan alim ya (katanya), pemes juga (mungkin hanya Meisya yang keblinger dengan pesonanya), dari tampang juga enggak jelek kan ya? (jawab iya gitu!). Tapi, sungguh di luar dugaan... Seno banyak haters di mengsad.
Apa itu mengsad? Nah ini cerita kok malah keluar jalur gara-gara si Seno tadi. Udah lupakan, tanyanya di kolom komentar aja ya hahaha.
"Enggak nyangka aku Ben, mbak Lulu bakal ka_win sama pak dokter itu. Ajib banget lah.. kamu bakal punya ipar dokter!" Seno menopang dagunya sambil ngemil kuaci.
"Nikah Sen Nikah.. itu mulut kok enggak terdidik sekali." Parto protes.
"Sama aja lah To, apa bedanya.. toh di ijab kabul kata ka_win juga diucapkan..! Aku sih kapan kayak gitu ya To..?"
"Kapan apanya?" Sekarang giliran Beni yang melirik malas ke arah Seno.
"Kapan nyusul mbak Lulu gitu, kelian ini kenapa sih.. kayak males banget gini? Yang semangat napa?!"
Beni melihat ke arah Parto,
__ADS_1
"To.. kamu punya niatan bales si Jamal kribo itu enggak? Aku kok gemes pengen patahin tangannya!"
Yah.. Seno terkacangi. Kesian kamu Sen! Hahaha.
"Saat ini enggak usah dulu, mbak Lulu lebih penting. Kalau kita hajar si keriting itu sekarang yang ada itu orang bakal bawa massa ke tempatmu. Kamu tahu sendiri dia anak lurah di desanya, mendele lah dia (gede kepala lah dia). Nanti aja, nunggu mbak Lulu nikah ma pak dokter." Saran Parto ada benarnya.
Seno manggut-manggut aja, dia kok lama-lama kayak figuran ya gaess.
"Ben.. kakak iparmu itu punya klinik sendiri ya?" Tanya Seno.
"Enggak tahu, aku enggak tanya juga."
"Yaah nanti aku enggak bisa minta mbak Lulu bikinin kopi lagi buat ku dong kalau aku main ke rumahmu Ben."
"Ini kok bosen banget ya, tahu cuma kayak gini doang, mending aku ke tempat Shela aja tadi. Rugi aku ngumpul bareng kelian," Pamer.. mentang-mentang udah punya pacar.
"Parto sekarang gegayaan ya Sen, punya dek Lala jadi males kumpul sama kita. Tunggu waktunya aja, siapa tahu nanti Shela bosen dan sadar kalau berpacaran sama Parto adalah suatu musibah.. dia pasti cepat-cepat mutusin Parto." Otomatis Seno ngakak karena ucapan Beni.
"Lambemu koyoke njaluk diteplok kletong sapi yo Ben, konco kok ngono men kowe ki!" (Bibirmu kayaknya minta dilempar eeq sapi ya Ben, temen kok gitu banget kamu ni!)
__ADS_1
"Bilang aja kalau sebenarnya kamu iri," Lanjut Parto yang disertai gelak tawa Seno.
"Aku iri? sama kamu? Ehem.. maaf To, aku kedip aja janda langsung klepek-klepek. Para perawan berebut antrian buat tak pacarin, lha kok bisa kamu bilang aku iri, ada yang perlu diluruskan di sini To." Ternyata Beni memang cocok jadi saudara ipar Ardiaz, tingkat PD nya unlimited sekali.
"Janda? siapa? Mela yang kamu maksud hmm? Dia masih jadi istrinya si keriting itu Ben. Eh Sen, cuba copotin spion motormu bentar bawa ke sini.. biar bisa di pakai Beni buat ngaca!"
Asli makin ngakak lah Seno. Karena konyolnya kedua temannya itu.
"To, dari tadi Seno ngakak mulu.. tadi udah disuruh minum obat apa belum?" Sasaran bully berpindah.
"Blebekne wae kui wong neng bak ngarepmu kui, gondokno ancen selot suwe!" (Tenggelamkan aja itu orang ke empang depanmu itu, ngeselin emang lama-lama!). Jawaban nyeleneh dari Parto.
Sore itu mereka lewati dengan candaan gaje ala mereka sendiri, hanya ingin melepas penat masing-masing itulah tujuan berkumpulnya trio somvlak itu.
"Kalau dibikin pilem ya Ben, judul kisah cinta mbak Lulu itu kek gini.. 'Jodohku datang nunggu adikku ditusuk orang'." Parto mulai menghalu.
"To kamu kok pinter!" Lagi-lagi Seno ngakak.
"Ngomongin mbak Lulu terus aku tak pamit pulang duluan ya, ini pasti ibuk udah ngomel-ngomel. Lha wong aku pergi enggak bawa hp," Beni berdiri. Berniat mau pulang karena sadar di rumah pasti banyak pekerjaan yang butuh tenaganya.
__ADS_1
"Ealah Ben, minta disunat ulang kamu ya? Pasti ibu kamu cemas sekarang ini, ya udah sana pulang dulu siapa tahu ada tugas ndeplok gemblong." (menumbuk gemblong, gemblong adalah sejenis kue tradisional yang terbuat dari ketan dan kelapa)
Setelah Beni pergi dari lokasi itu, tinggallah Parto dan Seno yang sekarang ada di dalam rumah. Udah masuk ke rumah mereka gaess, mereka enggak mau kegiatan unfaedah mereka nongkrong di bawah pohon sawo di pinggir empang membawa mereka masuk rumah sakit. Lha kenapa? Nyamuknya banyak. Udah itu aja penjelasannya.