Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Beni Bukan Bambang


__ADS_3

Di tengah ruang tamu yang sekarang di penuhi orang, Beni seperti seorang pesakitan yang menunggu menerima hukuman yang akan di berikan.


"Jadi begitu pak.. Mas Beni ini yang tadi nolong anaknya bapak, tapi malah mbak Virza ngira mas Beni adalah pacarnya yang dulu ninggalin dia." Jelas warga yang membantu menjelaskan duduk permasalahannya.


"Maaf ya mas Ben, Virza memang agak tertekan batinnya setelah kejadian sebulan yang lalu." Bapak Virza ingin sekali melupakan kenangan buruk itu, dimana putrinya dulu gagal naik ke pelaminan. Semua itu gara-gara kekasih Virza yang dengan sengaja mengurungkan niatnya untuk mempersunting Virza.


"Lalu apa hubungannya denganku pakdhe?" Beni berani mengeluarkan suaranya juga.


"Ya bapak juga enggak tahu mas Ben, mungkin Virza melihat kalau mas Ben ini mirip dengan pacarnya yang bajing_an itu!" Lah. Dikata mirip sama bajing_an kamu Ben, rasakno!


"Mirip apa pak? Wajahku ini limited edition lho. Ayah ibuku cuma nyetak orang kayak aku ini ya sebiji aja. Aku punya saudara tapi cewek. Kami enggak ada mirip-miripnya. Lha kok bisa ada orang yang mirip sama aku, enggak mungkin ayahku nanam saham berceceran pakdhe!" Perkataan Beni malah membuat beberapa orang di ruangan itu tersenyum. Bahkan ada yang tak mampu menahan tawanya.


Dan dimana Virza berada? Dia ada di kamar, ibu dan saudaranya sedang membuatnya tenang. Karena setelah sampai rumah tadi, Virza terus-menerus bilang kalau Beni harus tanggung jawab.


"Pakdhe.. anaknya bisa nyampe tertekan batinnya itu karena apa? Masa hanya di tinggal nikah aja bisa sampai segitunya?" Beni berani bertanya ketika beberapa warga yang tadi menggiringnya sampai di rumah Virza sudah pada pergi. Dia juga perlu tahu alasan Virza yang terus-terusan memintanya untuk bertanggung jawab.


"Maaf mas Ben, bapak juga enggak tahu. Tapi, sebelumnya bapak mau ucapkan terimakasih atas bantuan mas Ben kepada anak bapak ya!"Beni merasa bapak RW ini sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi, ya udah.. itu bukan urusannya. Dan seperti mendapat kesempatan agar segera pergi dari rumah pak RW, Beni sesegera mungkin pamit. Namun saat dia mau menghidupkan motornya, Virza yang tadi ada di kamar berlari keluar dan merebut kunci motor yang sudah menempel di tempatnya.


"Apa lagi ini?" Lirih Beni. Memutar bola matanya malas.


"Kamu enggak boleh pergi! Kamu harus nikahi aku sekarang!" perkataan Virza membuat Beni melongo. Yang bener aja sih, ini orang sebenernya kenapa?


"Jangan gitu Za, ini bukan si Bambang mantanmu yang dulu ninggalin kamu!" Cegah bapak RW selaku ayahnya Virza.


Pak RW mencoba mengambil kembali kunci motor Beni dari tangan putrinya, tapi Virza malah makin teriak histeris, jejeritan seperti orang kerasukan. Terus meminta Beni bertanggung jawab, Beni yang masih enggak ngerti dengan semua ini dan tingkah Virza yang mungkin bisa dibilang sangat totalitas saat meminta Beni bertanggung jawab jadi maju dan menghampiri Virza.

__ADS_1


Beni memegang tangan Virsa, menariknya ke dalam pelukan. Entah apa yang akan bapaknya Virza pikirkan nanti, Beni bodoh amat. Tangan Beni merayap ke tangan Virsa yang masih menggenggam kunci motornya, mengeratkan pelukannya, dan mencoba menyatukan jemari tangannya ke jemari Virza. Dan.. genggaman tangan Virza yang tadi sangat erat memegang kunci motor Beni, segera mengendur. Kesempatan itu Beni gunakan untuk mengambil kunci motornya. Elah... jebul kui (ternyata itu) strategi Beni agar bisa mengambil kunci motornya kembali.


"Kamu ingin aku tanggung jawab?" Bisik Beni yang telah mendapatkan kembali haknya.


"Iya!" Seperti terlena dengan pelukan Beni, Virza hanya berucap sepatah kata aja untuk menjawab pertanyaan Beni.


"Dengan cara apa?" Tanya Beni lagi. Mengendurkan pelukannya, menatap mata Virza lekat-lekat.


"Kamu harus nikahi aku! Jangan tinggalin aku lagi!" Virza seperti terhipnotis oleh pandangan teduh yang Beni berikan untuknya.


Dalam hati Beni ingin segera kabur dari situasi ini. Yang benar saja, tiba-tiba dia diminta pertanggung jawaban atas hal yang dia sendiri tidak tahu menahu seluk beluknya. Meski Beni seorang jomblowers tapi, dia juga memilih target sebelum mendaratkan hatinya. Harus ada kisah cinta manis yang terajut terlebih dahulu sebelum dia memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi gadis yang dia pilih nanti.


"Virza.. kamu tahu siapa aku? Kamu serius ingin aku nikahi kamu?" Beni mengelus pipi kanan Virza dengan lembut. Semua adegan yang mereka lakukan saat ini masih menjadi tontonan pak RW dan istrinya. Jadi ayah dan ibu Virza lihat saat anaknya dibaperin abis-abisan sama Beni? Iya, seperti itulah kenyataannya.


Virza menyipitkan matanya, membuat pandangan matanya semakin jelas. Dan yang nampak olehnya saat ini bukan mas Bambang mantan pacarnya, melainkan orang lain yang dia sendiri enggak tahu siapa. Secepat kilat Virza memundurkan langkahnya, kaget dan bingung semua menjadi satu.


"Bukan." Singkat, padat, jelas.


Virza kembali menangis, berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di balik lutut. Seperti anak kecil yang kehilangan permen, begitulah posisi Virza saat ini. Kedua orang tua Virza mendekati anaknya, mengusap punggung Virza untuk memenangkan derita batinnya.


"Pak.. Bu.. aku pamit pulang ya," Beni berusaha masa bodoh dengan permasalahan keluarga kecil itu.


Setelah pamit pulang, Beni benar-benar pergi meninggalkan rumah pak RW. Meski di dalam hatinya dia masih penasaran dengan kisah Virza. Tapi, ya udah lah..


...----------------...

__ADS_1


Lelah mengendarai motor, Beni mengarahkan motornya ke rumah Seno. Kebetulan si pemilik rumah baru saja menyelesaikan tugas mulia yang sangat penting untuknya. Apa itu? Jemur baju!


"Tumben.." Beni langsung nyelonong ke dalam rumah Seno, tanpa memperdulikan si pemilik rumah yang masih sibuk nenteng ember.


"Tahu kamu mau nyuci, aku tadi ke sini bawa baju sama celana kotorku Sen," Langsung merebahkan diri di sofa panjang yang biasa Beni tiduri setiap nyatroni rumah Seno.


"Bawa aja ke sini. Biar aku bakar!" Ucap Seno melempar minuman kaleng ke arah Beni.


"Njiiiir untung enggak kena aset berhargaku!!" Minuman itu jatuh di atas perut Beni.


Seno nyengir aja, aslinya dia pengen lemparin tuh kaleng tepat 'ke sana' tapi Seno masih berbelas kasih kepada 'masa depan' Beni rupanya.


"Sen.. kamu tahu, aku tadi abis main drama sama anak pak RW kampung sebelah." Beni menaruh tangan kanannya di kening. Sambil mengingat kejadian tadi. Tersenyum dong dia? iyalah.


"Drama apa? Maling Kondang? Ratapan kekasih tiri? Derita pacar tak dianggap?" Seno cuek aja.


"Heeeeh sembarangan! Bukan lah.. aku disuruh anak pak RW nikahin dia."


"Hah? Seriusan?" Seno mulai tertarik dengan info yang Beni sampaikan.


"Iya serius.. Sampai nangis-nangis itu orang maksa aku nikahin dia!" Bangga banget.


"Kamu apain anak pak RW nyampe segitunya sama kamu?" Merubah posisi duduknya.


Beni menceritakan kejadian secara detail sedetail detailnya! Membuat Seno akhirnya ngakak tanpa jeda. Seno tak habis pikir ternyata Beni punya wajah yang pasaran!

__ADS_1


"Kenapa kamu enggak iyain aja waktu tuh cewek maksa minta dika_winin? Mayan Ben enggak usah nyari jodoh nyampe botak hahaha!"


"Masalahnya dia langsung sadar kalau aku bukan si Bambang mantan pacarnya itu, kan suwee!!" Makin ngakak lah Seno karena cerita Beni.


__ADS_2