
Perjalanan cinta Beni berakhir, akhirnya dia memilih Virza sebagai sandaran hatinya. Tulang rusuk yang selama ini dia cari ternyata datang sendiri dan memintanya bertanggung jawab di awal pertemuan mereka. Lucu memang, karena Virza juga dulu sempat berucap hanya gadis enggak waras dan udah putus asa aja yang mau menjadikan Beni tambatan hati. Ternyata dia lah orang enggak waras dan putus asa itu, makanya gaess jangan suka ngutuk orang, ngata-ngatain yang enggak baik karena semua ucapan yang keluar dari bibir maupun jempolmu itu akan di aminkan oleh malaikat di samping kanan dan kirimu. Apapun yang keluar dari lisanmu adalah gambaran dari dirimu sendiri, doa baik maupun buruk akan kembali pada diri sendiri!
Hari ini adalah hari penting untuk Beni, setelah perjalanan panjang kisah cintanya akhirnya dia bisa duduk dengan gagah di pelaminan bersama Virza. Lega? Tentu.. Meski akan banyak hati yang krek karena keputusannya mempersunting Virza tapi, langkahnya mantap untuk menuju pelaminan. Kok bisa banyak hati yang patah? Siapa? Kenapa?
Ya para mantan Beni, buat mereka nama Beni atau Beben sulit untuk dilupakan. Mela, dan Wanda contohnya, saat hari pernikahan Beni mereka hadir tapi dengan hati tersayat-sayat. Lebay ya? Mau gimana lagi, saat berpacaran dengan mereka Beni enggak pernah setengah-setengah dalam memberi perhatian dan menjadikan nama mereka ratu hatinya. Bukan Beni yang meninggalkan mereka, tapi mereka sendiri yang memilih pergi dari sisi Beni.
"Kok enggak sabar nunggu malem ya," Ucap Beni cengengesan. Virza mengambil kipas lipat di sampingnya dan memukulkan benda kecil itu ke pundak Beni, lelaki yang resmi menjadi suaminya.
"Enggak sopan, tamu masih segini banyak kok bisa-bisanya mikir ke arah sana." Jawab Virza tahu maksud ucapan Beni tadi.
"Nunggu enam bulan buat halalin kamu itu penantian panjang sayang, apa kamu enggak tahu gimana rasanya aku memendam inginku untuk sekedar nempelin bibirku ke bibir tipismu itu? Setelah malam itu, malam saat orang tuamu mergoki kita olahraga bibir bapakmu wanti-wanti banget supaya aku jagain kamu. Enggak boleh kontak fisik apapun, megang tanganmu aja langsung dapet lirikan mata membunuh dari bapakmu."
Virza tertawa geli mengingat kejadian enam bulan lalu, ya memang seperti itulah yang sesungguhnya. Beni ditantang untuk membuktikan kesungguhannya ingin mempersunting Virza, Beni menyanggupinya. Dan ada satu lagi syarat atau lebih tepatnya larangan yang diajukan bapak Virza kepada Beni. Selama janjinya itu belum bisa terpenuhi, dia belum bisa menjadikan Virza halal untuknya, bapak Virza melarang terjadinya kontak fisik apapun antara dirinya dan Virza. Kalau sampai hal itu dilanggar, kartu hijau untuk Beni akan langsung berubah jadi kartu merah!
Bukan tanpa alasan bapak Virza membuat pager kayak gitu untuk anak dan calon mantunya. Karena bapak Virza melihat sendiri gimana mereka sangat ahli dalam melakukan 'adu mulut' malam itu. Beliau enggak mau anak semata wayangnya terlalu jauh dalam mengeksplor diri!
"Satu hal yang aku minta mas, dan ini syarat mutlak dari ku buat mas Beni. Jaga Virza! Sebelum dia jadi makmum mu, jangan sekali-kali nyentuh dia. Lakukan apapun itu setelah kalian resmi menjadi suami istri! Bisa mas?!" Tegas, itulah kalimat yang keluar dari mulut bapaknya Virza waktu itu.
"Malah ketawa lagi.." Beni mengerucutkan bibirnya.
"Ya mau ngomong apa? Masa nangis hahaha"
"Iya iya sak karepmu, sak senengmu! Ketawa aja sekarang karena nanti malem ku bikin nangis-nangis kamu hahaha." Giliran Beni yang tertawa puas.
__ADS_1
"Buktiin aja!" Virza berbisik membuat Beni makin tertantang.
Kebahagiaan mereka tersalur kepada tamu yang ada di sana. Suasana bahagia sangat nyata terlihat di tengah hiruk pikuk orang-orang yang menjadi tamu undangan.
"To.. Shela mana?" Tanya Seno setelah mengambilkan minum untuk kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Indah.
"Tadi bilang mau ke belakang, kok lama ya?" Parto mencari sosok Shela yang tidak nampak dari tadi.
"Mas To gimana lho.. Mbak La kan lagi hamil besar harusnya ditemenin kalau mau kemana-mana! Nanti kalau dia butuh bantuan gimana? Atau kalau dia tiba-tiba mau lahiran gimana? Nyebelin banget sih! Cari mbak La sana!" Indah ketularan saudara iparnya, punya hobi baru. Ngomelin kakaknya!
Parto tidak menjawab, dia langsung berjalan membelah kerumunan manusia untuk mencari keberadaan istrinya. Benar juga kata Indah, minggu ini Shela memasuki HPLnya. Harusnya dia selalu ada di samping Shela untuk memberikan dukungan buat istrinya sebelum proses persalinan. Apa itu HPL? tanya Mbah Gugel aja!
"Jangan ngomel terus dek, kasihan kan mas To." Seno menggenggam tangan Indah.
"Bukan ngomel mas tapi, ngingetin tok kok!"
Malam hari tamu yang datang makin banyak, Beni menunjukan muka betenya! Sedangkan Virza selalu tersenyum, sesekali dia juga tertawa karena tahu kekesalan suaminya itu karena belum bisa 'bersilaturahmi' secara langsung dengan dirinya.
"Mereka ini bisa dateng besok aja enggak sih, apa perlu aku usir?!" Beni meneguk air mineral yang dia bawa.
"Ngaco! Itu kan tamu bapak, lagian itu ada mas dan mbak mu juga. Muka mu napa ditekuk gitu! Kayak nahan boker tau enggak! Hahaha.." Virza terus saja menggoda Beni.
"Bisa diem enggak, aku bukan nahan boker tapi nahan yang lain."
__ADS_1
"Eh dek, kita ke rumahku aja yuk!" Usulan tak masuk akal!
"Aku kok merasa salah pilih jodoh ya, tingkat kewarasan mu terkikis oleh nafsumu lho. Mbok ya sabar! Lagian enggak harus malam ini kan, besok juga bisa. Atau seminggu lagi.. masih banyak waktu sayang.. aku milikmu! Hanya milikmu, hmmm!?" Virza santuy aja.
"Mana bisa! Itu bukan malam pertama namanya, tapi minggu pertama! Enggak enggak.. aku enggak mau! Males lah nyalamin tamu, enggak kenal ini!" Beni makin syedeng pemirsah!
Virza makin ngakak karena tingkah lucu Beni.
Malam makin larut waktu menunjukan pukul 23.40, enggak ada lagi tamu yang datang. Rasanya seluruh lelah hari ini akan berkurang jika langsung menuju peraduan.
"Dek.. Kok tidur sih!" Beni memprotes Virza yang malah menutup mata setelah membersihkan diri dari kepenatan seharian ini.
"Ya udahlah dek..." Beni memilih masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Virza. Virza dan keluarganya merupakan keluarga tajir gaess enggak heran kalau punya kamar mandi di dalam kamar. Enggak kek othor mandinya numpang di wc umum hahaha!
Padahal baru tiga puluh menit yang lalu dia mandi, tapi karena kesal keinginan terpendamnya enggak kesampaian dia berniat untuk mandi lagi. Baru saja melepas bajunya, Beni dikagetkan oleh pintu kamar mandi yang terbuka. Virza masuk ke dalam.
"Mau ngapain mas?" Tanya Virza tersenyum memperhatikan suaminya yang cuek, Beni memilih menyalakan shower meski celana masih melekat di badannya. Kok Beni bisa tahu semua itu, emang pernah masuk ke kamar Virza? Iya pernah! Beberapa jam yang lalu setelah ijab qobul selesai, tim rias pengantin menggunakan kamar Virza untuk sesi ganti baju dan memperbaiki make up. Dari sana Beni tahu fasilitas yang tersedia di kamar istrinya ini.
"Mau dibantu lepasin celana enggak?" Tanya Virza mengerlingkan mata. Senyum langsung terukir di wajah Beni.
"Come to Daddy Beb!" Ucap Beni nakal menarik tangan Virza jatuh ke pelukannya!
ππππππππ
__ADS_1
*Banana Cacha.. Banana Cacha.. Eh kok nyanyi π€£, jadi itu terusane gimana? Ya udah... Mereka main basah-basahan di sana! Enggak ada penjabaran gitu? Enggak! Karena ini bukan novel +21. Yaaah kecewa ini semua reader!!
Bayangin aja Beni main uh ah sama Virza di tempat yang tak lazim itu untuk pertama kali, entah kepleset atau kepentok atau terjadi apa aja di sana kelian bebas berkreasi sendiri hahaha*!