
Indah mendengus kesal melihat Meisya yang langsung berdiri di samping Seno. Meski Seno sudah menjaga jarak tapi, Meisya tetap mendekatinya seakan enggak melihat ada Indah di sana.
"Aku pulang Mas," Ucap Indah melengos meninggalkan Seno dan Meisya. Seno diam? tentu tidak.. dia berusaha menahan Indah. Tapi, rasa jengkel Indah yang udah di ubun-ubun membuat Indah enggak peduli dengan Seno yang terus memanggilnya.
"Mas Seno.. tadi tasku udah ketemu Mas,"
Perkataan Meisya enggak digubris oleh Seno. Dia langsung menaiki motornya ingin segera meninggalkan tempat itu dan menyusul Indah. Meisya berlari kecil mendekati Seno,
"Mas mau kemana? Buru-buru banget.. Aku tadi kesini ngojek Mas, bisa minta tolong anterin aku ke konter tadi enggak? Motorku bannya bocor Mas.." Suara Meisya dibuat se memelas mungkin. Berharap Seno akan kasihan padanya.
"Maaf aku enggak bisa. Aku ada urusan lain. Dan cewek yang tadi kamu kira adikku itu, dia pacarku! Calon istriku!" Seno menatap tajam ke arah Meisya. Meisya tak gentar mendapat tatapan seperti itu dari Seno. Dia malah makin tertantang untuk mendekati Seno.
Meisya bukannya enggak tahu malu, tapi emang udah ilang rasa malu itu dari dalam dirinya. Dia sudah lama ingin dekat dengan Seno, dan akhirnya kesempatan itu datang.. dia enggak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Banyak hubungan yang berawal dari benci tapi malah langgeng kan? Dia juga berpikir seperti itu.. Seno cuek dan jutek ke dia karena belum terbiasa dengan kehadirannya.
Meski Seno udah bilang kalau dia udah punya pacar, emang kenapa? Lelaki yang punya istri lalu berpaling dari pasangannya dan memilih selingkuhannya aja banyak. Apalagi cuma di gertak dengan kata 'pacar' atau 'calon istri'. Meisya enggak peduli. Malah baginya, hal mudah buat dapetin hati Seno nanti karena saingan dia hanya seorang gadis tukang ngambek kayak Indah tadi.
"Kok Mas Seno tega sih.. terus aku gimana ini Mas? aku kira Mas Seno bakal peduli sama aku.." Meisya berakting sangat baik.
"Minggir! Aku enggak ada waktu ngurusi kamu, dan lagi kita enggak sedekat itu.. sampai aku harus peduli sama kamu!" Meisya tersenyum mendengar kata 'kita' yang terucap dari bibir Seno.
Meisya memberi jalan untuk Seno pergi. Sudah lebih dari cukup menahan Seno di sini agar menimbulkan kesalahpahaman baru diantara Indah dan Seno.
Aku yakin, diantara aku dan kamu pasti ada kata 'kita' Mas. Semua tinggal nunggu waktu sampai saat itu tiba.
Meisya mengambil hpnya, mengirim pesan dan melakukan panggilan telepon terus-menerus ke nomer Seno. Biar apa? Ada yang tahu? Agar saat bertemu dengan Indah nanti Seno sibuk dengan hpnya, dan perhatiannya teralihkan. Dan timbulah masalah baru. Wah gileee, emejing sekali Meisya ini. Tingkat kecerdasannya di atas manusia baik pada umumnya.
__ADS_1
Sampai di rumah, Indah dengan muka cemberut memilih langsung masuk kamar. Dia enggak mau bercerita tentang masalahnya kepada emak atau kakaknya. Akhir-akhir ini kakaknya, Mas To nya itu dia perhatikan juga muntel dengan masalahnya sendiri. Apalagi setelah dia melihat waktu kakaknya bertengkar di depan rumah dengan gadis yang pengantar kue beberapa hari lalu.
Dia sebenarnya kepo tapi, melihat kakaknya yang setiap pulang bekerja terlihat semprawut jadi enggak enak hati untuk sekedar menanyakan permasalahan kakaknya.
"Ndah.. kamu udah pulang? Emak tadi kan telepon kamu kok enggak di angkat," Emak memanggil Indah yang ada di dalam kamar. Keluar dari kamar dengan perasaan jengkel, Indah menghampiri emaknya.
"Dalem Mak.. iya orang hpnya di tas, ya Indah enggak denger Mak. Ada apa Mak?" Indah duduk di sebelah emaknya yang sedang napeni beras. (napeni itu memilih beras yang masih tercampur padi, dengan alat yang dinamakan tampah). Di desa Parto, masih banyak yang melakukan kegiatan napeni beras sebelum memasaknya menjadi nasi. Enggak langsung nyemplungin beras ke dalam mejikom.
"Kamu lupa ya, beliin token listrik! itu lho listrik kok bunyinya udah nat nut nat nut aja. Emak telepon kamu ndak di angkat, Parto juga sama aja. Mbuh nek ndi kui kakangmu.. nek oda kerjo kok oda sobo omah, (Entah kemana itu kakakmu.. kalau enggak bekerja kok enggak stay di rumah)!"
"Ya udah Mak.. tak belike aja ya," Indah menerima uang yang emaknya berikan untuk membeli token listrik.
Mengendarai motor menuju konter yang lumayan jauh dari rumahnya, Indah langsung menyampaikan maksudnya kepada penjaga konter di sana yaitu beli token listrik setelah sampai di konter itu. Pandangan Indah teralihkan dengan seorang gadis yang membuat hari dan hatinya panas saat ini.
"Eeh ada adiknya Mas Seno.. beli apa dek?" Tanya Meisya. Meisya pun tidak menyangka bisa bertemu Indah di sini.
"Beli token." Ucap Indah singkat.
Meisya tersenyum, dia mengeluarkan hpnya.
"Iieeh Mista, lihat deh.. Mas Seno kok bisa-bisanya kirim wa cuma tanda hati aja. Aku jawab apa ini.." Sengaja ya Meisya? iya sengaja biar dedek Indah makin meradang.
"Seno siapa Sya?" Tanya Mista teman Meisya yang jaga konter itu.
"Hahaha.. calonku,"
__ADS_1
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Meisya membuat Indah geram. Apa-apaan sih bilang kek gitu. Sabar ya Ndah.. puk puk puk.
"Mbak udah belum tokenku, aku buru-buru!" ucap Indah ketus.
"Ini Mbak.." Ucap Mista.
Indah yang akan meninggalkan konter itu malah di buat makin kesal dengan ucapan Meisya.
"Dek.. salam buat Mas Seno ya. Bilang sama dia lain kali enggak usah malu-malu kayak gini kirim gambar hati, orang aku juga tahu kalau hati Mas Seno cuma buat aku. Makasih ya..!"
Rasanya Indah ingin melempar basoka ke arah Meisya tapi, dia hanya berdehem menetralkan hatinya dan sedikit tersenyum ke arah Meisya.
"Iya Mbak.. nanti aku sampein, ada pesan lain lagi?"
"Hmm ada.. bilang aku cinta dia! sampein ya," Meisya makin ngadi-adi. Padahal dia juga tahu siapa itu Indah tapi, dia malah memperkeruh hubungan Seno dan Indah.
Kudu bilang sesuatu yang enggak sepatutnya dia ucapkan.. tapi, Indah hanya mengangguk dan berlalu pergi.
"Kamu ini, Seno itu siapa Sya? Beneran dia pacar kamu?" tanya Mista kepo.
"Belum Mis, belum jadi pacarku.. masih di jagain sama cewek yang tadi beli token sama kamu! Hahahaha.." Tawanya Meisya nyaris menyerupai lampir di kehidupan nyata.
"Astaghfirullah Meisya.. bisa-bisanya kamu ini, kesian itu nanti berantem mereka!" Mista enggak habis pikir sama jalan pikiran Meisya.
"Lah emang itu yang aku harepin hahaha"
__ADS_1
Fix kamu ediyan Sya.