Kisah Tentang Kita

Kisah Tentang Kita
Nakalnya Kamu


__ADS_3

Shela melihat jam dinding, pukul 09.30. Gila. Udah sangat siang untuk ukuran seorang Shela bangun dari tidurnya. Enggak langsung bangkit, Shela mengingat kembali malam panjang antara dirinya dan Parto semalam. Senyum terukir di wajah ayu Shela, meski kelelahan nampak jelas di sana.


Gerakan pertama yang Shela lakukan adalah menengok sisi kanannya, tepat suami semalam berbaring di sana. Tapi, kemana dia? Tak ada seorangpun di ranjang kecuali dia.


Udah kepalang tanggung, mau bangun juga badan sakit semua..


Shela meraih guling, tanpa ada niat untuknya memakai kembali penutup diri. Dia malah ingin melanjutkan tidurnya. Pintu kamar terbuka saat dia baru memejamkan kembali matanya.


"Maaf ya La.. Kamu sampai kecapean kayak gini,," Parto mengecup kening istrinya. Selimut yang tersingkap memperlihatkan hasil karyanya di dua bukit tak berbunga, membuat Parto kembali menelan salivanya.


Aku harus menahan diri, sampai sekarang aja Shela belum bangun. Mungkin dia sangat kecapean dan lemes karena aku yang berlebihan semalam.


Sedangkan Shela, dia yang sebenarnya enggak tidur itu malah makin membuat Parto tertantang dengan gerakan yang membuat separuh selimut itu meluncur jatuh ke bawah. Terpampanglah kembali sesuatu yang semalam membuat Parto merem melek karena keenakan.


Nalurinya untuk 'memasuki' udah kembali on tapi Parto tahu diri. Ini bukan saat yang tepat untuk berbuat hal itu. Dia lebih memilih mengambil kembali selimut istrinya yang jatuh ke lantai dan memakaikan kembali agar tubuh polos istrinya kembali tertutup.


"Maaas.." Suara serak Shela membuat Parto yang beranjak dari tempat tidur jadi melihat lagi ke arah istrinya.


"Udah bangun?" Tanya Parto mengusap pipi Shela dengan lembut.

__ADS_1


"Maaf ya.. aku semalam keterlaluan, sakit ya?" Parto menarik Shela kedalam pelukannya. Shela nurut aja, setiap sentuhan Parto juga udah menjadi candu buat Shela.


"Kalau enggak sakit ya aneh mas.. Wajar lah kalau sakit.. aku masih tersegel dengan aman. Sampai segel itu kamu bobol tanpa ampun." Shela tersenyum manja saat tangan Parto merayap menyentuh telinga kanannya.


"Kamu bikin juga di leherku mas?" Shela bertanya, tanpa ada niatan menutupi dadanya yang terpampang tanpa pengaman. Benar-benar tanpa penutup apapun. Membuat Parto langsung mengarahkan pandangannya pada daerah itu.


"Enggak.. Lehermu aman, yang enggak aman ya ini..." Kembali Parto melakukan ciuman di area tak tertutup tadi. Membuat Shela mendongakan kepalanya. Menaruh kedua tangannya di kepalanya Parto.


"Maaasss.." Shela memejamkan mata, hanya itu yang dia lakukan. Tanpa mau melarang, tanpa punya niatan untuk mencegah karena dirinya adalah milik Parto seutuhnya.


Sedang dalam posisi 'minum susu' langsung dari pabriknya, Parto dan Shela dikagetkan dengan ibu yang tiba-tiba masuk ke kamar yang tadi pintunya tidak ditutup oleh Parto. Ibu mundur dan menutup pintu kamar Shela, meski keduanya langsung menghentikan segala ritual tadi.


"Maaf.. aku kira udah tak tutup tadi, mau kemana? Sakit banget ya nyampe gemeteran gini?" Parto membantu istrinya berdiri.


"Ya sakit... kan masih ori, belum pernah ada yang nyentuh, kamu orang pertama yang lakuin tindakan pelecehan pada setiap bagian tubuhku! Masih inget rasanya kan?" Shela tersenyum saat melihat Parto salah tingkah.


"Apanya yang pelecehan?? Jangan ngawur.. Asli kamu nackal banget, minta di hmm lagi apa?" Parto mengambilkan pakaian Shela yang ada di dalam lemari.


"Jangan sekarang, udah siang.. buat jalan aja sakit. Apa punyamu enggak sakit? Masa cuma aku aja yang ngerasain sakit.. mana adil!" Shela mengambil handuk yang Parto berikan padanya. Membelitkan handuk itu untuk menutupi sebagian tubuhnya yang telah dilukis oleh bibir Parto dengan banyaknya kiss mark di sana sini. Shela berjalan perlahan sambil berpegangan pada dinding kamarnya.

__ADS_1


"La.." Shela menoleh ke belakang. Tanpa menunggu jawaban, Parto melayangkan sebuah ciuman menyambut paginya, yang sebenarnya udah hampir siang. Memberikan sensasi seperti di kebun strawberry, membangun mood yang baik untuk mengawali hari.


"Eeeeeuuuh" Lenguh Shela saat lilitan handuknya terlepas, memperlihatkan semua bagian tubuhnya tanpa penutup. Tangan Shela bukan ingin menutupi bagian terlarangnya, malah dia kalungkan tangannya ke leher sang suami. Membuat Parto ingin 'menakali' istrinya sekali lagi.


"Jangan sekarang mass.." Saat mulut Parto sudah berada di ujung bukit favoritnya, menyesapnya, menikmati benda yang nantinya tak dapat lagi dia rasakan saat sudah memiliki baby. Parto tersadar, ini udah siang.. apa jadinya kalau jam segini dia dan Shela tetap menciptakan suara-suara yang membuat gerah siapapun yang mendengarnya.


"Ehem... maaf La.. aku enggak bisa nahan diri.." Parto mengontrol suaranya.


"Sebenarnya aku suka saat kamu enggak bisa nahan diri kayak gini, tapi, bukan sekarang.." Tak kalah serak.. suara Shela membuat otak Parto selalu berpikir ke arah sana.


"Suara kamu serak banget dek.." Parto mengecup kening istrinya. Mengambil lagi handuk yang tadi sempat terjatuh, dan melilitkan ke tubuh istrinya.


"Karena kamu bikin aku karaoke sepanjang malam sayaaang.. Makanya suaraku habis, kamu ingat saat aku minta jeda tapi kamu masih aja semangat mompa?" Shela tersenyum nakal.


"La.. kamu ini kok makin pinter buat aku kicep, sini aku gendong kamu buat ke kamar mandi.." Parto mengangkat tubuh istrinya. Otomatis tangan Shela mengalung di leher suami, bukan Shela kalau dia enggak usil. Dia menyembunyikan wajahnya di belakang leher Parto sebelum lelakinya itu membuka pintu kamarnya. Dengan nakal.. dia menyesap leher Parto, tepat di bawah telinga kanan suaminya itu. Alhasil munculnya tanda kepemilikan baru yang sangat jelas dan tampak nyata bertengger di sana.


"Aaaach Laaaa.." Parto tak bisa menahan suara itu keluar dari mulutnya.


"Ucapan selamat pagi dariku suamiku.. Aku sayang kamu!" Bisik Shela tepat di telinganya, membuat semua bulu yang ada di badan Parto berdiri.

__ADS_1


__ADS_2