
Beni: La.. Parto di klinik.
Ucap Beni setelah Shela mengangkat teleponnya.
Shela: Klinik? Kenapa? Klinik mana?
Setelah menjelaskan dan memberi tahu letak klinik yang saat ini merawat Parto, Shela buru-buru menutup teleponnya.
"Udah Ben?" Tanya Seno menoel pundak Beni.
Beni enggak jawab. Dia mengembalikan ponsel Seno yang dia pakai untuk menghubungi Shela tadi.
Keduanya terdiam, menunggu perawat yang sedang menangani Parto. Waktu bergulir cepat, Shela sudah sampai di klinik. Dengan rambut di ikat asal, tanpa make up, menggunakan sandal jepit kebanggaan sejuta umat, Shela sedikit berlari menghampiri Seno dan Beni.
"To ndi?" Tanya Shela ngos-ngosan.
"Tuh di dalem." Seno menunjuk dengan dagunya.
"Aku ke dalem boleh?" Shela kembali bertanya.
Beni mengangguk aja. Setelah itu Shela segera merangsek masuk ke dalam ruang rawat tempat Parto berbaring.
Nampak Parto masih terpejam, keningnya di perban, di atas telinga kanannya juga, saat Shela mendekat.. dia melihat kemeja yang Parto pakai sedikit terbuka. Hal itu karena di dada kanan Parto juga ada lebam yang membiru. Tangan Parto juga banyak goresan luka.
__ADS_1
"Keterlaluan! Kamu bener-bener keterlaluan! Kamu lebih milih sakit nyampe kayak gini daripada nurutin kata-kataku? Emang kenapa kalau kepergok warga kamu nginep di rumahku, dan kita cuma berdua? Seanti itukah kamu sama aku? Kamu lebih mentingin omongan tetangga daripada keselamatanmu sendiri! Bangun kamu! Kalau enggak bangun, kita batal nikah aja! Aku enggak bisa nikah sama kamu yang enggak ngertiin aku. Enggak hargai keputusanku, hanya keinginan kecil aja kamu abaikan.. sepertinya kita enggak bisa sama-sama!!" Shela berjalan mundur. Padahal dia baru saja masuk ruangan itu, tapi kakinya dia arahkan untuk keluar.
"La..." Masih dengan mata tertutup, Parto menyebut nama Shela. Shela berjalan mendekat kembali.
"La..." Ucap Parto sekali lagi. Suaranya terdengar lirih. Entah sedang bermimpi atau apa, saat ini kening Parto bercucuran keringat.
"Iya To," Mengusap keringat di kening calon imamnya. Parto menggerakan tangannya ke dada kanan, membuka matanya perlahan, lalu menyentuh tangan Shela yang masih ada di keningnya.
"Kenapa? Sakit banget ya?" Tanya Shela ikut memegang dada Parto.
"Jangan ngomong kayak gitu lagi, bukan fisikku yang sakit tapi hatiku La..." Tangan Parto gemeteran. Sepertinya dia sedang menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Kamu mau minum?" Tanya Shela yang melihat Parto memejamkan matanya,
"Tidur lagi ya, aku di sini.." Shela hampir menangis melihat kondisi Parto yang seperti itu. Meski enggak pernah mengungkapkan tapi, buat Shela, Parto udah sangat berarti untuknya.
Mencoba untuk tersenyum, meski raga sedang remuk redam.. Parto mencoba mengatakan kalau dia baik-baik aja.
"Istirahat atau aku pulang? Aku pastiin enggak bakal ke sini kalau kamu masih ngeyel enggak mau dengerin omonganku!" Ancaman Shela berhasil membuat Parto kembali memejamkan matanya.
Beni masuk ke ruangan itu, menyerahkan bubur ayam untuk Shela. Tapi, Shela menggeleng. Tanda menolak makanan dari Beni.
"Enggak aku kasih racun! Makan gih!" Beni tahu Shela saat ini cemas luar biasa. Sangat jelas terlihat dari raut mukanya.
__ADS_1
"Aku aja belum mandi, belum cuci muka, udah mok sodorin makanan. Enggak ketelen Ben."
"Buburnya enggak bakal protes, yang makan dia itu udah mandi apa belum, yang bubur ini tahu.. saat dia masuk ke lambungmu, dia bisa bikin kamu kembali semangat, punya tenaga buat jagain Parto. Dan tugas si bubur selesai saat kamu ucapkan Alhamdulillah setelah menghabiskannya!" Beni meletakan bubur di meja samping tempat tidur pasien.
"La.. kamu tahu, saat Parto dapet pesan dari kamu agar dia berkunjung ke rumahmu, dia seneng banget. Aku sama Seno ada di sana saat itu. Dia buru-buru berangkat dengan semangat, padahal tadinya dia baru mau makan tapi langsung dia tinggal.. katanya takut kamu nunggu lama,"
Shela mendengar cerita Beni. Mereka duduk agak jauh dari tempat tidur Parto.
"Jadi dari siang dia belum makan?" tanya Shela tak kuasa menahan sesak di dadanya. Kenapa waktu di rumahnya, Shela enggak ngajak Parto untuk sekedar makan.
"Dari pagi lebih tepatnya, kerjaan di bengkelnya banyak banget. Aku sama Seno udah bantuin aja masih kewalahan."
"Astaghfirullah.. kok kelian biarin dia nyampe enggak makan?"
"La.. Parto sama Seno itu hampir mirip kalau masalah kerjaan. Mereka betah enggak makan kalau udah spaneng sama kerjaan. Hanya satu yang buat mereka mengalihkan fokusnya. Yaitu pacarnya masing-masing. Terbukti kemarin waktu semua kerjaan udah beres dan Parto mau makan, di waktu bersamaan kamu nyuruh dia agar ke rumahmu.. saat itu juga dia pergi. Tanpa peduli perutnya udah diisi atau belum sejak pagi."
Asli, Shela merasa bersalah banget saat ini. Dan dia tahu, saat Parto sampai di rumahnya, Parto harus menunggu empat jam untuk dibukakan pintu. Menunggu di tengah guyuran hujan deras, dan malah menyerahkan jaket yang dia kenakan saat mereka bertemu.
Sedikitpun enggak bahas atau tanya udah makan belum, dia merasa jadi cewek yang kurang peka. Mungkin malah enggak peka sama sekali.
"Udah di makan dulu buburnya! Aku keluar dulu ya,?!" Beni beranjak dari tempat duduknya.
Mana bisa aku makan.. saat tahu dari kemarin kamu bahkan enggak makan apapun, kamu jatuh dari motor kayak gini karena enggak mau nginep di rumahku. Karena jika kamu nginep di sana, pasti aku yang akan di cap jadi cewek enggak bener karena udah ngajak kamu tidur di rumah sebelum kita menikah.. itu kan maksud kamu? Dan bodohnya.. aku malah mikir kalau kamu enggak bisa hargai aku! Kamu seenaknya sendiri, dan semua itu salah. Aku yang salah karena berpikir seperti itu!
__ADS_1
Air mata jatuh di pipi putih Shela. Saat ini ingin sekali Shela memeluk erat lelaki yang sedang memejamkan matanya itu. Beristirahat karena perintahnya, dan meski keadaannya seperti sekarang ini, Parto masih bisa membuat Shela merasa istimewa dengan selalu menuruti apa yang dia inginkan.